kuliah#zotero#mendeley#skripsi#sitasi

Zotero atau Mendeley: Pilih yang Mana untuk Skripsi

Dipilih dari batasan nyata skripsi: kuota unggahan PDF, gaya sitasi kampus, Google Docs, dan library kelompok. Bukan dari daftar fitur yang panjang.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 8 menit baca
Di halaman ini

Untuk skripsi, pilih Zotero kalau kamu menulis di Google Docs, memakai laptop lab yang memblokir add-in, atau butuh gaya sitasi yang aneh dari prodi. Pilih Mendeley kalau kamu hanya menulis di Word dan ingin kuota unggahan PDF yang lega tanpa menyentuh pengaturan apa pun. Dua-duanya gratis dan dua-duanya cukup untuk menyelesaikan skripsi, jadi pertanyaan yang benar bukan mana yang lebih bagus, tapi batasan mana yang akan kamu tabrak lebih dulu.

Daftar fitur tidak banyak menolong di sini, karena keduanya bisa menyimpan referensi, menyisipkan sitasi, dan membuat daftar pustaka otomatis. Yang membedakan adalah hal-hal yang baru terasa di bulan ketiga, saat PDF-mu sudah ratusan dan dosen pembimbing minta gaya sitasi diubah.

Jawaban cepat menurut kondisimu

KondisimuPilihAlasannya
Menulis bareng kelompok di Google DocsZoteroMendeley Cite hanya untuk Word
Hanya menulis di Word pribadiKeduanya amanMendeley sedikit lebih sederhana
Laptop lab memblokir add-in OfficeZoteroPlugin-nya dipasang dari aplikasi, bukan toko add-in
Prodi memakai gaya sitasi buatan sendiriZoteroBerkas gaya bisa dipasang dan diedit
Akan mengumpulkan ratusan PDFZotero dengan folder tertautKuota bisa dibuat tidak relevan
Tidak mau mengatur apa punMendeleyKuota gratisnya lebih besar sejak awal
Kampus pakai LibreOfficeZoteroMendeley Cite tidak mendukungnya

Kalau kondisimu ada di dua baris yang berbeda arah, baca dua bagian berikut sebelum memutuskan.

Kuota penyimpanan, dan kenapa angkanya bisa jadi tidak penting

Zotero memberi 300 MB gratis. Mendeley memberi 2 GB. Dari angkanya, Mendeley menang jauh, dan untuk banyak orang keputusannya berhenti di situ.

Tapi 300 MB itu hanya berlaku untuk berkas yang kamu titipkan ke server Zotero. Zotero punya pengaturan bernama Linked Attachment Base Directory, dan dengan itu PDF-mu disimpan di folder biasa di laptopmu, misalnya folder di dalam Google Drive atau OneDrive yang sudah kamu pakai. Yang tersinkron ke Zotero hanya catatan dan metadatanya, dan itu ringan sekali. Dengan cara ini, 600 PDF jurnal tidak akan pernah menyentuh kuota 300 MB.

Perbandingan yang jujur jadi begini. Mendeley lebih lega kalau kamu tidak mau mengatur apa-apa. Zotero praktis tanpa batas kalau kamu mau menghabiskan sepuluh menit sekali seumur hidup untuk mengarahkan folder penyimpanan.

Satu catatan tambahan. Sebagian kampus punya langganan institusi yang menaikkan kuota Mendeley mahasiswanya. Tanya perpustakaan sebelum kamu membandingkan angka gratisnya, karena kalau kampusmu termasuk, bagian ini tidak lagi jadi pembeda.

Gaya sitasi yang diwajibkan kampus

Ini pembeda yang paling sering diremehkan dan paling mahal kalau salah.

Keduanya memakai standar gaya yang sama di belakang layar, dan keduanya menyediakan APA, IEEE, Vancouver, dan Harvard. Masalahnya, panduan skripsi di Indonesia sering memuat gaya yang bukan salah satu dari itu. Panduan prodimu bisa meminta APA dengan nama penulis dibalik, atau Harvard dengan tahun di dalam kurung kurawal, atau format yang hanya ada di dokumen panduan itu sendiri.

Di Zotero, berkas gaya bisa diunduh dari repositori gaya, dipasang satu klik, dan diedit kalau kamu nekat. Di Mendeley, kamu memilih dari daftar yang bisa dicari, dan ruang untuk mengubah detail jauh lebih sempit.

Jadi cek dulu panduan skripsi prodimu sebelum memilih aplikasi. Kalau yang diminta adalah APA 7 atau IEEE polos, perbedaan ini tidak akan pernah kamu rasakan. Kalau yang diminta adalah gaya khas kampus, Zotero menyelamatkan satu malam penuh di minggu pengumpulan. Urutan kerja yang membuat masalah gaya tidak menumpuk di akhir ada di panduan skripsi dari nol.

Google Docs, LibreOffice, dan Mac

Mendeley Cite bekerja di Microsoft Word versi 2016 ke atas dan Microsoft 365, termasuk Word untuk Mac dan Word di browser. Di luar Word, tidak ada. Tidak ada Google Docs dan tidak ada LibreOffice. Kalau kamu baru akan memasangnya, ada hal lain yang perlu kamu tahu lebih dulu, karena menu pemasangannya sudah berpindah tempat dan kebanyakan tutorial masih memandu menu yang sudah hilang. Rinciannya di cara memakai Mendeley di Word versi terbaru.

Zotero punya plugin untuk Word, LibreOffice, dan Google Docs. Yang Google Docs ini penting bukan karena keren, tapi karena banyak skripsi kelompok dan tugas akhir kolaboratif memang lahir di Google Docs, lalu dipindah ke Word di akhir. Memindah dokumen yang sitasinya dipasang Zotero dari Google Docs ke Word bisa dilakukan tanpa kehilangan sitasi, dan itu satu kerumitan yang tidak perlu kamu pikirkan.

