Kelas Kata
Halo, Pejuang PTN. Kalau bab sebelumnya membahas bahasa Indonesia secara umum, sekarang kita masuk ke unit terkecil yang bisa dianalisis, yaitu kata. Kenapa ini penting? Karena hampir semua soal PBM yang menanyakan kalimat efektif, frasa, atau struktur kalimat sebenarnya bertumpu pada satu kemampuan yang sama: kamu bisa mengenali sebuah kata itu masuk kelas apa. Begitu kelas katanya kelihatan, struktur kalimatnya ikut kelihatan.
Bagian 1: Apa Itu Kelas Kata dan Cara Mengujinya
Kelas kata adalah penggolongan kata berdasarkan perilakunya di dalam kalimat. Perhatikan kata perilaku di situ. Kelas kata tidak ditentukan oleh arti, melainkan oleh apa yang boleh dan tidak boleh mendampingi kata itu.
Contohnya, kata rapi dan kerapian sama sama berhubungan dengan kondisi teratur. Namun kita bisa berkata "sangat rapi" dan tidak bisa berkata "sangat kerapian". Perbedaan perilaku itulah yang menempatkan rapi sebagai adjektiva dan kerapian sebagai nomina.
Karena itu, cara paling andal menentukan kelas kata bukan menghafal daftar, melainkan memakai uji perluasan. Kamu coba tempelkan kata penguji tertentu, lalu rasakan apakah hasilnya wajar dalam bahasa Indonesia. Sepanjang bab ini kita akan pakai cara itu terus menerus.
Secara umum, kelas kata dibagi menjadi kata yang punya makna leksikal penuh (nomina, verba, adjektiva, adverbia, numeralia, pronomina) dan kata tugas yang maknanya baru muncul dalam hubungan antarkata. Kata tugas dibahas tuntas di bab tersendiri.
Bagian 2: Nomina dan Pronomina
Nomina adalah kata benda, mencakup benda konkret (meja, sekolah), benda abstrak (kebijakan, kejujuran), dan nama proses (pembangunan, penelitian).
Uji nomina:
- Bisa didahului kata para, seorang, atau kata penggolong seperti sebuah dan seekor.
- Bisa diikuti yang + adjektiva: buku yang tebal, kebijakan yang baru.
- Tidak bisa diingkari dengan tidak. Kita tidak berkata "tidak buku", melainkan "bukan buku". Ini uji pembeda yang paling tajam antara nomina dan verba.
Nomina bisa lahir dari kata lain lewat imbuhan. Inilah yang disebut nominalisasi, dan imbuhan pembentuknya adalah pe-an, per-an, ke-an, dan -an.
- membangun (verba) menjadi pembangunan (nomina)
- berubah (verba) menjadi perubahan (nomina)
- adil (adjektiva) menjadi keadilan (nomina)
Pronomina adalah kata ganti. Ada pronomina persona (saya, kamu, ia, mereka, kita), penunjuk (ini, itu, sini, situ), dan penanya (siapa, apa, mana). Fungsinya menggantikan nomina, jadi perilakunya mengikuti nomina.
Bagian 3: Verba
Verba adalah kata kerja, yaitu kata yang menyatakan tindakan, proses, atau keadaan yang berlangsung.
Uji verba:
- Bisa diingkari dengan tidak: tidak membaca, tidak berangkat.
- Bisa didampingi sedang, sudah, akan: sedang menulis, sudah pulang.
- Banyak yang bisa diikuti frasa dengan + kata: berjalan dengan cepat.
Yang perlu kamu kuasai dari verba adalah dua hal berikut.
Pertama, transitif dan intransitif. Verba transitif menuntut objek, verba intransitif tidak. "Ia membaca buku" memerlukan objek buku, sedangkan "Ia berlari" sudah lengkap tanpa objek. Kesalahan yang sering muncul di soal adalah verba transitif yang objeknya hilang atau justru diberi preposisi, misalnya "membahas tentang masalah itu", padahal cukup "membahas masalah itu".
