kuliah#skripsi#jurnal#referensi

Cara Cari Jurnal untuk Skripsi di SINTA, Garuda, Scholar

Urutan kerjanya SINTA dulu, Garuda, baru Google Scholar dengan operator. Lengkap dengan cara menilai satu jurnal layak dikutip dalam tiga menit.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 10 menit baca
Di halaman ini

Cara tercepat mencari jurnal untuk skripsi bukan membuka Google Scholar lebih dulu, tapi membalik urutannya: SINTA untuk tahu jurnal mana yang mutunya sudah dinilai, Garuda untuk mendapatkan teks penuh berbahasa Indonesia, lalu Google Scholar dengan operator untuk menyisir sisanya. Urutan itu penting karena Scholar mengindeks hampir apa saja, termasuk prosiding seminar yang tidak ditelaah dan artikel yang penerbitnya bermasalah. Kalau kamu mulai dari Scholar, waktumu habis untuk memilah, bukan membaca.

Kenapa urutannya SINTA, Garuda, lalu Scholar

Ketiganya menjawab pertanyaan yang berbeda, dan itu sebabnya urutannya tidak bisa ditukar begitu saja.

SINTA menjawab pertanyaan apakah jurnal ini sudah dinilai mutunya oleh asesor nasional. Garuda menjawab apakah artikel ini bisa saya unduh sekarang dan berbahasa Indonesia. Google Scholar menjawab siapa lagi yang menulis soal ini, termasuk yang tidak masuk dua tempat pertama.

Mulai dari SINTA berarti kamu mengumpulkan dulu nama jurnal, bukan nama artikel. Dari situ kamu dapat sepuluh sampai lima belas jurnal yang memang menerbitkan topikmu, dan setelahnya setiap pencarian Scholar bisa kamu arahkan ke jurnal itu saja. Ini perbedaan antara mencari dengan daftar dan mencari dengan kata kunci saja.

Arti akreditasi SINTA S1 sampai S6 untuk skripsimu

PeringkatPosisiPemakaian wajar di skripsi S1
S1 dan S2Peringkat tertinggi, banyak yang juga terindeks internasionalRujukan utama, aman jadi dasar hipotesis
S3 dan S4Lapisan tengah, paling banyak jumlahnyaIsi utama tabel penelitian terdahulu
S5 dan S6Peringkat terbawah, sebagian baru terakreditasiPelengkap, jangan jadi satu-satunya dasar klaim
Tidak terakreditasiBelum dinilai atau akreditasinya sudah lewatHindari untuk klaim utama

Ada satu detail yang sering terlewat. Akreditasi melekat pada jurnal untuk periode tertentu, bukan selamanya dan bukan untuk semua tahun terbitnya. Jadi kalau kamu mengutip artikel terbitan 2016 dari jurnal yang baru terakreditasi S2 pada periode yang jauh setelahnya, menulis jurnal terakreditasi Sinta 2 di sebelah sitasi itu tidak sepenuhnya tepat. Cek periode akreditasinya di halaman jurnalnya, dan kalau tahunnya di luar periode, cukup sebut nama jurnalnya tanpa peringkat.

Satu lagi yang berguna: profil penulis di SINTA bisa kamu pakai sebagai jalan pintas. Kalau kamu menemukan satu peneliti Indonesia yang topiknya sama dengan skripsimu, buka profilnya dan lihat seluruh daftar artikelnya. Biasanya satu peneliti menggarap satu tema selama bertahun-tahun, dan tiga sampai lima artikel yang relevan bisa langsung kamu ambil dari satu halaman.

Garuda untuk jurnal Indonesia yang benar-benar bisa diunduh

Garuda berguna justru untuk masalah yang paling bikin frustrasi: menemukan artikel yang cocok lalu mentok di halaman berbayar. Sebagian besar jurnal nasional terbit secara terbuka, dan Garuda mengumpulkan artikel itu dari situs jurnalnya langsung, jadi tautan unduhnya biasanya hidup.

Cara memakainya yang efektif adalah mencari per jurnal, bukan per kata kunci. Setelah dari SINTA kamu punya daftar nama jurnal, telusuri jurnal itu di Garuda, lalu sisir dua sampai tiga terbitan terakhirnya satu per satu. Terasa lambat, tapi hasilnya lebih baik daripada pencarian kata kunci, karena kata kunci skripsi Indonesia sering tidak seragam. Satu penulis menulis kinerja keuangan, penulis lain menulis profitabilitas, dan pencarian kata kunci akan melewatkan salah satunya.

Garuda juga membantu untuk satu hal yang jarang disadari: melihat ada tidaknya penelitian Indonesia dengan topikmu sebelum kamu mengklaim kekosongan di latar belakang. Klaim gap yang disusun tanpa menyisir Garuda rawan ditembak penguji, dan cara merumuskannya dengan aman dibahas di tabel penelitian terdahulu dan research gap.

Operator Google Scholar yang benar-benar memotong waktu

Scholar baru berguna setelah pencarianmu dipersempit. Lima operator ini yang paling sering dipakai dan sudah cukup untuk hampir semua skripsi.

