Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo semuanya! Selamat datang di pembahasan sejarah. Hari ini kita akan membedah Masa Pemerintahan Liberal atau Era Demokrasi Parlementer yang berlangsung dari tahun seribu sembilan ratus lima puluh hingga seribu sembilan ratus lima puluh sembilan. Kira-kira, mengapa ya kabinet sering sekali berganti di era ini? Mari kita cari tahu!
Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pahami tiga istilah kunci. Pertama, Pemerintah adalah lembaga eksekutif yang menjalankan negara. Kedua, Liberal adalah sistem yang menjunjung tinggi kebebasan individu. Dan ketiga, Parlemen, di mana de-pe-er memegang kekuasaan tertinggi atas kabinet.
Latar belakang era ini dimulai dari perubahan bentuk negara er-i-es kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun seribu sembilan ratus lima puluh. Saat itu berlaku u-u-de-es seribu sembilan ratus lima puluh dengan sistem parlementer. Di sini, Presiden hanya sebagai Kepala Negara, sedangkan Perdana Menteri bertindak sebagai Kepala Pemerintahan.
Kabinet pertama adalah Kabinet Natsir yang dipimpin Mohammad Natsir. Programnya meliputi Gunting Sjafruddin dan Sumitro Plan. Keberhasilannya adalah membawa Indonesia masuk menjadi anggota pe-be-be. Namun, kabinet ini gagal dalam masalah Irian Barat yang buntu, hingga lengser akibat Mosi Hadikusumo atau mosi tidak percaya.
Kedua adalah Kabinet Sukiman di bawah Sukiman Wirjosandjojo dengan program Keamanan dan Kemakmuran. Prestasi besarnya adalah menasionalisasi De Javasche Bank. Sayangnya, kabinet ini gagal menangani pemberontakan dan lengser karena penandatanganan em-es-a dengan Amerika Serikat, yang dianggap terlalu condong ke Blok Barat.
Ketiga, Kabinet Wilopo yang dipimpin oleh Wilopo. Kabinet ini dikenal sebagai Zaken Kabinet. Program utamanya adalah persiapan pemilihan umum. Namun, terjadi kegagalan akibat krisis ekonomi dan Peristiwa tujuh belas Oktober. Kabinet ini akhirnya lengser dipicu oleh tragedi Peristiwa Tanjung Morawa.
Keempat adalah Kabinet Ali Sastroamidjojo pertama. Program ekonominya yang terkenal adalah sistem Ali-Baba. Prestasi monumentalnya adalah menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika atau ka-a. Kabinet ini jatuh karena masalah pimpinan te-en-i angkatan darat dan mundurnya menteri-menteri dari partai en-u.
Kelima, Kabinet Burhanuddin Harahap. Prestasi utamanya yang luar biasa adalah sukses melaksanakan Pemilihan Umum pertama tahun seribu sembilan ratus lima puluh lima. Mereka juga berhasil memberantas korupsi dan memperbaiki hubungan dengan te-en-i. Kabinet ini lengser karena tugasnya dianggap sudah berakhir setelah pemilu.
Keenam adalah Kabinet Ali Sastroamidjojo kedua dengan program Rencana Pembangunan Lima Tahun. Kabinet ini menghadapi kegagalan menangani pemberontakan pe-er-er-i per-mesta serta krisis perpecahan antara partai pe-en-i dan Masjumi. Lengsernya kabinet ini disebabkan oleh mundurnya menteri-menteri dari pihak Masjumi.
Terakhir adalah Kabinet Djuanda oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja. Berbentuk Kabinet Karya, prestasi terbesarnya adalah Deklarasi Djuanda pada tiga belas Desember seribu sembilan ratus lima puluh tujuh mengenai Wawasan Nusantara dan laut teritorial. Kabinet ini berakhir setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden lima Juli seribu sembilan ratus lima puluh sembilan.
Mari kita lihat contoh soal pertama. Apa ciri utama dari Zaken Kabinet? Pilihan A, didominasi partai besar. Pilihan B, diisi oleh para ahli atau pakar. Pilihan C, bentukan Presiden Sukarno. Jawabannya adalah B, karena kabinet ini diisi oleh tenaga ahli, bukan sekadar wakil partai politik.
Contoh kedua, kabinet manakah yang berhasil melaksanakan Pemilihan Umum pertama? Pilihan A, Kabinet Ali pertama. Pilihan B, Kabinet Wilopo. Pilihan C, Kabinet Burhanuddin Harahap. Jawabannya adalah C, karena Pemilu seribu sembilan ratus lima puluh lima resmi terlaksana di masa kabinet ini.
Contoh ketiga, penyebab jatuhnya Kabinet Sukiman adalah? Pilihan A, konflik internal te-en-i angkatan darat. Pilihan B, penandatanganan em-es-a dengan Amerika Serikat. Pilihan C, Peristiwa Tanjung Morawa. Jawabannya adalah B, karena tindakan tersebut dianggap melanggar politik luar negeri bebas aktif.
Contoh keempat, apa dampak penting Deklarasi Djuanda? Deklarasi ini menentukan batas laut teritorial Indonesia sejauh dua belas mil, yang menyatukan seluruh wilayah daratan dan perairan kita. Catatan penting, sebelumnya batas laut hanya tiga mil dari pantai mengikuti hukum peninggalan Belanda.
Contoh kelima mengenai urutan kabinet yang tepat. Urutannya adalah Natsir, Sukiman, Wilopo, Ali pertama, Burhanuddin, Ali kedua, lalu Djuanda. Untuk mempermudah menghafal, gunakan jembatan keledai singkatan EN-A, ES-U, WE-I, A, BE, A, J-U.
Mengapa kabinet di era ini sering jatuh? Alasannya karena sistem multipartai yang saling menjatuhkan di de-pe-er, adanya instrumen Mosi Tidak Percaya dari parlemen, egoisme partai yang mementingkan kelompok, serta adanya konflik antara pihak pemerintah dengan militer atau te-en-i.
Jika dibandingkan dengan era sekarang, dulu kita menganut sistem Parlementer di mana Perdana Menteri berkuasa, sedangkan sekarang sistem Presidensial dengan Presiden yang berkuasa. Dulu kabinet bisa jatuh hanya dalam hitungan bulan, sementara sekarang kabinet relatif stabil selama lima tahun.
Hati-hati jangan sampai tertukar ya! Salah jika menganggap ka-a terjadi di era Natsir, yang benar ka-a ada pada era Ali pertama. Juga jangan keliru, persiapan Pemilu dimulai di era Ali pertama, namun pelaksanaannya dilakukan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap.
Kesimpulan era liberal adalah sistem parlementer membuat kabinet sangat labil. Namun, kita tetap meraih prestasi seperti ka-a dan Pemilu seribu sembilan ratus lima puluh lima. Selain itu, wilayah laut kita menyatu via Deklarasi Djuanda sebelum berakhir dengan Dekrit Presiden lima Juli seribu sembilan ratus lima puluh sembilan.
Terus belajar dan raih u-te-be-ka impianmu! Bersama Aily Study, teman setia belajar sejarahmu. Sampai jumpa di video berikutnya!