Lebih Dekat dengan Bahasa Indonesia
Halo, Pejuang PTN. Sebelum kita membedah kelas kata, frasa, dan kalimat efektif, ada satu fondasi yang harus beres lebih dulu, yaitu memahami bahasa Indonesia sebagai sebuah sistem yang punya aturan. Di subtes Pemahaman Bacaan dan Menulis, kamu hampir tidak pernah diminta menghafal definisi. Yang diuji adalah kemampuanmu membaca satu kalimat, lalu menilai apakah kalimat itu sudah sesuai kaidah atau belum. Bab ini menyiapkan pijakannya.
Bagian 1: Ragam Bahasa dan Kenapa UTBK Selalu Memakai Ragam Resmi
Bahasa Indonesia punya banyak wajah. Waktu kamu mengirim pesan ke teman, kamu memakai ragam takresmi: "gue udah kirim tugasnya, ya". Waktu kamu menulis laporan praktikum, kamu memakai ragam resmi: "laporan tersebut telah saya kirimkan". Dua duanya bahasa Indonesia, dua duanya bisa dipahami, tetapi keduanya dipakai pada situasi yang berbeda.
Ragam bahasa dibedakan berdasarkan beberapa hal:
- Media: ragam lisan dan ragam tulis. Ragam tulis menuntut kelengkapan struktur karena tidak ada intonasi, mimik, atau kesempatan bertanya balik.
- Situasi: ragam resmi (formal) dan takresmi (nonformal). Rapat, surat dinas, karya ilmiah, dan soal UTBK memakai ragam resmi.
- Bidang: ragam jurnalistik, ilmiah, sastra, hukum, dan sebagainya. Masing masing punya kebiasaan sendiri, misalnya ragam ilmiah menghindari kata bermakna kabur.
Kesepakatan pentingnya: semua soal PBM berdiri di atas ragam resmi tulis. Jadi kalau ada pilihan jawaban yang terasa "lebih enak diucapkan", biasanya justru itu jebakannya. Yang dicari adalah bentuk yang benar menurut kaidah, bukan yang paling akrab di telinga.
Ciri ragam resmi tulis yang perlu kamu kenali:
- memakai kata baku, bukan kata percakapan (menyampaikan, bukan bilangin),
- strukturnya lengkap, minimal ada subjek dan predikat,
- tidak memakai kata sapaan santai atau partikel obrolan seperti sih, dong, kok,
- menghindari kata bermakna kira kira seperti kayaknya, agak agak, sepertinya sih.
Bagian 2: Bahasa Baku dan Rujukannya
Kata baku adalah bentuk kata yang dianggap benar dan dijadikan patokan. Lawannya kata takbaku. Baku atau tidaknya sebuah kata bukan soal selera, melainkan soal apa yang tercatat di kamus. Rujukan resminya adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Ini daftar yang paling sering muncul di soal. Kolom kiri baku, kolom kanan takbaku:
- praktik, bukan praktek
- analisis, bukan analisa
- risiko, bukan resiko
- jadwal, bukan jadual
- izin, bukan ijin
- kualitas, bukan kwalitas
- atlet, bukan atlit
- nasihat, bukan nasehat
- apotek, bukan apotik
- cendekiawan, bukan cendikiawan
- sekretaris, bukan sekertaris
- telanjur, bukan terlanjur
- silakan, bukan silahkan
- imbau, bukan himbau
- andal, bukan handal
- saksama, bukan seksama
- embus, bukan hembus
- aktivitas, bukan aktifitas
Perhatikan pola nomor terakhir. Kata serapan dari bahasa Inggris yang berakhiran ity diserap menjadi itas, dan huruf v pada bentuk asalnya dipertahankan: activity menjadi aktivitas, effectivity menjadi efektivitas. Jadi bentuk aktifitas dan efektifitas salah, sementara aktif dan efektif sendiri justru benar karena diserap dari active dan effective.
Bagian 3: PUEBI dan KBBI Menjawab Pertanyaan yang Berbeda
Banyak siswa menganggap keduanya sama. Padahal fungsinya berbeda dan ini sering menentukan kamu mencari jawaban ke arah yang benar atau tidak.
- KBBI menjawab pertanyaan "kata ini bentuk bakunya apa dan artinya apa". Contohnya, praktik atau praktek, imbau atau himbau, andal atau handal.
- PUEBI, yaitu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, menjawab pertanyaan "bagaimana cara menuliskannya". Contohnya, kapan huruf kapital dipakai, kapan tanda koma muncul, kapan kata ditulis serangkai, dan bagaimana menulis singkatan.