Kedua, aktif dan pasif. Verba aktif umumnya berawalan me- atau ber-, verba pasif berawalan di- atau ter-. Perubahan bentuk me- mengikuti aturan peluluhan yang sering diuji, yaitu kata dasar berawal K, P, S, dan T umumnya luluh:
- pengaruh menjadi memengaruhi, bukan mempengaruhi
- pesona menjadi memesona
- populer menjadi memopulerkan
- sukses menjadi menyukseskan
- taat menjadi menaati
- ubah menjadi mengubah, bukan merubah, karena kata dasarnya ubah, bukan rubah
Bagian 4: Adjektiva
Adjektiva adalah kata sifat, yaitu kata yang menerangkan keadaan atau kualitas.
Uji adjektiva paling praktis ada dua dan sebaiknya dipakai berbarengan:
- Bisa didahului penanda tingkat: sangat, lebih, agak, paling, kurang.
- Bisa diikuti sekali.
Kalau kata itu wajar dipakai dalam pola "sangat X" sekaligus "X sekali", hampir pasti itu adjektiva. Coba: sangat rapi dan rapi sekali, keduanya wajar, jadi rapi adalah adjektiva. Bandingkan dengan buku: sangat buku dan buku sekali sama sama janggal, jadi buku bukan adjektiva.
Adjektiva juga bisa menyatakan tingkat perbandingan: lebih tinggi (komparatif) dan tertinggi atau paling tinggi (superlatif). Perhatikan bahwa bentuk "paling tertinggi" salah karena mengulang penanda superlatif dua kali.
Bagian 5: Adverbia dan Numeralia
Adverbia adalah kata keterangan yang menerangkan verba, adjektiva, atau seluruh kalimat. Kelompoknya cukup luas: selalu, sering, jarang, hanya, justru, memang, bahkan, sangat, tentu, mungkin.
Yang perlu dicatat, adverbia menerangkan bagian lain kalimat, bukan menyebut benda atau tindakan. Dalam kalimat "Ia hanya membaca judulnya", kata hanya membatasi tindakan membaca, jadi hanya adalah adverbia.
Numeralia adalah kata bilangan. Ada dua jenis utama:
- Kardinal, menyatakan jumlah: satu, dua, lima puluh, beberapa, banyak.
- Ordinal, menyatakan urutan: pertama, kedua, kelima.
Bandingkan "dua anak" yang menyatakan jumlah dengan "anak kedua" yang menyatakan urutan. Numeralia sering muncul bersama kata penggolong seperti ekor, buah, orang, dan lembar: dua ekor kucing, tiga buah gedung, lima orang panitia.
Bagian 6: Jebakan Kelas Kata di Soal UTBK
Jebakan pertama, kalimat kehilangan predikat karena nominalisasi. Perhatikan kalimat berikut.
Pembangunan jembatan penghubung dua desa itu oleh pemerintah daerah.
Kalimat itu terasa lengkap kalau dibaca cepat, padahal tidak berpredikat. "Pembangunan jembatan penghubung dua desa itu" seluruhnya subjek karena intinya nomina, sedangkan "oleh pemerintah daerah" hanya keterangan. Perbaikannya adalah mengembalikan verbanya: Pemerintah daerah membangun jembatan penghubung dua desa itu.
Jebakan kedua, kata yang menelan predikat. Bandingkan dua kalimat berikut.
- Siswa yang mengikuti lomba itu mendapatkan sertifikat. (lengkap, predikatnya mendapatkan)
- Siswa yang mengikuti lomba itu di aula sekolah. (tidak berpredikat)
Kata yang mengubah verba menjadi pewatas subjek. Kalau setelah itu tidak ada verba baru, kalimatnya menggantung.
Jebakan ketiga, satu kata bisa berpindah kelas. Kata gula nomina, tetapi dalam "kopi ini terlalu gula" pemakaiannya salah karena gula dipaksa berperilaku seperti adjektiva. Selalu uji kata di dalam kalimatnya, bukan sendirian.
Ringkasan
- Kelas kata ditentukan oleh perilaku kata dalam kalimat, bukan oleh artinya.
- Nomina ditolak tidak dan menerima bukan, verba menerima tidak, adjektiva menerima sangat sekaligus sekali.
- Imbuhan pe-an, per-an, ke-an, dan -an mengubah kata menjadi nomina. Nominalisasi berlebihan membuat kalimat kehilangan predikat.
- Kuasai peluluhan K, P, S, T: memengaruhi, memesona, memopulerkan, menyukseskan, dan mengubah.
- Numeralia kardinal menyatakan jumlah, ordinal menyatakan urutan.