  1. Tanda kutip untuk frasa tepat. Kata kunci kinerja karyawan tanpa kutip akan membawa artikel apa pun yang memuat dua kata itu di tempat berbeda. Dengan kutip, hanya frasanya yang dicari.
  2. intitle untuk memaksa kata kunci ada di judul. Contohnya intitle:purposive diikuti kata kunci lain. Artikel yang kata kuncimu muncul di judul hampir selalu lebih relevan daripada yang menyebutnya sekali di bagian pembahasan.
  3. author untuk mengikuti satu peneliti. Tulis author diikuti tanda titik dua dan nama belakangnya. Ini pasangan alami dari langkah profil SINTA tadi.
  4. source untuk membatasi ke satu jurnal. Pakai ini begitu kamu tahu dua atau tiga jurnal yang paling sering menerbitkan topikmu.
  5. Tanda minus untuk membuang satu kelompok hasil. Kalau pencarianmu tentang motivasi kerja selalu dipenuhi artikel pendidikan, tambahkan tanda minus di depan kata siswa.

Satu hal yang perlu diperjelas karena sering salah disebut di panduan lain: filetype:pdf tidak bekerja di Google Scholar. Operator itu milik Google biasa. Jadi kalau tujuanmu memanen berkas PDF dari repositori kampus, pindah ke Google biasa dan pakai site:ac.id dipadu filetype:pdf dengan kata kuncimu. Dua mesin yang berbeda, dua operator yang berbeda.

Pakai juga penyaring tahun di sisi kiri halaman Scholar, lalu urutkan berdasarkan relevansi, bukan tanggal. Urutan tanggal terlihat menggoda tapi akan menaruh artikel yang baru dan tidak relevan di atas artikel penting yang terbit tiga tahun lalu. Cara terakhir yang paling sering menyelamatkan: buka tautan dikutip oleh pada satu artikel yang paling pas dengan topikmu. Artikel yang mengutip dia hampir pasti membahas hal yang sama, dan semuanya lebih baru.

Cara menilai satu jurnal layak dikutip dalam tiga menit

Bagian ini yang hampir selalu hilang dari panduan pencarian jurnal, padahal di sinilah skripsi dinilai. Mencari artikel itu mudah, memutuskan artikel mana yang pantas masuk daftar pustaka itu yang susah. Lima pemeriksaan di bawah bisa kamu selesaikan sebelum membaca isinya.

  1. Buka situs jurnalnya, bukan hanya berkas PDF-nya. Jurnal yang sehat punya halaman dewan editor dengan nama dan afiliasi lengkap, halaman proses telaah, dan arsip terbitan yang runtut. Kalau tiga halaman itu tidak ada, berhenti di sini.
  2. Lihat keteraturan terbitnya. Jurnal yang terbit dua kali setahun secara rapi selama lima tahun lebih bisa dipercaya daripada jurnal yang menerbitkan 40 artikel dalam satu bulan lalu sepi setahun.
  3. Hitung jumlah artikel per nomor. Satu nomor berisi 8 sampai 15 artikel itu wajar. Satu nomor berisi 60 artikel adalah tanda bahwa telaahnya tidak mungkin dilakukan dengan sungguh-sungguh.
  4. Periksa apakah ada nomor DOI dan apakah nomornya benar-benar bisa dibuka. DOI yang dicantumkan tapi menuju halaman kosong lebih buruk daripada tidak ada DOI.
  5. Baca bagian metode artikelnya saja, sekitar dua paragraf. Kalau jumlah sampel, cara pengambilan sampel, dan alat analisisnya tidak jelas disebut, artikel itu tidak bisa kamu pakai untuk apa pun, sebaik apa pun kesimpulannya.

Untuk jurnal internasional, satu pemeriksaan tambahan yang cepat: cari nama jurnalnya di DOAJ. Terdaftar di sana bukan jaminan mutu tertinggi, tapi tidak terdaftar sementara jurnalnya mengaku terbuka dan meminta biaya adalah pertanyaan yang pantas kamu ajukan.

Jurnal predator dan tanda yang paling mudah dikenali

Jurnal predator mengambil biaya pemrosesan tanpa melakukan telaah yang sungguh-sungguh. Untuk skripsi, risikonya bukan kamu kehilangan uang, tapi kamu membangun bab teori di atas temuan yang tidak pernah diperiksa siapa pun.

Tanda yang paling sering muncul bersamaan: janji terbit dalam hitungan hari, cakupan bidang yang mencakup semuanya dari kedokteran sampai teknik sipil dalam satu jurnal, alamat redaksi yang hanya berupa alamat surel gratis, nama dewan editor tanpa afiliasi, dan nama jurnal yang nyaris sama dengan jurnal terkenal dengan selisih satu kata.

Cara ujinya sederhana. Ambil satu nama dewan editornya, telusuri nama itu, dan lihat apakah orangnya benar ada dan benar bekerja di bidang itu. Dua menit, dan hasilnya hampir selalu jelas.

