Pilih jalurmu
Lebih spesifik
Pernah kepikiran nggak, kenapa sepotong daging sapi bisa hancur dicerna perutmu cuma dalam beberapa jam, padahal kalau dibiarkan di meja butuh berhari-hari? Jawabannya ada pada biokatalisator yang disebut enzim.
Bayangkan mendorong mobil melewati bukit tinggi. Pasti capek banget kan? Enzim itu ibarat terowongan yang menembus bukit, dia mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasi.
Sekarang kita bedah struktur enzim. Bayangkan sebuah senter. Bodi plastiknya yang besar itu ibarat Apoenzim, yaitu bagian utama yang terbuat dari protein.
Tapi senter kosong tidak bisa menyala tanpa baterai. Baterai ini adalah Kofaktor. Gabungan bodi dan baterai akan membentuk Holoenzim yang siap bekerja aktif.
Misal senter ini menyorot batu di depannya. Batu itu adalah Substrat atau reaktan. Cekungan lensa tempat batu menempel disebut Sisi Aktif.
Selain itu, ada tombol rahasia di gagang senter tempat pengatur menempel, ini yang dinamakan Sisi Alosterik.
Bagaimana cara enzim bekerja? Teori pertama adalah Lock and Key. Sisi aktif enzim itu kaku, persis seperti gembok yang hanya bisa dibuka oleh satu kunci spesifik.
Teori kedua adalah Induced Fit. Bayangkan sarung tangan karet yang awalnya longgar, lalu akan memeluk pas menyesuaikan bentuk saat jarimu masuk. Sisi aktif enzim berubah bentuk!
Awas jebakan! Banyak yang mengira enzim ikut hancur setelah bereaksi. Padahal, sama seperti kunci yang tidak hancur setelah membuka pintu, enzim bisa dipakai berulang-ulang.
Kesimpulannya, Holoenzim mengikat substrat di sisi aktif lewat mekanisme lock and key atau induced fit. Energi aktivasi turun, dan reaksi pun melesat cepat!