Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo teman-teman! Hari ini kita akan membahas cara menentukan simpulan antara pasti versus mungkin. Dalam soal Penalaran Umum atau P-U, kita sering diminta menentukan derajat kebenaran sebuah simpulan. Ingat, kuncinya adalah fokus hanya pada premis yang tersedia!
Ada tiga kategori yang perlu dipahami. Pertama, pasti benar, jika mutlak sesuai logika premis. Kedua, pasti salah, jika bertentangan langsung dengan premis. Dan ketiga, mungkin benar atau salah, jika informasinya tidak cukup atau bersifat opsional.
Perhatikan visualisasi logika ini. Lingkaran Q mewakili lulus seleksi dan lingkaran P di dalamnya mewakili nilai lebih dari delapan puluh. Logikanya, P panah Q, jika nilai lebih dari delapan puluh maka lulus seleksi. Jika Andi mendapat nilai sembilan puluh, maka simpulan Andi lulus berstatus pasti benar.
Pada kasus kedua, kondisinya adalah Budi lulus seleksi atau berada di area Q. Jika simpulannya Budi mendapat nilai lebih dari delapan puluh, maka statusnya adalah mungkin benar, karena Budi bisa saja berada di area Q namun di luar lingkaran P.
Mari lihat contoh soal. Premis satu, semua mobil listrik ramah lingkungan. Premis dua, kendaraan eks tidak ramah lingkungan. Simpulannya, kendaraan eks adalah mobil listrik. Berdasarkan aturan kontraposisi negasi Q panah negasi P, maka simpulan ini berstatus pasti salah.
Strategi menjawabnya: pilih pasti benar jika mengikuti modus ponens atau tollens. Pilih pasti salah jika melanggar premis, dan pilih mungkin jika di luar konteks. Ingat, abaikan pengetahuan umum dan gunakan hanya teks yang ada!
Teruslah berlatih logika ini dan sampai jumpa di video pembahasan berikutnya!