Kapitalisasi dan Huruf Miring
Halo, Pejuang PTN. Selamat datang di bab Kapitalisasi dan Huruf Miring. Ini salah satu bab yang paling "murah" nilainya di Pemahaman Bacaan dan Menulis, karena aturannya terbatas dan hampir selalu diuji dengan pola yang sama: satu kalimat berisi nama, jabatan, atau judul, lalu kamu diminta menilai penulisannya. Modal utamanya bukan hafalan panjang, melainkan satu pertanyaan yang harus kamu ulang terus, yaitu apakah kata itu sedang berfungsi sebagai nama diri atau sebagai nama jenis.
Bagian 1: Nama Diri dan Nama Jenis, Kunci Seluruh Bab
Nama diri menunjuk satu hal tertentu yang unik, misalnya Bali sebagai pulau, Soekarno sebagai orang, dan Sungai Musi sebagai sungai tertentu. Nama jenis menunjuk golongan atau jenis barang, misalnya jeruk bali sebagai jenis jeruk dan kunci inggris sebagai jenis alat.
Aturannya: nama diri diawali huruf kapital, nama jenis tidak.
Bandingkan pasangan berikut:
- Kami berlibur ke Pulau Bali, lalu Ibu membeli jeruk bali di pasar.
- Perahu itu menyusuri Sungai Musi, sedangkan anak-anak mandi di sungai dekat rumah.
- Ia menulis tentang Kota Bogor, sementara adiknya suka kacang bogor.
Begitu sebuah nama tempat berubah fungsi menjadi penanda jenis barang, huruf kapitalnya lepas. Itulah sebabnya gula jawa, pisang ambon, kacang bogor, dan kunci inggris semuanya ditulis dengan huruf kecil.
Satu rambu supaya kamu tidak kebablasan: tidak semua frasa yang mengandung nama daerah otomatis menjadi nama jenis. Kalau nama daerah itu masih menyatakan asal atau ciri khas daerahnya, huruf kapitalnya justru dipertahankan, misalnya batik Cirebon, ukiran Jepara, dan tari Melayu. Jadi pertanyaannya bukan sekadar ada nama daerah atau tidak, melainkan apakah nama itu sudah berubah menjadi sebutan untuk jenis barangnya.
Bagian 2: Nama Orang, Gelar, Jabatan, dan Pangkat
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang, termasuk gelar yang menyertainya: Haji Agus Salim, Dewi Sartika, Doktor Rania.
Untuk nama jabatan dan pangkat, aturannya bergantung pada apa yang mengikutinya. Huruf kapital dipakai kalau nama jabatan itu diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat:
- Presiden Soekarno menyampaikan pidato itu pada malam hari.
- Kebijakan tersebut diumumkan oleh Gubernur Jawa Barat.
- Berkas itu diteruskan kepada Menteri Pendidikan.
Sebaliknya, kalau nama jabatan berdiri sendiri sebagai nama jenis, huruf kecillah yang dipakai:
- Ayahnya baru dilantik menjadi gubernur di provinsi itu.
- Rapat itu dihadiri beberapa menteri dan sejumlah bupati.
- Ia bercita-cita menjadi dokter seperti kakaknya.
Perhatikan bahwa nama diri orang tetap kapital di posisi mana pun dalam kalimat, tetapi kata yang hanya menyatakan pekerjaan tidak pernah kapital hanya karena terdengar penting.
Bagian 3: Bangsa, Suku, Bahasa, dan Bentuk Turunannya
Huruf kapital dipakai untuk nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa: bangsa Indonesia, suku Dayak, bahasa Bali, bahasa Inggris.
Namun begitu kata itu masuk ke dalam bentuk turunan, huruf kapitalnya hilang karena yang tersisa tinggal maknanya, bukan namanya:
- Ia berbicara dengan gaya keinggris-inggrisan.
- Istilah asing itu perlu diindonesiakan lebih dulu.
Aturan serupa berlaku pada nama tahun, bulan, hari, hari besar, dan peristiwa sejarah, yang semuanya kapital: bulan Agustus, hari Jumat, Hari Kemerdekaan, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tetapi kalau kata itu hanya menyebut peristiwa umum, huruf kecil dipakai, misalnya "Setiap tahun sekolah kami mengadakan peringatan kemerdekaan dengan lomba antarkelas".
Nama dokumen resmi juga kapital ketika disebut lengkap sebagai nama diri, misalnya Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kalau hanya menyebut jenisnya, huruf kecil, misalnya "Aturan itu diatur dalam undang-undang".
