kuliah#makalah#tugas kuliah#rumusan masalah

Rumusan Masalah Makalah yang Terjawab di Pembahasan

Uji cepat rumusan masalah makalah: nomori tiap pertanyaan, tunjuk sub-bab yang menjawabnya, lalu buang pertanyaan yang jawabannya cuma satu kalimat definisi.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 7 menit baca
Di halaman ini

Cara membuat rumusan masalah makalah yang tidak dicoret dosen berhenti di satu uji sederhana: setiap pertanyaan yang kamu tulis di Bab I harus punya sub-bab pasangannya di pembahasan. Kalau rumusan masalahmu ada tiga tapi pembahasan mengalir jadi satu uraian panjang tanpa penanda, nilai turun bukan karena kalimatnya jelek. Pembaca cuma tidak bisa menunjuk di mana jawabannya. Pilihan kata tanya, jumlah pertanyaan, dan posisinya di halaman itu urusan nomor dua.

Kenapa rumusan masalah dicoret padahal kalimatnya sudah rapi?

Yang dinilai bukan kalimatnya, tapi hubungannya ke isi. Ada dua kegagalan yang paling sering, dan dua-duanya tidak kelihatan selama kamu hanya membaca Bab I sendirian.

Pertama, rumusan yatim. Pertanyaannya ada di Bab I, tapi di pembahasan tidak ada satu bagian pun yang khusus menjawabnya. Biasanya ini pertanyaan nomor tiga atau empat, yang ditambahkan menjelang tenggat supaya jumlahnya terlihat cukup. Dosen menemukannya dalam lima detik, karena cara mengeceknya memang cuma membandingkan dua daftar.

Kedua, rumusan kamus. Pertanyaan yang jawabannya habis dalam satu kalimat definisi, misalnya "Apa yang dimaksud dengan inflasi?" atau "Apa pengertian manajemen sumber daya manusia?". Pertanyaan begini aman dan tidak mungkin salah, dan justru itu kelemahannya. Jawabannya bisa diambil dari buku teks mana saja, jadi tidak ada cara berpikir yang bisa dinilai. Kalau dua dari tiga rumusanmu bentuknya begini, isi makalahmu otomatis jadi ringkasan bahan bacaan.

Sisanya masalah yang lebih kecil: pertanyaan terlalu luas untuk 12 halaman, dua pertanyaan yang sebenarnya satu, atau pertanyaan yang jawabannya sudah kamu tulis sendiri di latar belakang.

Uji satu menit sebelum makalah dikumpulkan

Ini bisa dikerjakan di file yang sudah jadi, tanpa menulis ulang apa pun.

  1. Nomori rumusan masalah di Bab I: 1, 2, 3.
  2. Buka pembahasan. Tulis nomor yang sama di pinggir sub-bab yang menjawabnya.
  3. Lingkari rumusan yang tidak kebagian nomor di pembahasan. Itu rumusan yatim.
  4. Lingkari sub-bab pembahasan yang tidak kebagian nomor. Itu isi yang masuk tanpa diminta, dan biasanya bagian inilah yang membuat makalah terasa melebar.
  5. Hitung berapa halaman pembahasan untuk tiap rumusan. Di bawah satu halaman berarti pertanyaannya terlalu sempit atau bahanmu habis.
  6. Baca ulang kesimpulan. Kalau jumlah paragraf kesimpulan tidak sama dengan jumlah rumusan, ada pertanyaan yang tidak kamu tutup.

Hasil yang kamu mau: angka 1, 2, 3 muncul di tiga tempat yang sama, yaitu rumusan masalah, sub-bab pembahasan, dan paragraf kesimpulan. Kalau ketiganya cocok, struktur makalahmu sudah aman walaupun kalimatnya biasa saja.

Pertanyaan mana yang harus dibuang dari rumusan masalah?

Buang pertanyaan yang bisa dijawab dalam satu kalimat tanpa membaca apa pun. Tabel ini isinya bentuk yang paling sering muncul di draf mahasiswa, beserta gantinya.

