Sintaksis: Membedah Rangka Kalimat
Halo, Pejuang PTN. Selamat datang di bab Sintaksis. Kalau bab sebelumnya kita sibuk mengurus satuan kecil (kata, imbuhan, tanda baca), di bab ini kita naik satu tingkat: kita lihat bagaimana kata-kata itu disusun jadi kalimat yang benar.
Kenapa ini penting? Karena sebagian besar soal PBM di UTBK sebenarnya soal sintaksis yang menyamar. Pertanyaan seperti "kalimat mana yang tidak efektif", "kalimat mana yang salah", atau "perbaikan yang tepat adalah" hampir selalu bisa dijawab kalau kamu bisa menunjuk mana subjek dan mana predikat. Jadi anggap bab ini sebagai kunci pas yang dipakai berulang di bab-bab lain.
Bagian 1: Empat Tingkat Satuan Bahasa
Sebelum bicara kalimat, kenali dulu empat satuan yang sering tertukar.
- Kata adalah satuan terkecil yang punya makna sendiri: rumah, membaca, cepat.
- Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak punya hubungan subjek dan predikat. Contoh: rumah besar, akan membaca, sangat cepat, di halaman belakang. Frasa hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat.
- Klausa adalah gabungan kata yang punya subjek dan predikat. Contoh: adik membaca, hujan turun.
- Kalimat adalah klausa (satu atau lebih) yang sudah diberi intonasi final, ditandai huruf kapital di awal dan tanda titik, tanya, atau seru di akhir.
Cara cepat membedakan frasa dan klausa: cari predikatnya. Anak kecil itu tidak punya predikat, jadi itu frasa. Anak kecil itu menangis punya predikat menangis, jadi itu klausa.
Satu hal yang sering ditanyakan: inti frasa. Dalam frasa nomina, intinya adalah kata bendanya, sisanya cuma pewatas. Pada tiga buku sejarah lama itu, intinya adalah buku. Kalau kamu bisa menemukan inti frasa, kamu bisa memeriksa apakah subjek dan predikat kalimatnya cocok.
Bagian 2: Lima Fungsi dalam Kalimat
Setiap kalimat bahasa Indonesia dibangun dari lima fungsi. Tidak semuanya harus ada, tapi dua yang pertama wajib.
- Subjek (S): pelaku atau hal yang dibicarakan. Jawaban dari pertanyaan siapa atau apa yang melakukan atau dibicarakan.
- Predikat (P): bagian yang menerangkan subjek. Jawaban dari sedang apa, bagaimana, atau apa itu.
- Objek (O): hadir hanya kalau predikatnya verba transitif (biasanya berawalan me- dan butuh sasaran).
- Pelengkap (Pel): mirip objek, tapi tidak bisa dijadikan subjek dalam kalimat pasif.
- Keterangan (K): informasi tambahan soal waktu, tempat, cara, sebab, atau tujuan. Posisinya paling bebas, bisa di depan, tengah, atau belakang.
Contoh lengkap:
Kakak (S) membelikan (P) adik (O) sepatu baru (Pel) kemarin sore (K).
Perhatikan bahwa keterangan bisa dipindah ke depan tanpa merusak kalimat: Kemarin sore, kakak membelikan adik sepatu baru. Subjek dan predikat tidak punya kebebasan seperti itu. Ini salah satu tanda pengenal yang berguna.
Bagian 3: Cara Cepat Menemukan Subjek dan Predikat
Di ruang ujian kamu tidak punya waktu untuk menganalisis pelan-pelan. Pakai empat tanda ini.
Subjek biasanya:
- berupa nomina atau frasa nomina;
- bisa didahului kata yang untuk memperluasnya (siswa menjadi siswa yang rajin itu);
- tidak pernah didahului preposisi seperti di, ke, dari, dalam, bagi, untuk, kepada, menurut, pada.
Tanda ketiga itu yang paling sering dipakai penyusun soal. Begitu kamu melihat kalimat dimulai dengan preposisi dan tidak ada nomina bebas sesudahnya, curigai kalimat itu tidak bersubjek.
Predikat biasanya:
- menjawab pertanyaan mengapa atau bagaimana tentang subjek;
- bisa didahului kata adalah, merupakan, tidak, bukan, atau kata aspek seperti sudah, sedang, akan;
- tidak bisa didahului kata yang. Kalau kamu menyisipkan yang di depan calon predikat lalu kalimatnya jadi menggantung, berarti tebakanmu benar: itu memang predikatnya.
