Cara Membuat Tabel Penelitian Terdahulu dan Research Gap
Tabel penelitian terdahulu butuh enam kolom, dan kolom terakhirnya yang menentukan. Cara memancing empat jenis research gap dari satu jurnal saja.
Di halaman ini
- Yang sebenarnya dicari penguji di tabel itu
- Enam kolom yang bikin tabelmu dipakai
- Empat jenis gap, dipakai sebagai alat cari
- Kenapa population gap celah paling murah untuk mahasiswa Indonesia
- Cara menulis klaim gap tanpa terdengar mengada-ada
- Berapa jurnal yang cukup dan dari tahun berapa
- Kesalahan yang sering terjadi di tabel penelitian terdahulu
- FAQ
- Apakah penelitian terdahulu harus dari jurnal internasional?
- Boleh tidak memakai skripsi atau tesis sebagai penelitian terdahulu?
- Bagaimana kalau topik saya terlalu baru dan penelitian terdahulunya tidak ada?
- Research gap harus ada berapa?
- Tabel penelitian terdahulu diletakkan di mana?
Tabel penelitian terdahulu yang lolos sidang isinya enam kolom, dan yang menentukan adalah kolom paling kanan: perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut. Kolom itu yang mengubah tabelmu dari daftar bacaan jadi alat argumen, karena di situ research gap kelihatan. Masalahnya kolom itu paling sering diisi kalimat kosong seperti objek penelitian berbeda atau tahun penelitian berbeda. Padahal research gap tidak dicari dengan membaca sebanyak mungkin lalu menunggu ide datang, tapi dengan menembakkan empat pertanyaan tetap ke satu jurnal.
Yang sebenarnya dicari penguji di tabel itu
Penguji membaca tabelmu untuk satu hal: memastikan skripsimu belum dikerjakan orang lain dengan cara yang sama. Jadi yang dia periksa bukan jumlah barisnya. Dia mencari dua hal, yaitu dua penelitian yang hasilnya saling bertentangan, dan satu penelitian yang paling mirip dengan rencanamu.
Kalau ada jurnal dengan variabel dan metode yang nyaris identik dengan punyamu lalu kamu tidak menyebutnya, itu jauh lebih berbahaya daripada tabel yang cuma berisi delapan baris. Taruh jurnal paling mirip di baris pertama. Jangan diselipkan di baris kesembilan belas dengan harapan terlewat, karena penguji yang sudah menguji topik ini bertahun-tahun biasanya hafal jurnal itu.
Enam kolom yang bikin tabelmu dipakai
| Kolom | Yang ditulis | Panjang wajar |
|---|---|---|
| Penulis dan tahun | Nama belakang penulis pertama dan tahun terbit | 1 baris |
| Judul dan sumber | Judul dipotong, nama jurnal, akreditasi atau indeksnya | 1 sampai 2 baris |
| Variabel | X dan Y ditulis terpisah, sebut juga variabel kontrol | 2 baris |
| Metode | Jenis data, teknik sampling, jumlah sampel, alat analisis | 2 sampai 3 baris |
| Hasil | Arah hubungan dan signifikansinya, bukan kesimpulan umum | 2 baris |
| Perbedaan | Satu kalimat yang menyebut apa yang belum dijawab jurnal itu | 2 baris |
Kolom metode sering ditulis seadanya padahal itu kolom yang paling berguna nanti. Jumlah sampel dan teknik samplingnya yang akan kamu pakai untuk membandingkan, dan dari situ gap paling mudah muncul. Jurnal yang memakai 86 responden di satu kampus dan jurnal yang memakai 1.200 responden di delapan provinsi tidak bisa diperlakukan sebagai bukti yang sama kuat, dan perbedaan itu baru kelihatan kalau angkanya kamu catat.
Empat jenis gap, dipakai sebagai alat cari
Kebanyakan penjelasan menyajikan jenis research gap sebagai materi hafalan. Lebih berguna kalau keempatnya kamu perlakukan sebagai empat pertanyaan yang ditembakkan ke satu jurnal yang sama. Ambil satu jurnal yang paling dekat dengan topikmu, sediakan 20 menit, lalu jawab empat pertanyaan ini sambil membaca bagian metode dan keterbatasan penelitiannya.
- Population gap. Siapa yang diteliti, dan siapa yang justru tidak masuk sampel?
- Methodological gap. Cara mengukurnya apa, dan apa yang tidak tertangkap oleh cara itu?
- Evidence gap. Hasilnya searah dengan penelitian lain di tabelmu, atau bertentangan?
- Theoretical gap. Teori apa yang dipakai sebagai lensa, dan lensa lain apa yang belum dicoba?