Jadi kalau soal bertanya tentang pilihan kata, arahkan pikiranmu ke KBBI. Kalau soal bertanya tentang penulisan, tanda baca, atau huruf kapital, arahkan ke PUEBI. Dua jalur berbeda, dua jenis soal berbeda.
Bagian 4: Kata Depan atau Imbuhan, Ini Jebakan Nomor Satu
Bentuk di dan ke bisa muncul sebagai dua hal yang sangat berbeda, dan penulisannya ikut berbeda.
Sebagai kata depan (preposisi), ditulis terpisah. Kata depan menunjuk tempat, arah, atau waktu.
- Buku itu ada di meja.
- Kami berangkat ke stasiun.
- Ia menunggu di depan gerbang.
Sebagai imbuhan, ditulis serangkai. Imbuhan di- membentuk verba pasif, imbuhan ke- membentuk nomina atau numeralia.
- Surat itu dibaca dengan saksama.
- Berkas lama sudah disimpan di gudang.
- Ia terpilih menjadi ketua kelas.
- Anak kedua keluarga itu kuliah di Bandung.
Uji cepat yang bisa kamu pakai dalam dua detik: coba ganti dengan kata depan lain seperti dari atau pada. Kalau kalimatnya masih masuk akal, berarti itu kata depan dan harus dipisah. "Di meja" bisa jadi "dari meja", jadi dipisah. "Dibaca" tidak bisa jadi "dari baca", jadi disatukan.
Ada dua bentuk yang perlu perhatian khusus:
- ke luar (dipisah) berarti arah, lawan dari ke dalam. Keluar (serangkai) adalah verba, lawan dari masuk. Bandingkan "ia berjalan ke luar ruangan" dengan "ia keluar dari organisasi itu".
- kepada dan daripada ditulis serangkai karena sudah menjadi satu bentuk utuh.
Bagian 5: Bentuk Terikat Ditulis Serangkai
Bentuk terikat adalah unsur yang tidak bisa berdiri sendiri sebagai kata. Aturannya sederhana: ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Ini sumber kesalahan yang sangat sering muncul di soal.
- antarkota, antarsekolah, antarfakultas
- pascapanen, pascasarjana, pascabencana
- nonformal, nonakademik, nonteknis
- prasejarah, prasyarat, prakiraan
- swadaya, swalayan, swasembada
- mancanegara, dwifungsi, tunanetra, ekstrakurikuler, multiguna, subbagian
Perhatikan bahwa antarsekolah, bukan antar sekolah. Pascapanen, bukan pasca panen. Nonformal, bukan non formal.
Ada satu pengecualian penting: kalau kata yang mengikutinya diawali huruf kapital, dipakai tanda hubung. Contohnya non-Indonesia, pro-Barat, anti-Amerika. Tanda hubung juga dipakai kalau bentuk terikat bertemu singkatan berhuruf kapital seperti non-ASN.
Bagian 6: Kesalahan yang Paling Sering Terjadi
- Mengandalkan telinga. Bentuk "silahkan" dan "himbau" terdengar sangat wajar, padahal takbaku. Kalau ragu, ingat daftarnya, jangan ikuti kebiasaan.
- Menyamakan semua di. Menulis "di simpan" atau "dilemari" adalah dua kesalahan yang berlawanan arah dari akar yang sama, yaitu tidak memeriksa apakah di itu kata depan atau imbuhan.
- Memisahkan bentuk terikat. Menulis "antar kota" atau "pasca sarjana" karena terasa seperti dua kata.
- Menganggap kata serapan boleh ditulis semaunya. Bentuk seperti aktifitas, efektifitas, dan kwalitas muncul dari kebiasaan, bukan dari kaidah.
- Mencampur ragam. Menulis laporan resmi tetapi masih memakai bilang ke, kayaknya, atau bikin. Dalam soal, opsi yang mencampur ragam hampir selalu bukan jawaban.
Ringkasan
- UTBK selalu memakai ragam resmi tulis, jadi patokannya kaidah, bukan kebiasaan bicara.
- KBBI untuk urusan bentuk dan makna kata, PUEBI untuk urusan penulisan dan tanda baca.
- Kata depan di dan ke ditulis terpisah, imbuhan di- dan ke- ditulis serangkai. Uji dengan mengganti memakai dari atau pada.
- Bentuk terikat seperti antar-, pasca-, non-, pra-, dan swa- ditulis serangkai, kecuali diikuti huruf kapital yang menuntut tanda hubung.
- Hafalkan daftar kata baku yang sering keluar. Itu poin paling murah di subtes ini.