Pertanyaan di drafMasalahnyaVersi yang bisa dibahas
Apa yang dimaksud dengan inflasi?Jawabannya definisi, satu kalimatMengapa kenaikan harga bahan pangan terasa lebih berat bagi rumah tangga berpendapatan rendah?
Apa saja faktor yang mempengaruhi X?Berakhir jadi daftar tanpa urutan pentingFaktor mana yang paling menentukan X pada kasus ini, dan atas dasar apa?
Bagaimana sejarah perkembangan Y?Jawabannya kronologi, bukan analisisPerubahan apa pada Y yang membuat pendekatan lama tidak lagi memadai?
Apakah Z penting?Jawaban ya atau tidakPada kondisi apa Z berpengaruh, dan pada kondisi apa pengaruhnya kecil?
Bagaimana solusi dari masalah A?Terlalu luas, jawabannya saran umumDari tiga penanganan A yang pernah dipakai, mana yang paling layak dijalankan dengan sumber daya terbatas?

Perhatikan polanya. Kolom kanan semuanya meminta kamu memilih, membandingkan, atau memberi alasan, dan itu yang bisa dinilai. Kolom kiri cuma meminta kamu memindahkan isi buku.

Satu pengecualian. Kalau istilah utamanya memang jarang dipakai dan pembaca butuh batasannya, definisi tetap perlu. Tempatnya di landasan teori, bukan di rumusan masalah.

Berapa jumlah rumusan masalah yang wajar?

Hitung dari jatah halaman, bukan dari selera. Makalah kuliah biasanya 10 sampai 15 halaman, dan pembahasan mengambil sekitar 6 sampai 9 halaman dari jumlah itu.

  • Dua rumusan: tiap pertanyaan kebagian 3 sampai 4 halaman. Paling leluasa, cocok untuk topik yang butuh data atau contoh panjang.
  • Tiga rumusan: tiap pertanyaan kebagian 2 sampai 3 halaman. Ini porsi paling umum dan paling aman.
  • Lima rumusan: tiap pertanyaan tinggal sekitar 1,5 halaman. Hampir selalu berakhir jadi lima ringkasan pendek, dan komentar yang muncul di lembar penilaian biasanya kurang mendalam.

Kalau tugasnya cuma 5 halaman, satu rumusan masalah sudah cukup. Tidak ada aturan yang mewajibkan minimal tiga, walaupun contoh yang beredar hampir selalu memakai tiga.

Cara menurunkan satu topik jadi dua atau tiga pertanyaan yang nyambung

Rumusan masalah yang bagus terbaca seperti satu alur, bukan tiga pertanyaan yang kebetulan setopik. Dua pola ini cukup untuk hampir semua tugas kuliah.

Pola kondisi, sebab, jalan keluar. Pertanyaan pertama memetakan keadaan sekarang. Pertanyaan kedua mencari penyebabnya. Pertanyaan ketiga menimbang apa yang bisa dilakukan. Contoh untuk topik sampah kampus: seberapa banyak sampah yang dihasilkan satu fakultas dalam sehari, apa yang membuat pemilahan di titik pembuangan tidak jalan, dan penanganan mana yang masih mungkin dijalankan dengan anggaran kemahasiswaan.

Pola bandingkan lalu putuskan. Pertanyaan pertama dan kedua membahas dua hal yang mau dibandingkan dengan ukuran yang sama. Pertanyaan ketiga meminta kesimpulan dari perbandingan itu. Pola ini paling enak kalau mata kuliahnya sudah punya kriteria baku, misalnya biaya, waktu, dan risiko.