Misalnya kamu membaca penelitian tentang pengaruh literasi keuangan terhadap perilaku menabung pada 200 mahasiswa di satu kota, datanya kuesioner skala Likert, analisisnya regresi linear. Keempat jawabannya bisa keluar sekaligus. Populasinya hanya mahasiswa kampus negeri reguler, jadi mahasiswa kelas karyawan yang sudah berpenghasilan belum terwakili. Pengukurannya laporan diri, jadi yang terukur adalah niat menabung, bukan perilaku menabung yang sebenarnya. Hasilnya signifikan positif, padahal ada penelitian lain di tabelmu yang menemukan hubungan itu tidak signifikan, dan pertentangan itu belum ada yang menjelaskan. Lensanya murni literasi keuangan, belum ditambah faktor kontrol diri atau tekanan teman sebaya.
Satu jurnal, empat kandidat gap. Kamu tinggal memilih satu yang datanya paling realistis kamu kejar dalam satu semester, dan sisanya masuk ke bagian saran untuk penelitian selanjutnya.
Kenapa population gap celah paling murah untuk mahasiswa Indonesia
Tiga gap yang lain menuntut sumber daya yang biasanya tidak kamu punya. Methodological gap berarti kamu harus punya instrumen atau akses data yang lebih baik daripada penelitian sebelumnya, dan itu mahal. Theoretical gap akan ditagih penguji dengan pertanyaan teori yang dalam, dan kalau bacaanmu belum sampai situ, sidangnya berat. Evidence gap mengharuskan kamu sudah membaca cukup banyak untuk menemukan dua hasil yang bertentangan, lalu kamu wajib punya dugaan kenapa bertentangan.
Population gap posisinya berbeda, dan ini bagian yang jarang dibilang terang-terangan. Hampir semua literatur internasional yang kamu kutip dikumpulkan di tempat yang tidak mirip Indonesia, sementara Indonesia sendiri heterogen dan sebagian besar kelompoknya belum pernah jadi sampel siapa pun. Mahasiswa kelas karyawan, kampus swasta kecil di kota kabupaten, mahasiswa perantau tahun pertama, pelaku UMKM di luar Jawa, koperasi desa, santri di pesantren yang punya unit usaha. Ongkos terbesarnya adalah mengumpulkan data, dan itu justru bagian yang kamu pegang sendiri.
Tapi ada satu syarat yang tidak boleh dilewat. Population gap hanya sah kalau populasi barunya punya alasan teoretis kenapa hasilnya bisa berbeda. Mengganti kota tanpa alasan cuma akan dibaca penguji sebagai objek berbeda, dan itu bukan gap. Kalau kamu memilih mahasiswa kelas karyawan, alasannya ada: mereka punya penghasilan sendiri, jadi keputusan menabung tidak dibatasi uang kiriman orang tua, sehingga mekanisme hubungannya memang bisa lain. Tulis alasan itu, bukan cuma lokasinya.
Cara menulis klaim gap tanpa terdengar mengada-ada
Ada tiga aturan yang membuat klaim gap aman dibaca penguji.
Pertama, jangan pernah menulis belum ada penelitian yang membahas. Kamu tidak bisa membuktikan kalimat itu dan satu jurnal yang luput sudah cukup untuk menjatuhkannya di sidang. Tulis batas penelusuranmu: sejauh penelusuran penulis pada SINTA dan Google Scholar hingga Agustus 2026, penelitian yang menguji X pada kelompok Y masih terbatas. Sebutkan di mana kamu mencari dan sampai kapan.
Kedua, gantung klaim itu pada tabelmu sendiri. Dari sembilan penelitian pada Tabel 2.1, tujuh mengambil sampel perusahaan manufaktur dan tidak satu pun menguji sektor jasa keuangan. Angka membuat klaimmu bisa diperiksa, dan justru karena bisa diperiksa klaim itu terdengar jujur. Klaim tanpa angka terdengar seperti tebakan.
Ketiga, sebutkan akibatnya, bukan cuma kekosongannya. Satu kalimat sudah cukup: selama gap ini belum diisi, kita belum tahu apakah temuan tentang X masih berlaku ketika respondennya sudah berpenghasilan sendiri. Kekosongan yang tidak punya akibat tidak akan terdengar penting bagi siapa pun.
Kerangka kalimatnya bisa kamu pakai apa adanya. Penelitian terdahulu konsisten menemukan A, lalu sebut tiga jurnal dari tabelmu. Namun seluruhnya mengambil sampel B. Karena alasan C, hasil pada kelompok D belum tentu sama. Penelitian ini menguji A pada D.
Berapa jurnal yang cukup dan dari tahun berapa
Jumlahnya berbeda tiap prodi, jadi panduan skripsi kampusmu yang menang. Pola yang paling sering dipakai untuk S1 adalah 8 sampai 15 penelitian terdahulu, mayoritas lima tahun terakhir, dengan beberapa jurnal internasional agar tidak terlihat berputar di lingkaran sitasi lokal saja.
