Kelas Frasa
Halo, Pejuang PTN. Setelah kelas kata beres, sekarang kita naik satu tingkat. Kata jarang berdiri sendiri di dalam kalimat. Ia biasanya berkelompok, dan kelompok itulah yang disebut frasa. Kemampuan mengenali frasa sangat menentukan di soal PBM, karena banyak pertanyaan tentang keefektifan kalimat, kesejajaran, dan makna ganda sebenarnya bertumpu pada satu hal, yaitu bagaimana kata kata itu berkelompok.
Bagian 1: Frasa, Klausa, dan Kalimat
Tiga istilah ini sering tertukar. Bedanya sebenarnya sederhana dan hanya bergantung pada satu pertanyaan: apakah di dalamnya ada pasangan subjek dan predikat.
- Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak mengandung subjek dan predikat. Contoh: rumah baru, sedang membaca, di halaman belakang, dua ekor kucing.
- Klausa adalah satuan yang sudah punya subjek dan predikat, tetapi belum tentu berdiri sebagai kalimat utuh. Contoh: hujan turun, anak anak bermain.
- Kalimat adalah klausa yang sudah lengkap dan berintonasi final, ditandai huruf kapital di awal dan tanda baca akhir. Contoh: Ketika hujan turun, anak anak segera berlari ke teras.
Perhatikan bahwa panjang bukan pembeda. Frasa "beberapa gedung tua peninggalan kolonial di pusat kota" jauh lebih panjang daripada klausa "hujan turun", tetapi tetap frasa karena tidak ada predikatnya.
Bagian 2: Frasa Endosentris dan Eksosentris
Ini pembagian berdasarkan ada atau tidaknya inti di dalam frasa.
Frasa endosentris punya inti, yaitu bagian yang bisa menggantikan seluruh frasa tanpa merusak struktur kalimat. Ada tiga jenis:
- Atributif: satu inti, sisanya pewatas. Contoh: gedung tinggi, rumah baru itu, sedang membaca. Uji: buang pewatasnya, kalimat tetap jalan. "Gedung tinggi itu roboh" bisa menjadi "Gedung itu roboh".
- Koordinatif: dua inti yang setara, biasanya bisa disisipi dan atau atau. Contoh: suami istri, ayah ibu, sandang pangan, naik turun.
- Apositif: bagian kedua menjelaskan bagian pertama dan bisa saling menggantikan. Contoh: Bandung, kota kembang itu.
Frasa eksosentris tidak punya inti yang bisa mewakili. Bentuk yang paling sering diuji adalah frasa preposisional, yaitu preposisi ditambah nomina: di halaman, ke sekolah, dari pasar, kepada guru. Coba buang preposisinya, maknanya rusak. Coba buang nominanya, juga rusak. Karena itu tidak ada satu bagian pun yang bisa disebut inti.
Bagian 3: Jenis Frasa Berdasarkan Kategori Intinya
Frasa endosentris diberi nama menurut kelas kata intinya. Ini yang paling sering ditanyakan langsung di soal.
- Frasa nomina, intinya nomina: buku tebal, para peserta, tiga gedung tua.
- Frasa verba, intinya verba: sedang membaca, akan berangkat, sudah selesai dikerjakan.
- Frasa adjektiva, intinya adjektiva: sangat rapi, agak lelah, paling menarik.
- Frasa numeralia, intinya numeralia: dua ekor, lima puluh orang.
- Frasa preposisional, dibentuk preposisi dan tergolong eksosentris: di halaman belakang, sejak pagi tadi.
Cara menemukan intinya cepat: buang bagian bagian lain satu per satu, lalu lihat mana yang tidak bisa dibuang. Pada frasa "beberapa gedung tua di pusat kota", kamu bisa membuang beberapa, tua, dan di pusat kota, tetapi tidak bisa membuang gedung. Berarti intinya gedung, dan frasa itu frasa nomina.
Bagian 4: Kata Majemuk dan Idiom
Tidak semua gabungan kata berperilaku sama. Ada gabungan yang sudah menyatu menjadi satu makna baru.
