Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo semuanya! Hari ini kita akan membahas Geometri Kesebangunan dalam materi Penalaran Matematika UTBK SNBT. Pernahkah kalian terpikir, bagaimana cara mengukur tinggi gedung tanpa harus memanjatnya?
Mari kita mulai dengan konsep dasar, yaitu perbesaran dan pengecilan. Jika kita punya bangun A dan diubah menjadi A aksen dengan dikali k, maka k adalah faktor skalanya.
Analoginya seperti bayangan dan foto. Bayangkan sebuah proyektor, gambar di layar memiliki bentuk yang sama dengan klise, tapi ukurannya berbeda. Inilah inti dari kesebangunan.
Prasyaratnya adalah memahami rasio dan sudut. Pertama, perbandingan atau rasio senilai a per b sama dengan c per d. Kedua, jumlah sudut segitiga adalah seratus delapan puluh derajat, dan ketiga, sudut-sudut yang bersesuaian.
Awas tertukar ya! Kongruen berarti bentuk dan ukurannya sama persis. Sedangkan kesebangunan atau similar, bentuknya sama namun ukurannya berbeda karena faktor skala.
Definisi kesebangunan adalah dua bangun dikatakan sebangun jika sudut-sudut yang bersesuaian sama besar dan sisi-sisi yang bersesuaian memiliki rasio tetap, yaitu a satu per a dua sama dengan b satu per b dua sama dengan c satu per c dua sama dengan k.
Mengapa ini berhasil? Karena struktur geometrisnya dipertahankan, hanya dimensi fisiknya yang berubah. Bayangkan saja kita sedang melakukan zoom in atau zoom out.
Pada kesebangunan segitiga, ada syarat sudut sudut sudut atau triple A. Jika ketiga sudutnya sama besar, maka otomatis kedua segitiga tersebut sebangun.
Selain itu ada syarat S S S yaitu sisi sisi sisi dengan rasio yang sama, dan S A S yaitu sisi sudut sisi, di mana satu sudut sama besar diapit dua sisi dengan rasio yang sama.
Perhatikan model segitiga dalam segitiga ini. Dengan garis sejajar, kita bisa melihat segitiga A D E sebangun dengan segitiga A B C, sehingga berlaku perbandingan sisi yang proporsional.
Contoh satu, menghitung tinggi pohon. Diketahui tinggi orang seratus enam puluh sentimeter dengan bayangan dua meter. Jika bayangan pohon lima belas meter, berapa tinggi pohon sebenarnya?
Solusinya, gunakan perbandingan tinggi pohon per tinggi orang sama dengan bayangan pohon per bayangan orang. H per satu koma enam sama dengan lima belas per dua. Diperoleh H sama dengan dua belas meter.
Contoh dua, mengukur lebar sungai. Kita gunakan posisi pohon A, patok B, dan patok C untuk membentuk segitiga siku-siku yang membantu visualisasi perbandingan.
Menggunakan perbandingan sisi dua segitiga siku-siku sebangun, L per x sama dengan p per q. Jika p sama dengan sepuluh, q sama dengan lima, dan x sama dengan delapan, maka lebar sungai L adalah enam belas meter.
Contoh tiga, foto dan bingkai. Bingkai berukuran empat puluh sentimeter kali lima puluh sentimeter. Sisa di kiri, kanan, dan atas adalah empat sentimeter. Jika foto dan bingkai sebangun, berapa sisa bagian bawahnya?
Lebar foto adalah empat puluh dikurang delapan yaitu tiga puluh dua. Perbandingannya, tiga puluh dua per empat puluh sama dengan tinggi foto per lima puluh. Tinggi foto didapat empat puluh, sehingga sisa bawah adalah enam sentimeter.
Contoh empat, bayangan lampu. Seseorang setinggi satu koma lima meter menjauh dari lampu setinggi enam meter. Jika bayangannya tiga meter, berapa jarak orang tersebut dari lampu?
Contoh lima, model trapesium SNBT dengan titik A, B, C, D, E, dan F. Garis E F membagi trapesium dan kita bisa mencari panjangnya dengan prinsip kesebangunan.
Kesimpulan pentingnya: satu, identifikasi segitiga yang sebangun. Dua, pasangkan sisi yang bersesuaian. Tiga, gunakan perbandingan atau rasio. Dan empat, pastikan semua satuan panjangnya sama.
Sukses untuk UTBK SNBT kalian! Teruslah berlatih soal penalaran matematika agar kalian semakin siap menghadapi ujian sesungguhnya.
Semangat belajar dan sampai jumpa di pembahasan materi matematika berikutnya!