Dua pengecualian yang wajar untuk aturan lima tahun. Jurnal sumber teori aslinya boleh tua, bahkan harus, karena mengutip teori dari artikel yang hanya meneruskannya membuatmu kehilangan definisi aslinya. Begitu juga artikel yang pertama memperkenalkan instrumen pengukuran yang kamu pakai. Dua jenis itu dikutip dari sumber pertamanya.
Satu hal yang sering salah: jangan membuang jurnal yang hasilnya bertentangan dengan hipotesismu. Jurnal itu bahan paling berharga di tabelmu, karena dari pertentangan hasil itulah alasan penelitianmu perlu ada jadi paling kuat. Kalau semua barismu menemukan hasil yang sama, pertanyaan wajarnya adalah kenapa topik ini perlu diteliti lagi.
Urutan kerjanya ada di cara mencari jurnal referensi skripsi, dan gambaran utuh tahapan skripsinya ada di panduan skripsi dari nol.
Kesalahan yang sering terjadi di tabel penelitian terdahulu
Kolom perbedaan diisi objek dan tahun penelitian berbeda. Ini kesalahan nomor satu dan hampir selalu ditanya di sidang, karena kalimat itu berlaku untuk penelitian apa pun di dunia.
Tabel berisi skripsi senior, bukan jurnal. Skripsi tidak melewati telaah sejawat, jadi bobotnya tidak sama. Boleh dipakai satu atau dua sebagai pelengkap, tidak boleh jadi mayoritas.
Hasil ditulis sebagai kesimpulan umum. Berpengaruh positif tidak memberi informasi apa pun. Tulis arah, signifikansi, dan kalau ada besarannya, misalnya berpengaruh positif signifikan pada taraf 5 persen dengan koefisien determinasi 0,41.
Gap diklaim di Bab 1 lalu hilang. Penguji memeriksa tiga tempat sekaligus: gap di latar belakang, tabel di Bab 2, dan jawaban atas gap itu di kesimpulan. Kalau ketiganya tidak saling menyebut, pertanyaan pertama di sidang sudah bisa diduga.
Mengutip hanya dari abstrak. Ini selalu ketahuan karena jumlah sampel atau teknik analisisnya salah sebut, dan abstrak jarang memuat keterbatasan penelitian yang justru paling berguna untuk mencari gap.
FAQ
Apakah penelitian terdahulu harus dari jurnal internasional?
Tidak harus semuanya, tapi sebaiknya ada. Campuran yang aman untuk S1 adalah mayoritas jurnal nasional terakreditasi ditambah tiga sampai lima jurnal internasional, terutama untuk bagian teori dan instrumen. Jurnal internasional juga sumber paling cepat untuk menemukan population gap, karena sampelnya hampir pasti bukan Indonesia.
Boleh tidak memakai skripsi atau tesis sebagai penelitian terdahulu?
Boleh sebagai pelengkap, dengan catatan. Skripsi tidak melewati telaah sejawat sehingga tidak bisa menopang klaim utamamu. Kalau skripsi itu memakai data yang sulit didapat, kutip, tapi sebut jelas bahwa itu skripsi dan jangan jadikan satu-satunya dasar hipotesis.
Bagaimana kalau topik saya terlalu baru dan penelitian terdahulunya tidak ada?
Biasanya yang tidak ada adalah kombinasi variabelmu, bukan variabelnya. Pecah topikmu jadi dua atau tiga bagian, cari penelitian untuk tiap bagian secara terpisah, lalu susun tabelmu per bagian. Kekosongan kombinasi itu sendiri justru gap yang bisa kamu klaim, selama kamu bisa menjelaskan kenapa kedua bagian itu layak disatukan.
Research gap harus ada berapa?
Satu yang dikerjakan sungguh-sungguh lebih baik daripada empat yang disebut sambil lalu. Pilih satu gap sebagai dasar rumusan masalah, lalu letakkan gap lain yang kamu temukan di bagian saran penelitian selanjutnya. Mengklaim empat gap sekaligus membuat penguji menagih keempatnya dijawab di Bab 5.
Tabel penelitian terdahulu diletakkan di mana?
Umumnya di akhir Bab 2 setelah uraian teori dan sebelum kerangka pemikiran, karena posisinya memang sebagai jembatan ke hipotesis. Beberapa prodi meminta tabelnya di lampiran dengan ringkasan naratif di Bab 2. Ikuti panduan kampusmu, dan apa pun posisinya, pastikan gap di Bab 1 merujuk ke tabel itu.
Artikel Terkait
Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?
Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.
