Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernah kepikiran nggak, kenapa nama Proklamator kita ditulis 'Soekarno' pakai 'oe', bukan 'Sukarno' pakai 'u'? Hari ini kita bahas sejarah ejaan bahasa kita.
Titik awalnya tahun 1901, Ejaan Van Ophuijsen. Masih kental pengaruh Belanda. 'j' dibaca 'y', dan 'oe' dibaca 'u'.
Pasca merdeka tahun 1947, muncul Ejaan Soewandi. Bahasa mulai disederhanakan. 'Boekoe' resmi ditulis 'Buku', dan kata ulang boleh pakai angka dua.
Nah, hati-hati jebakan soal PPU! Sering ada opsi Ejaan Melindo tahun 1959. Ini batal diterapkan karena konflik politik, jadi bukan ejaan resmi.
Baru di tahun 1972, ada standarisasi besar lewat EYD. Huruf konsonan dirombak masif. 'Djakarta' jadi 'Jakarta', 'Tjinta' jadi 'Cinta'.
Bahasa terus beradaptasi. Dari PUEBI 2015 sampai EYD V 2022, fokusnya menambah elemen baru, seperti diftong 'ei' pada kata 'geiser'.
Trik ngerjain soal PPU urutan peristiwa: selalu garis bawahi kata penanda waktu seperti 'Pada 1901', 'Kemudian', atau 'Pasca kemerdekaan'.
Jadi, perubahan dari nama 'Soekarno' sampai ke EYD V membuktikan bahasa kita terus berevolusi. Selalu perhatikan penanda waktu di teks PPU-mu!