Bagian 4: Kata Kekerabatan, Sapaan, dan Kata Ganti
Kata kekerabatan seperti bapak, ibu, kakak, adik, paman, dan saudara ditulis dengan huruf kapital kalau dipakai sebagai sapaan atau pengacuan langsung kepada orang yang diajak bicara:
- "Silakan duduk di sini, Kak."
- "Surat Saudara sudah kami terima kemarin."
- "Apa kabar, Bu?"
Kalau kata itu hanya menyatakan hubungan keluarga dan bukan sapaan, huruf kecil yang dipakai:
- Semua adik saya sudah bekerja di luar kota.
- Kami berangkat bersama paman dan bibi.
Petunjuk praktisnya: kalau di dekat kata itu ada kata ganti milik seperti saya, kami, atau mereka, biasanya ia bukan sapaan sehingga ditulis dengan huruf kecil. Kalau kata itu bisa kamu ganti dengan nama orangnya secara langsung dalam percakapan, berarti ia sapaan sehingga ditulis kapital.
Bagian 5: Judul Karangan dan Kata Tugas
Dalam judul buku, karangan, artikel, makalah, majalah, dan surat kabar, setiap kata diawali huruf kapital, kecuali kata tugas seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk, selama kata tugas itu tidak berada di posisi awal judul.
- Strategi Belajar yang Efektif untuk Siswa Kelas Akhir
- Dari Kampung ke Kota
Perhatikan judul pertama. Kata yang dan untuk tetap huruf kecil karena berada di tengah, sedangkan Efektif, Siswa, Kelas, dan Akhir tetap kapital. Pada judul kedua, kata Dari justru kapital karena berada di posisi awal.
Kesalahan yang paling sering muncul di soal ada dua: kata tugas ikut dikapitalkan (Yang, Untuk), atau kata isi justru ditulis kecil (akhir, efektif). Periksa judul dari kiri ke kanan, tandai kata tugasnya, lalu pastikan sisanya kapital semua.
Bagian 6: Tiga Fungsi Huruf Miring
Huruf miring hanya punya tiga tugas resmi. Hafalkan ketiganya, karena soal biasanya menguji salah satunya saja.
- Menuliskan judul buku, majalah, atau surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Contoh: Berita itu dimuat di harian Kompas edisi kemarin. Catatan penting: judul artikel, bab, atau syair yang menjadi bagian dari terbitan lain justru diapit tanda petik, bukan dimiringkan.
- Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata, atau kelompok kata. Contoh: Huruf terakhir kata abad adalah huruf d. Yang dia butuhkan bukan pujian, melainkan bukti.
- Menuliskan kata atau ungkapan bahasa daerah dan bahasa asing. Contoh: Ungkapan cum laude berasal dari bahasa Latin. Upacara peusijuek itu masih rutin digelar di kampungnya.
Dua rambu yang wajib diingat. Pertama, nama diri asing tidak dimiringkan, jadi nama orang, nama lembaga, dan nama tempat asing tetap ditulis tegak. Kedua, kata asing yang sudah diserap dan terdaftar di KBBI tidak lagi dimiringkan, misalnya daring, unduh, ekspor, dan survei. Dalam tulisan tangan, huruf miring digantikan dengan garis bawah.
Bagian 7: Kesalahan Umum dan Ringkasan
Lima kesalahan yang paling sering dipasang di soal:
- Nama jenis ditulis kapital karena mengandung nama daerah, misalnya Jeruk Bali dan Gula Jawa.
- Nama jabatan yang diikuti nama tempat justru ditulis kecil, misalnya gubernur Jawa Barat.
- Nama jabatan yang berdiri sendiri ditulis kapital, misalnya "dilantik menjadi Bupati".
- Kata tugas dalam judul ikut dikapitalkan, misalnya Yang dan Untuk.
- Kata serapan yang sudah baku ikut dimiringkan, atau nama diri asing justru dimiringkan.
Kalau kamu ragu di ruang ujian, jalankan tiga langkah cepat. Tanyakan apakah kata itu nama diri atau nama jenis. Kalau berupa jabatan, lihat apakah ada nama orang, instansi, atau tempat sesudahnya. Kalau berupa kata asing, cek apakah ia sudah punya padanan baku di KBBI. Tiga langkah itu menutup hampir semua variasi soal kapitalisasi dan huruf miring.