Persiapan PTN
CASN
Mahasiswa
Sekolah
Halo semuanya! Selamat datang kembali. Hari ini kita akan membahas trik cepat penalaran logis, khususnya pada Bab satu tentang penalaran deduktif untuk persiapan UTBK.
Mari kita lihat alur berpikir logis. Di sini ada variabel P dan Q. Hubungannya adalah, jika P maka Q. P sebagai sebab dan Q sebagai akibatnya.
Sebagai analogi, bayangkan kunci dan pintu. P adalah kondisi memiliki kunci, dan Q adalah kondisi pintu terbuka. Jika kita punya kunci, maka pintu bisa dibuka.
Pahami dulu simbol dasar logikanya. P dan Q adalah pernyataan. Simbol panah berarti jika maka. Simbol tilde berarti ingkaran atau negasi seperti kata tidak atau bukan. Dan simbol tiga titik artinya kesimpulan atau maka dari itu.
Hati-hati dengan jebakan logika! Jika pernyataannya adalah jika P maka Q, maka menyimpulkan tidak P maka tidak Q adalah salah. Begitu juga menyimpulkan Q maka P. Yang benar hanyalah kontraposisinya, yaitu tidak Q maka tidak P.
Aturan pertama adalah Modus Ponens. Premis satu: jika P maka Q. Premis dua: terjadi P. Maka kesimpulannya adalah Q.
Aturan kedua adalah Modus Tollens. Premis satu: jika P maka Q. Premis dua: tidak terjadi Q. Maka kesimpulannya adalah tidak P.
Aturan ketiga adalah Silogisme atau mata rantai. Jika P maka Q, dan jika Q maka R. Maka kesimpulannya bisa langsung ditarik dari P ke R, yaitu jika P maka R.
Keempat ada trik kontraposisi. Gunakan trik ini jika premis kedua tidak cocok secara langsung dengan bentuk standar di premis pertama.
Lalu ada logika kategoris tentang kata semua versus ada. Secara visual, kita bisa menggunakan diagram venn untuk melihat hubungan antara himpunan A dan himpunan B.
Mari masuk ke contoh satu untuk Modus Ponens. Premis satu: jika hujan, maka jalanan basah. Premis dua: hari ini hujan. Berdasarkan peta logika P maka Q dan P, kesimpulannya adalah jalanan basah.
Contoh dua untuk Modus Tollens. Premis satu: jika rajin, maka lulus ujian. Premis dua: Budi tidak lulus ujian. Karena ini bentuk tidak Q, maka kesimpulannya adalah Budi tidak rajin.
Contoh tiga untuk silogisme berantai. Premis satu: jika lapar, maka makan. Premis dua: jika makan, maka kenyang. Hubungkan P ke Q lalu Q ke R, kesimpulannya: jika lapar, maka kenyang.
Contoh empat untuk logika kategoris. Premis satu: semua atlet hidup sehat. Premis dua: beberapa pemuda adalah atlet. Triknya, gabungkan keduanya sehingga kesimpulannya adalah beberapa pemuda hidup sehat.
Contoh lima untuk trik kontraposisi. Premis satu: jika rajin maka sukses. Premis dua: tidak sukses atau tidak Q. Karena P maka Q setara dengan tidak Q maka tidak P, kesimpulannya adalah tidak rajin.
Aplikasi ini sering muncul dalam hukum dan aturan. Misalnya: jika mencuri maka dihukum. Logikanya, jika seseorang tidak dihukum, berarti dia tidak mencuri.
Ini trik cepatnya, yaitu metode coret! Jika ada P maka Q dan Q maka R, cukup coret variabel Q yang sama di kedua baris. Maka hasilnya langsung tersisa P maka R.
Ingat kesalahan umum siswa! Jangan menganggap P maka Q sama dengan tidak P maka tidak Q. Jangan salah menyimpulkan dan jangan terkecoh dengan kalimat yang dibolak-balik.
Rangkuman emas kita: Modus Ponens artinya jika ada P ambil Q. Modus Tollens jika ada tidak Q ambil tidak P. Silogisme berarti menyambungkan P ke R. Dan untuk kategoris, perhatikan jika ada kata ada atau beberapa.
Selamat belajar dan sukses untuk UTBK kalian! Latih terus kemampuan logika deduktifmu agar semakin tajam.
Sampai jumpa di video pembahasan materi matematika berikutnya!