Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo semuanya! Selamat datang di materi Penalaran Umum UTBK bab satu tentang Penalaran Deduktif. Di sini kita akan belajar cara menarik kesimpulan pasti dari premis-premis umum.
Mari kita lihat visualisasinya melalui diagram venn. Di sini ada lingkaran besar mamalia dan lingkaran kecil kucing di dalamnya. Perhatikan pernyataannya: semua kucing adalah mamalia. Jika Ciko adalah kucing, maka kesimpulannya Ciko adalah mamalia.
Gunakan analogi kotak dalam kotak. Jika suatu barang berada di kotak kecil P, maka secara otomatis barang tersebut juga berada di dalam kotak besar Q.
Pahami prasyarat proposisi majemuk berikut ini: simbol P maka Q untuk jika P maka Q, simbol negasi atau ingkaran P, serta simbol P dan Q.
Hati-hati dengan jebakan logika! Salah jika menganggap jika Q benar maka P pasti benar. Contohnya tanah basah, belum tentu karena hujan karena bisa saja disiram air.
Berikut definisi silogisme hipotesis. Pertama, Modus Ponens: jika P maka Q, dan diketahui P, maka hasilnya Q. Kedua, Modus Tollens: jika P maka Q, dan diketahui tidak Q, maka hasilnya tidak P.
Mengapa logika ini valid? Karena P adalah syarat cukup untuk Q. Jika syarat P terpenuhi, Q wajib terjadi. Namun jika Q tidak terjadi, maka P pasti tidak ada.
Ada juga penurunan logika yang disebut kontraposisi. Pernyataan jika P maka Q itu ekuivalen atau sama maknanya dengan jika tidak Q maka tidak P.
Hubungan kontraposisi dan tollens terdiri dari empat langkah. Satu, jika P maka Q. Dua, berarti jika tidak Q maka tidak P. Tiga, diketahui tidak Q benar. Empat, kesimpulannya adalah tidak P.
Beginilah alur penarikan kesimpulan. Kita menghubungkan premis satu dan premis dua melalui tanda panah logika untuk mendapatkan hasil yang valid.
Contoh satu, Modus Ponens. Premis satu: jika Budi rajin, maka ia juara. Premis dua: Budi rajin. Maka kesimpulannya adalah Budi juara.
Contoh dua, Modus Tollens. Premis satu: jika lampu menyala, ada listrik. Premis dua: tidak ada listrik. Kesimpulannya, lampu tidak menyala.
Contoh tiga, Silogisme Berantai. Premis satu: jika A maka B. Premis dua: jika B maka C. Kesimpulannya adalah jika A maka C.
Contoh empat, Negasi Majemuk. Premis satu: jika Andi lapar, ia makan nasi. Premis dua: Andi tidak makan nasi. Maka kesimpulannya Andi tidak lapar.
Contoh lima, soal standar UTBK. Premis satu: semua siswa yang belajar akan lulus. Premis dua: Dino adalah siswa yang tidak lulus. Kesimpulannya, Dino tidak belajar.
Aplikasi logika ini sangat luas di dunia nyata, mulai dari menguji validitas argumen berita, berpikir kritis dalam debat, hingga memecahkan masalah pemrograman.
Gunakan metode cepat panah logika. Jika A maka B dan B maka C, kita bisa langsung tarik kesimpulan dari ujung ke ujung, yaitu A maka C.
Waspadai kesalahan umum seperti menukar Modus Ponens dengan Tollens, salah menentukan negasi atau ingkaran, serta terjebak oleh pernyataan yang membingungkan.
Ini adalah ringkasan materinya. Modus Ponens P maka Q, P jadi Q. Modus Tollens P maka Q, tidak Q jadi tidak P. Silogisme P maka Q, Q maka R jadi P maka R. Serta kontraposisi P maka Q setara dengan tidak Q maka tidak P.
Selamat belajar dan semoga sukses UTBK! Kuasai logika ini untuk menaklukkan soal-soal penalaran umum.
Teruslah berlatih agar insting logika kalian semakin tajam. Sampai jumpa di pembahasan materi matematika berikutnya!