Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernahkah kamu sadar, meyakinkan HRD agar kamu diterima kerja dan membuktikan sebuah novel itu jelek, ternyata butuh strategi menulis yang persis sama?
Coba lihat contoh nyata ini. Budi melamar ke perusahaan, dia nulis, Saya jago Excel tingkat lanjut dan pernah mengolah seribu data.
Klaim Budi tadi itu ngikutin struktur resmi surat lamaran. Mulai dari Tesis untuk posisi yang dilamar, lalu Argumentasi berisi skill dia, dan ditutup Penegasan buat harapan wawancara.
Nah, sekarang kita pindah ke dunia sastra. Kalau kritik, contohnya, Novel Bumi Manusia alurnya lambat di bab dua. Kalau esai, contohnya, Mengapa anak muda sekarang kurang suka novel sejarah?
Kelihatan bedanya, kan? Kritik itu menilai suatu karya secara objektif. Sedangkan esai itu membahas fenomena secara subjektif, berdasarkan sudut pandang penulisnya.
Meskipun beda objek, struktur kerangka penulisan kritik dan esai itu sama. Ada Pendahuluan untuk isunya, Isi untuk argumen, dan Penutup sebagai simpulan.
Hati-hati jebakan UTBK! Kritik sastra itu bukan sekadar nyinyir atau selera pribadi. Kritik wajib disertai bukti kutipan teks yang kuat.
Jadi, cara kerja nulis keduanya itu begini. Pertama riset data, lalu buat kerangka, dan terakhir tulis pakai bahasa baku.
Kesimpulannya, baik merayu HRD maupun mengkritik penulis, kamu nggak bisa cuma asal omong. Keduanya butuh argumen dan bukti yang terstruktur rapi!