Kata majemuk adalah gabungan kata yang membentuk makna baru dan diperlakukan sebagai satu kesatuan. Contoh: rumah sakit, kereta api, kamar mandi, mata pelajaran, tanggung jawab.
Uji kata majemuk yang paling praktis: coba sisipkan yang di tengahnya.
- Frasa biasa: rumah besar menjadi rumah yang besar, tetap masuk akal.
- Kata majemuk: rumah sakit menjadi rumah yang sakit, maknanya langsung berubah total dan menjadi janggal.
Idiom adalah gabungan kata yang maknanya sama sekali tidak bisa ditarik dari makna kata pembentuknya.
- kambing hitam berarti pihak yang disalahkan, bukan kambing berwarna hitam
- meja hijau berarti pengadilan
- buah tangan berarti oleh oleh
- naik daun berarti sedang populer
- angkat kaki berarti pergi atau meninggalkan tempat
Yang perlu kamu waspadai, bentuk yang sama bisa dipakai secara harfiah. "Adik memelihara kambing hitam di kandang belakang" jelas bukan idiom karena konteksnya benar benar hewan. Jadi penentu akhirnya selalu konteks kalimat, bukan bentuk katanya.
Bagian 5: Ambiguitas Frasa dan Cara Menguraikannya
Ambiguitas adalah kalimat yang bisa ditafsirkan lebih dari satu cara. Penyebab tersering ada pada frasa, ketika sebuah pewatas bisa menempel pada dua inti yang berbeda.
Perhatikan kalimat berikut.
Rumah pejabat yang mewah itu dijual.
Ada dua tafsiran:
- Rumahnya yang mewah, milik seorang pejabat.
- Pejabatnya yang mewah gaya hidupnya, dan rumahnya dijual.
Cara menguraikannya adalah menata ulang supaya pewatas hanya bisa menempel pada satu inti. Kalau yang mewah adalah rumahnya, tulis Rumah mewah milik pejabat itu dijual. Kalau yang dimaksud pejabatnya, tulis Rumah milik pejabat yang hidupnya mewah itu dijual.
Contoh klasik lain adalah mahasiswa baru yang pandai, yang bisa berarti mahasiswa yang baru masuk lalu pandai, atau bisa berarti mahasiswa yang baru saja menjadi pandai. Prinsipnya sama: dekatkan pewatas ke kata yang benar benar ia terangkan, atau ubah menjadi bentuk milik.
Bagian 6: Kesalahan yang Sering Muncul
- Menyangka bagian panjang pasti klausa. Padahal panjang tidak menentukan. Periksa ada tidaknya predikat.
- Menyisipkan yang ke dalam kata majemuk. Bentuk seperti "kereta yang api" atau "tanggung yang jawab" jelas salah karena keduanya kata majemuk.
- Membaca idiom secara harfiah, atau sebaliknya. Selalu cek konteks kalimatnya lebih dulu.
- Membiarkan frasa ambigu di kalimat resmi. Dalam ragam ilmiah, kalimat yang bisa ditafsirkan dua cara dianggap tidak efektif meskipun tata bahasanya benar.
- Salah menentukan inti. Ingat, inti frasa adalah bagian yang tidak bisa dibuang, bukan kata yang paling panjang atau paling mencolok.
Ringkasan
- Frasa tidak punya subjek dan predikat, klausa punya, kalimat adalah klausa yang sudah final.
- Frasa endosentris punya inti (atributif, koordinatif, apositif); frasa eksosentris tidak, dan wakil utamanya adalah frasa preposisional.
- Nama jenis frasa mengikuti kelas kata intinya. Cari inti dengan cara membuang bagian lain satu per satu.
- Kata majemuk tidak bisa disisipi yang, dan idiom maknanya tidak bisa ditarik dari kata pembentuknya.
- Ambiguitas frasa diperbaiki dengan mendekatkan pewatas ke inti yang benar.