Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernah kepikiran nggak, kenapa tiap tahun ribuan anak Soshum rela berdarah-darah rebutan kursi Ilkom dan HI yang kuotanya cuma seupil, padahal jurusan lain peluang lulusnya jauh lebih besar?
Banyak yang kena jebakan ilusi. Mengira Ilkom cuma belajar ngomong atau bikin konten, dan HI cuma jalan-jalan ke luar negeri. Ini bikin yang malas hitung-hitungan pada ngumpul di sini.
Belum lagi ada invasi lintas jurusan. Anak IPA yang lelah dihajar Fisika dan Kimia, sering menjadikan Ilkom dan HI sebagai pelarian favorit, bikin antrean makin panjang.
Tapi di sisi lain, lulusan jurusan ini punya fleksibilitas karier yang tinggi. Tiap perusahaan, dari startup sampai BUMN, pasti butuh orang komunikasi. Mereka bisa masuk industri apa saja.
Ada juga efek kultur pop. Lihat influencer sukses atau drakor tentang diplomat, bikin jurusan ini kelihatan bergengsi banget buat gaya hidup Gen Z.
Tapi perhatiin realita kurikulumnya. Di Ilkom kamu tetap ketemu Statistik Komunikasi. Di HI, kamu bakal dihajar Teori Ekonomi Politik Internasional yang rumit. Nggak seindah mitosnya kan?
Jadi, Ilkom dan HI ketat karena campuran mitos kuliah santai, serbuan anak linjur, dan prospek kerja yang luas. Kalau mau rebutan kuota seupil itu, pastikan kamu siap realitanya, bukan sekadar ikut tren!