Pintarly LogoPintarly
  • Belajar
  • Latihan Soal
  • Soal Asli
  • Pembahasan
  • Tryout
  • Komunitas
MasukDaftar GratisDaftar
Kembali ke Latihan
Soal Asli UTBK

Soal Asli SNBT 2017 LBI

Literasi Bahasa Indonesia (LBI)30 menit5 soal

Contoh Soal

5 dari 5 soal
1
Bacaan I (1) Nelayan di pantai selatan Kabupaten Kebumen memilih mencari lobster selama cuaca buruk melanda perairan itu. (2) Selain harganya mahal, biaya operasional nelayan juga tidak besar karena area tangkapan lobster hanya terletak di sekitar bukit-bukit karang tepi pantai. (3) Muslimin (45), nelayan Pantai Pasir, mengatakan bahwa masa panen lobster berlangsung pada saat gelombang laut tinggi menyebabkan nelayan tidak bisa melaut. (4) Dalam sekali tangkapan, paling sedikit nelayan membawa lobster 2 kg. (5) "Untuk sekali melaut, satu perahu bisa mendapat $ 4-5 \mathrm{~kg} $ , tetapi jika sepi hanya mendapat $ 2 \mathrm{~kg} $ . (6) Bahkan, beberapa perahu bisa mendapat $ 7 \mathrm{~kg} $ ," ujarnya. (7) Dia menuturkan bahwa pendapatan dari menangkap lobster juga lebih besar daripada ikan laut. (8) Satu kilogram bisa terjual Rp250.000,00 hingga Rp450.000,00. (9) Lobster merah dihargakan Rp250.000,00Rp350.000,00 per kg, lobster hijau Rp250.000,00-Rp450.000,00 per kg, dan lobster mutiara Rp600.000,00Rp1.000.000,00 per kg. (10) Eko Wardi (33), nelayan di Pantai Menganti, mengatakan bahwa selain nilai ekonomi lebih tinggi, jarak dan waktu tangkap lobster lebih pendek. (11) Biasanya untuk melaut, nelayan membutuhkan 20 liter solar, tetapi untuk mencari lobster, mereka hanya membutuhkan 3-4 liter. (12) Selain lobster, kata Eko, beberapa komoditi laut lainnya yang dapat dicari di daerah pinggir pantai adalah rajungan dan ubur-ubur.

Penulisan kata yang salah terdapat dalam kalimat ...

  1. A.(2)
  2. B.(4)
  3. C.(6)
  4. D.(11)
  5. E.(12)
2
Bacaan I (1) Nelayan di pantai selatan Kabupaten Kebumen memilih mencari lobster selama cuaca buruk melanda perairan itu. (2) Selain harganya mahal, biaya operasional nelayan juga tidak besar karena area tangkapan lobster hanya terletak di sekitar bukit-bukit karang tepi pantai. (3) Muslimin (45), nelayan Pantai Pasir, mengatakan bahwa masa panen lobster berlangsung pada saat gelombang laut tinggi menyebabkan nelayan tidak bisa melaut. (4) Dalam sekali tangkapan, paling sedikit nelayan membawa lobster $ 2 \mathrm{~kg} $ . (5) "Untuk sekali melaut, satu perahu bisa mendapat $ 4-5 \mathrm{~kg} $ , tetapi jika sepi hanya mendapat $ 2 \mathrm{~kg} $ . (6) Bahkan, beberapa perahu bisa mendapat $ 7 \mathrm{~kg} $ ," ujarnya. (7) Dia menuturkan bahwa pendapatan dari menangkap lobster juga lebih besar daripada ikan laut. (8) Satu kilogram bisa terjual Rp250.000,00 hingga Rp450.000,00. (9) Lobster merah dihargakan Rp250.000,00-Rp350.000,00 per kg, lobster hijau Rp250.000,00-Rp450.000,00 per kg, dan lobster mutiara Rp600.000,00Rpl.000.000,00 per kg. (10) Eko Wardi (33), nelayan di Pantai Menganti, mengatakan bahwa selain nilai ekonomi lebih tinggi, jarak dan waktu tangkap lobster lebih pendek. (11) Biasanya untuk melaut, nelayan membutuhkan 20 liter solar, tetapi untuk mencari lobster, mereka hanya membutuhkan 3-4 liter. (12) Selain lobster, kata Eko, beberapa komoditi laut lainnya yang dapat dicari di daerah pinggir pantai adalah rajungan dan ubur-ubur.

Penggunaan kata berimbuhan yang salah terdapat pada kalimat .....

  1. A.(1)
  2. B.(4)
  3. C.(7)
  4. D.(8)
  5. E.(9)
3
Bacaan 2 (1) Peringatan Hari Raya Galungan di Kabupaten Semarang berlangsung khidmat. (2) Umat Hindu di Bumi Serasi ini menggelar persembahyangan di pura dan candi yang ada di Kabupaten Semarang, seperti yang dilakukan belasan umat Hindu di Desa Asinan, Bawen, yang menggelar persembahyangan di Candi Ngempon, Kecamatan Bergas. (3) Ritual persembahyangan di Candi Ngempon ini memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Hindu yang cukup kental. (4) Mulai dari pakaian hingga rupa-rupa sesaji menjadi persembahan. (5) Para lakilaki terlihat memakai penutup kepala blangkon, berbaju surjan warna hitam, dan memakai bawahan berupa kain jarik (batik). (6) "Karena kami di Jawa, adat-adat Jawa kami pakai. (7) Sama seperti di Bali, ikat kepala dan bajunya itu bagian dari adat, umat apa pun memakainya," kata Pemangku Pura Tirtaloka, Dwi Yanto. (8) Sementara itu, sejumlah sesaji yang dibawa, menurutnya, merupakan warisan budaya sejak zaman Majàpahit. (9) Antara lain adalah daksina atau palinggihan (tempat duduk) bagi Yang Maha Esa dan tumpeng janganan sebagai perlambang permohonan kepada Sang Hyang Widhi agar diberi seger kuwarasan (segar bugar). (10) Tidak hanya itu, kidung mantra yang dinyanyikan dalam persembahyangan ini pun menggunakan bahasa Jawa. (11) Lebih jauh lagi, dalam memaknai hari raya Galungan ini juga menggunakan sudut pandang budaya Jawa.

