Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernahkah kamu berpikir kenapa jam kerja kita umumnya delapan jam sehari, bukan empat belas jam seperti zaman revolusi industri? Yuk, kita telusuri sejarah Psikologi Industri dan Organisasi atau PIO.
Pada awal tahun sembilan belas ratusan, tokoh seperti Hugo Münsterberg mulai meneliti masalah kerja. Misalnya, ia mengamati masinis trem yang sering kecelakaan karena kelelahan, dan dari situ merumuskan teori efisiensi.
Masuk era Perang Dunia Pertama, militer Amerika Serikat butuh menyeleksi jutaan tentara dengan cepat. Mereka pakai tes gambar Army Beta untuk tentara yang buta huruf. Inilah cikal bakal seleksi massal.
Tapi awas, ada jebakan! Jangan kira PIO itu cuma urusan HRD buat rekrut orang saja. PIO juga sangat peduli pada kesejahteraan mental dan emosional pekerja di kantor.
Buktinya ada di Hawthorne Studies tahun sembilan belas dua puluhan. Elton Mayo menemukan bahwa perhatian dari manajer ke pekerja jauh lebih penting meningkatkan produktivitas daripada sekadar mengubah terang-gelap lampu pabrik.
Lanjut ke Perang Dunia Kedua, muncul ilmu ergonomi. Contohnya, mendesain tuas kokpit pesawat dengan bentuk berbeda-beda, supaya pilot yang sedang stres tidak salah tarik tuas saat terbang.
Di era modern, PIO makin relevan. Ilmu ini meneliti fenomena kelelahan ekstrem atau burnout saat work from home, dan mencari cara mencegah kepemimpinan yang toxic di perusahaan.
Intinya, dari tes tentara massal hingga eksperimen lampu pabrik, PIO terus berkembang. Itulah kenapa sekarang kita bisa menikmati jam kerja yang manusiawi dan lingkungan kerja yang lebih baik!