Kenapa jurnal terbitan prodi sendiri sering ditolak penguji

Ini kejadian yang berulang dan jarang dijelaskan sebelum sidang. Banyak prodi punya jurnal sendiri yang memuat artikel dosen dan mahasiswanya, dan artikel di situ paling mudah ditemukan serta topiknya paling dekat. Wajar kalau kamu mengutipnya. Masalahnya muncul ketika sebagian besar daftar pustakamu berasal dari satu jurnal itu.

Dari sudut pandang penguji, tiga hal terbaca sekaligus. Pertama, penelusuranmu dangkal, karena mustahil satu jurnal menampung seluruh perbincangan ilmiah tentang topikmu. Kedua, klaim research gap-mu jadi lemah, sebab kekosongan di satu jurnal bukan kekosongan di bidangnya. Ketiga, ada kesan sitasi berputar di lingkaran sendiri, dan itu hal yang memang diawasi di dunia penerbitan ilmiah.

Patokan yang aman: artikel dari jurnal internal kampus maksimal dua atau tiga dari total daftar penelitian terdahulumu, dan jangan jadikan salah satunya sebagai satu-satunya dasar hipotesis. Kalau artikelnya memang paling relevan, kutip, lalu lengkapi dengan satu jurnal nasional terakreditasi dan satu jurnal internasional yang menguji hal serupa. Tiga sumber dari tiga penerbit berbeda yang sepakat jauh lebih kuat daripada lima artikel dari satu jurnal.

Kesalahan yang sering terjadi saat mencari jurnal

Mengutip dari abstrak saja. Hampir selalu ketahuan di sidang karena jumlah sampel atau alat analisisnya salah sebut, dan abstrak jarang memuat keterbatasan penelitian yang justru paling berguna untuk mencari celah.

Mengumpulkan artikel tanpa mencatat apa pun. Setelah 30 artikel, tidak ada yang ingat isi masing-masing. Catat empat hal segera setelah mengunduh: jumlah sampel, cara pengambilan sampel, alat analisis, dan arah hasilnya.

Menyimpan berkas dengan nama bawaan unduhan. Nama seperti 1234-5678-1-SM membuatmu membuka berkas yang sama tiga kali. Ganti namanya jadi nama penulis, tahun, dan dua kata kunci, saat itu juga.

Menghindari artikel yang hasilnya berlawanan dengan dugaanmu. Artikel itu yang paling berharga, karena pertentangan hasil adalah alasan terkuat kenapa penelitianmu perlu ada.

Mengandalkan mesin pencari saja padahal kampusmu berlangganan basis data. Tanyakan ke pustakawan daftar langganan kampusmu, biasanya ada dan biasanya tidak dipakai mahasiswa.

FAQ

Berapa jurnal yang perlu saya baca untuk skripsi S1?

Yang dikutip biasanya 25 sampai 40 sumber, dan yang masuk tabel penelitian terdahulu sekitar 8 sampai 15. Jumlah yang kamu unduh akan jauh lebih banyak dari itu, dan itu normal. Patokan yang lebih berguna daripada jumlah: berhenti menambah ketika lima artikel baru berturut-turut tidak memberimu informasi yang belum kamu catat.

Artikelnya berbayar, apa yang bisa saya lakukan?

Coba empat langkah ini berurutan. Cari judulnya di Google Scholar dan lihat tautan versi lain di sebelah kanan hasil. Cari judulnya di Google biasa dengan filetype:pdf. Cek apakah kampusmu berlangganan basis datanya lewat pustakawan. Terakhir, kirim surel sopan ke penulis pertamanya, dan sebutkan kamu mahasiswa S1 yang sedang menyusun skripsi. Peneliti boleh mengirimkan salinan artikelnya sendiri, dan cara ini lebih sering berhasil daripada yang kamu duga.

Prosiding seminar boleh dipakai sebagai referensi?

Boleh, tapi bobotnya di bawah artikel jurnal karena telaahnya biasanya lebih ringan. Pakai untuk melengkapi gambaran atau mengambil data pendukung, jangan untuk menopang hipotesis utama. Kalau penelitian yang sama juga sudah terbit versi jurnalnya, kutip versi jurnalnya.

Apa bedanya terindeks dan terakreditasi?

Terakreditasi mengacu pada penilaian mutu nasional yang hasilnya berupa peringkat Sinta 1 sampai 6. Terindeks berarti jurnalnya didata oleh satu pangkalan data tertentu, dan ada pangkalan data yang seleksinya ketat serta ada yang menerima hampir semua. Jadi terindeks saja bukan pernyataan tentang mutu sampai kamu tahu terindeks di mana.

Boleh pakai alat bantu AI untuk mencari jurnal?

Boleh untuk memahami satu artikel yang sudah kamu unduh atau untuk mencari istilah pencarian yang lebih baik. Jangan dipakai untuk menghasilkan daftar pustaka, karena judul dan nama penulis yang tidak pernah ada bisa muncul dan terbaca sangat meyakinkan. Aturannya satu: setiap sumber yang masuk daftar pustakamu harus pernah kamu buka sendiri. Kalau kamu mencatat sambil membaca, tahapan menyusun babnya jadi jauh lebih ringan, dan urutan keseluruhannya ada di panduan skripsi dari nol.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.