Gagasan pokok bacaan di atas adalah ....

  1. A.ritual persembahyangan umat Hindu pada hari raya Galungan
  2. B.upacara Galungan di Semarang sebagai bentuk akulturasi budaya
  3. C.sudut pandang budaya Jawa dalam memaknai hari raya Galungan
  4. D.warisan budaya Majapahit dalam wujud upacara hari raya Galungan
  5. E.kekhidmatan peringatan hari raya Galungan di Kabupaten Semarang
4
Bacaan 2 (1) Peringatan Hari Raya Galungan di Kabupaten Semarang berlangsung khidmat. (2) Umat Hindu di Bumi Serasi ini menggelar persembahyangan di pura dan candi yang ada di Kabupaten Semarang, seperti yang dilakukan belasan umat Hindu di Desa Asinan, Bawen, yang menggelar persembahyangan di Candi Ngempon, Kecamatan Bergas. (3) Ritual persembahyangan di Candi Ngempon ini memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Hindu yang cukup kental. (4) Mulai dari pakaian hingga rupa-rupa sesaji menjadi persembahan. (5) Para lakilaki terlihat memakai penutup kepala blangkon, berbaju surjan warna hitam, dan memakai bawahan berupa kain jarik (batik). (6) "Karena kami di Jawa, adat-adat Jawa kami pakai. (7) Sama seperti di Bali, ikat kepala dan bajunya itu bagian dari adat, umat apa pun memakainya," kata Pemangku Pura Tirtaloka, Dwi Yanto. (8) Sementara itu, sejumlah sesaji yang dibawa, menurutnya, merupakan warisan budaya sejak zaman Majàpahit. (9) Antara lain adalah daksina atau palinggihan (tempat duduk) bagi Yang Maha Esa dan tumpeng janganan sebagai perlambang permohonan kepada Sang Hyang Widhi agar diberi seger kuwarasan (segar bugar). (10) Tidak hanya itu, kidung mantra yang dinyanyikan dalam persembahyangan ini pun menggunakan bahasa Jawa. (11) Lebih jauh lagi, dalam memaknai hari raya Galungan ini juga menggunakan sudut pandang budaya Jawa.

Simpulan bacaan di atas adalah ....

  1. A.kebudayaan Jawa digunakan sebagai dasar pelaksanaan upacara Hari Raya Galungan di Kabupaten Semarang
  2. B.ritual persembahyangan di Candi Ngempon merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya Jawa dan Hindu
  3. C.pada masa silam telah terjadi interaksi antara orang Jawa yang berkebudayaan setempat dan orang Hindu dari Bali
  4. D.akulturasi budaya, seperti halnya dalam upacara Hari Raya Galungan di Semarang, harus dipertahankan
  5. E.masyarakat beragama Hindu di Semarang masih mempertahankan tradisi hasil akulturasi Hindu dan Jawa
5
Bacaan 2 (1) Peringatan Hari Raya Galungan di Kabupaten Semarang berlangsung khidmat. (2) Umat Hindu di Bumi Serasi ini menggelar persembahyangan di pura dan candi yang ada di Kabupaten Semarang, seperti yang dilakukan belasan umat Hindu di Desa Asinan, Bawen, yang menggelar persembahyangan di Candi Ngempon, Kecamatan Bergas. (3) Ritual persembahyangan di Candi Ngempon ini memperlihatkan akulturasi budaya Jawa dan Hindu yang cukup kental. (4) Mulai dari pakaian hingga rupa-rupa sesaji menjadi persembahan. (5) Para lakilaki terlihat memakai penutup kepala blangkon, berbaju surjan warna hitam, dan memakai bawahan berupa kain jarik (batik). (6) "Karena kami di Jawa, adat-adat Jawa kami pakai. (7) Sama seperti di Bali, ikat kepala dan bajunya itu bagian dari adat, umat apa pun memakainya," kata Pemangku Pura Tirtaloka, Dwi Yanto. (8) Sementara itu, sejumlah sesaji yang dibawa, menurutnya, merupakan warisan budaya sejak zaman Majàpahit. (9) Antara lain adalah daksina atau palinggihan (tempat duduk) bagi Yang Maha Esa dan tumpeng janganan sebagai perlambang permohonan kepada Sang Hyang Widhi agar diberi seger kuwarasan (segar bugar). (10) Tidak hanya itu, kidung mantra yang dinyanyikan dalam persembahyangan ini pun menggunakan bahasa Jawa. (11) Lebih jauh lagi, dalam memaknai hari raya Galungan ini juga menggunakan sudut pandang budaya Jawa.

Kata itu pada kalimat (10) merujuk pada ....

  1. A.daksina dan tumpeng janganan
  2. B.pakaian warisan Majapahit
  3. C.perlambang permohonan kepada Hyang Widhi
  4. D.perlengkapan ritual persembahyangan
  5. E.rupa-rupa sesaji