Contoh uji cepat: Rumah tua itu roboh. Sisipkan yang tepat di depan roboh. Hasilnya, Rumah tua itu yang roboh langsung menggantung dan terasa belum selesai, jadi roboh memang predikatnya. Bandingkan dengan tua, yang boleh disisipi yang tanpa membuat kalimat menggantung: Rumah yang tua itu roboh tetap berterima, jadi tua bukan predikat, melainkan bagian dari subjek.
Bagian 4: Jenis Predikat
Banyak siswa mengira predikat harus kata kerja. Padahal ada lima jenis, dan soal UTBK senang menguji yang bukan kata kerja.
- Predikat verbal: Adik menulis surat.
- Predikat nominal: Ayah saya dosen. (predikatnya kata benda, tanpa kata kerja sama sekali)
- Predikat adjektival: Jalan itu sangat sempit.
- Predikat numeral: Anaknya tiga orang.
- Predikat preposisional: Ibu ke pasar.
Kalimat berpredikat nominal sering dianggap "belum selesai" oleh siswa, lalu mereka menambahkan adalah merupakan supaya terasa lengkap. Justru itu yang membuat kalimatnya tidak efektif. Ayah saya adalah merupakan dosen salah dua kali: adalah dan merupakan punya fungsi yang sama, jadi cukup pakai salah satu, atau tidak pakai sama sekali.
Bagian 5: Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk
Kalimat tunggal hanya punya satu klausa, artinya satu pasang subjek dan predikat. Petani itu memanen padi.
Kalimat majemuk setara menggabungkan dua klausa yang kedudukannya sama, dihubungkan dan, atau, tetapi, melainkan, sedangkan. Ayah membaca koran, sedangkan ibu menyiram tanaman.
Kalimat majemuk bertingkat punya induk kalimat dan anak kalimat. Anak kalimat ditandai konjungsi seperti ketika, karena, meskipun, jika, sehingga, agar. Karena jalanan macet, kami terlambat tiba di lokasi. Klausa kami terlambat tiba di lokasi adalah induknya, dan karena jalanan macet adalah anaknya.
Aturan tanda baca yang mengikuti: kalau anak kalimat berada di depan induk, beri koma sesudahnya. Kalau induk yang di depan, komanya tidak dipakai. Bandingkan Karena jalanan macet, kami terlambat. dengan Kami terlambat karena jalanan macet.
Ada satu lagi, klausa relatif, yaitu klausa yang diawali yang dan menempel pada nomina. Warga yang tinggal di bantaran sungai mengungsi. Klausa relatif ini ikut dihitung kalau soal menanyakan jumlah klausa.
Bagian 6: Kesalahan Sintaksis yang Paling Sering Diuji
Ini daftar jebakan yang berulang tiap tahun.
1. Kalimat tanpa subjek karena preposisi di depan.
- Salah: Dalam rapat itu membahas anggaran tahunan.
- Benar: Rapat itu membahas anggaran tahunan. atau Dalam rapat itu, peserta membahas anggaran tahunan.
2. Subjek ganda.
- Salah: Buku itu saya sudah membacanya kemarin.
- Benar: Buku itu sudah saya baca kemarin.
3. Anak kalimat berdiri sendiri.
- Salah: Karena hujan turun sejak pagi. Kalimat ini cuma anak kalimat, induknya hilang.
- Benar: Karena hujan turun sejak pagi, jalan menuju sekolah tergenang.
4. Predikat hilang karena tertutup kata yang.
- Salah: Siswa yang mengikuti lomba tingkat provinsi itu.
- Benar: Siswa yang mengikuti lomba tingkat provinsi itu berjumlah dua puluh orang.
5. Objek dianggap pelengkap atau sebaliknya.
Uji dengan kalimat pasif.
- Adik menendang bola bisa jadi Bola ditendang adik, jadi bola adalah objek.
- Adik bermain bola tidak bisa jadi Bola dibermain adik, jadi bola di situ pelengkap.
Ringkasan
- Frasa tidak punya predikat, klausa punya, kalimat adalah klausa berintonasi final.
- Fungsi kalimat: S, P, O, Pel, K. Yang wajib hanya S dan P.
- Subjek tidak pernah didahului preposisi. Ini alat deteksi tercepat untuk kalimat rusak.
- Predikat tidak selalu kata kerja. Ada nominal, adjektival, numeral, dan preposisional.
- Anak kalimat di depan induk memerlukan koma, sebaliknya tidak.
- Lima kesalahan langganan: tanpa subjek, subjek ganda, anak kalimat sendirian, predikat tertutup yang, dan tertukarnya objek dengan pelengkap.
Kalau kamu sudah terbiasa menunjuk subjek dan predikat dalam dua detik, bab Kalimat Efektif berikutnya akan terasa jauh lebih ringan.