Uji terakhir: baca ketiga pertanyaan berurutan seperti satu paragraf. Kalau urutannya bisa ditukar tanpa terasa aneh, pertanyaanmu belum nyambung, baru sekadar sejenis.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Menulis rumusan masalah sebelum tahu bahannya ada. Pertanyaan tanpa data akan memaksa kamu mengarang di pembahasan. Kumpulkan dulu dua atau tiga sumber, baru tetapkan pertanyaannya.
  2. Menulis tujuan yang bukan cermin rumusan masalah. Kalau ada tiga pertanyaan, tujuannya juga tiga, dengan urutan dan isi yang sama, cuma berubah bentuk jadi kalimat pernyataan.
  3. Memasukkan jawaban ke dalam pertanyaan. "Bagaimana pengaruh buruk media sosial terhadap konsentrasi belajar?" sudah memutuskan bahwa pengaruhnya buruk sebelum dibahas. Netralkan jadi bagaimana pengaruhnya.
  4. Menyalin rumusan masalah dari contoh skripsi orang. Pertanyaannya ikut membawa batasan tempat dan tahun yang tidak ada di makalahmu, dan itu kelihatan karena pembahasanmu tidak menyinggung keduanya.
  5. Memakai kata tanya yang tidak menuntut apa pun, seperti adakah atau apakah ada. Jawabannya satu kata.
  6. Melupakan batasan masalah. Pertanyaan boleh luas selama ada satu paragraf yang menyebut apa yang tidak dibahas. Tanpa itu, setiap hal yang tidak kamu tulis terbaca sebagai lubang.

Kalau makalahnya dikerjakan berkelompok, nomor 1 dan 2 paling sering muncul, karena yang menulis Bab I dan yang menulis pembahasan orangnya berbeda. Cara membagi tugas supaya tidak begitu ada di /artikel/makalah-kelompok-bagi-tugas.

FAQ

Rumusan masalah ditulis sebelum atau sesudah latar belakang?

Sesudah, walaupun letaknya nanti berdekatan. Latar belakang yang menjelaskan kenapa topik ini perlu dibahas biasanya memunculkan sendiri pertanyaan yang pantas diajukan. Kalau rumusan ditulis lebih dulu, latar belakang sering berakhir jadi tempelan yang dipaksa menyambung.

Boleh pakai kata tanya mengapa untuk makalah yang bukan penelitian?

Boleh, dan untuk makalah kajian pustaka justru itu yang paling kuat. Yang perlu dijaga: jawaban dari pertanyaan mengapa harus ada di sumber yang kamu baca. Kalau tidak ada, ganti jadi bagaimana atau apa saja.

Apa bedanya rumusan masalah dengan identifikasi masalah?

Identifikasi masalah berisi daftar semua persoalan yang kamu temukan di bacaan atau di lapangan, biasanya lebih dari lima butir. Rumusan masalah adalah bagian kecil dari daftar itu yang kamu pilih untuk dibahas, ditulis sebagai pertanyaan. Banyak panduan kampus hanya meminta rumusan masalah, jadi periksa dulu format yang diminta.

Rumusan masalahnya ternyata tidak bisa dijawab di tengah pengerjaan. Apa yang diubah?

Ubah pertanyaannya, bukan isinya. Mengubah pertanyaan butuh lima menit dan sekaligus memperbaiki tujuan serta kesimpulan. Memaksa pembahasan menjawab pertanyaan yang salah menghasilkan dua sampai tiga halaman yang tidak nyambung ke mana-mana.

Kalau dosen minta rumusan masalah dalam bentuk pernyataan, bukan pertanyaan?

Tulis sebagai pernyataan masalah, lalu tambahkan pertanyaan turunannya kalau diizinkan. Isi dan urutannya tetap sama, dan uji pasangan sub-bab di atas tetap berlaku. Yang penting pembaca masih bisa menunjuk bagian mana yang menangani butir mana.

Berapa lama wajarnya menulis Bab I?

Untuk makalah 12 halaman, latar belakang sampai rumusan masalah bisa selesai dalam dua jam asal bacaannya sudah terkumpul. Yang memakan waktu justru mengumpulkan bahan. Soal menyusun jadwal pengerjaannya ada di /artikel/strategi-belajar-uas-uts-mahasiswa, dan untuk tugas berskala lebih besar urutannya agak berbeda, dibahas di /artikel/panduan-skripsi-dari-nol.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.