Di Mac, keduanya jalan. Zotero punya aplikasi untuk Windows, macOS, dan Linux. Mendeley Reference Manager juga tersedia untuk ketiganya. Kalau laptopmu Linux dan kamu menulis di LibreOffice, pilihannya praktis sudah tertutup ke Zotero.

Satu library untuk satu kelompok

Kalau tugas akhirmu dikerjakan berkelompok, atau kamu dan dua teman seangkatan mengumpulkan bahan untuk topik yang mirip, membagi satu library menghemat banyak waktu. Jurnal yang sudah dibaca satu orang tidak perlu dicari ulang dua orang lain.

Zotero menyediakan group library. Anggota bisa menambah referensi, memberi tag, dan menulis catatan di dalam satu kumpulan yang sama. Yang perlu diperhatikan, berkas PDF di library kelompok dihitung ke kuota pemilik grup, bukan dibagi rata. Jadi tunjuk satu orang sebagai pemilik, dan kalau kelompokmu menumpuk PDF, pakai folder tertaut seperti di bagian kuota tadi.

Mendeley juga punya grup privat, tapi batas anggotanya lebih ketat dan sebaiknya kamu cek dulu di akunmu sebelum mengandalkannya untuk kelas besar.

Satu kebiasaan yang membuat library kelompok berguna atau sia-sia. Sepakati format tag dari hari pertama, misalnya satu tag untuk variabel dan satu tag untuk metode. Library berisi 200 PDF tanpa tag sama tidak bergunanya dengan folder Download. Cara mencatat temuan supaya tidak perlu membaca ulang jurnal yang sama dua kali ada di cara membuat catatan kuliah yang efektif.

Kalau sudah jalan di salah satunya, pindah atau tidak

Jangan pindah di tengah penulisan. Itu jawaban singkatnya.

Memindah library bisa dilakukan. Keduanya bisa mengekspor dan mengimpor berkas BibTeX atau RIS, jadi daftar referensimu akan sampai. Yang tidak ikut pindah adalah sitasi yang sudah tertanam di dokumen Word. Sitasi itu tersimpan sebagai field milik plugin lama, dan plugin baru tidak mengenalinya. Hasilnya, kamu harus menyisipkan ulang semua sitasi satu per satu di dokumen yang sudah seratus halaman.

Waktu yang aman untuk pindah ada dua. Sebelum kamu menulis kalimat pertama bab satu, atau setelah skripsi dikumpulkan dan kamu menyiapkan artikel jurnal dari isinya.

Kalau kamu sudah di bab tiga dan baru sadar aplikasimu tidak mendukung gaya yang diminta prodi, pilihan yang lebih murah adalah menyelesaikan dokumen dengan aplikasi yang sekarang, lalu merapikan daftar pustaka dengan tangan di akhir. Memperbaiki 40 entri daftar pustaka lebih cepat daripada memasang ulang 120 sitasi dalam teks.

Kesalahan yang sering terjadi

  • Memilih aplikasi dari jumlah fiturnya. Kamu hanya akan memakai tiga fungsi, dan keduanya punya ketiganya.
  • Mengandalkan kuota gratis tanpa mengatur penyimpanan, lalu kehabisan ruang di bulan keempat saat sinkron berhenti tanpa kamu sadari.
  • Mengimpor PDF tanpa memeriksa metadatanya. Judul dan tahun yang terbaca otomatis sering salah, terutama untuk PDF hasil pindaian, dan daftar pustakamu akan mewarisi semua kesalahan itu.
  • Menyimpan PDF di folder Download lalu menautkannya. Folder itu kamu bersihkan tiap beberapa bulan, dan tautannya akan mati semua.
  • Memakai dua aplikasi sekaligus dalam satu dokumen. Fieldnya bertabrakan dan daftar pustakamu akan terbelah dua.
  • Percaya begitu saja pada sitasi yang dihasilkan. Periksa nama penulis dan tahun pada sepuluh entri pertama, karena kesalahan di metadata akan muncul di setiap tempat entri itu dipakai.

Pertanyaan yang sering muncul

Dosen pembimbing saya minta Mendeley. Boleh pakai Zotero?

Biasanya boleh, karena yang dinilai adalah format sitasi di dokumen akhir, bukan aplikasi yang menghasilkannya. Dokumen Word yang sitasinya dari Zotero terlihat sama persis dengan yang dari Mendeley. Tapi kalau pembimbingmu akan ikut mengedit berkasnya dan memakai plugin Mendeley di laptopnya, ikuti saja permintaannya, karena dua plugin di satu dokumen memang bermasalah.

Mana yang lebih baik untuk membaca dan menandai PDF?

Keduanya punya pembaca PDF dengan sorotan dan catatan. Zotero juga bisa menarik seluruh sorotanmu menjadi satu catatan yang bisa kamu tempel ke dokumen, dan itu berguna saat menyusun bab dua.

Apakah keduanya benar-benar gratis?

Aplikasi dan plugin-nya gratis di keduanya. Yang berbayar hanya tambahan kuota penyimpanan awan, dan untuk skripsi kamu bisa menghindarinya sepenuhnya.

Kalau laptop saya rusak, library-nya hilang?

Tidak, selama kamu login dan sinkron menyala. Metadata tersimpan di server. Tapi kalau PDF-mu disimpan di folder tertaut di laptop, berkas itu ikut hilang bersama laptop, jadi taruh folder tertaut itu di dalam folder yang disinkronkan layanan awan.

Bisa dipakai untuk mencari jurnal juga?

Keduanya punya ekstensi browser yang menyimpan artikel dari halaman web dengan satu klik, dan itu bagian terbaiknya. Tapi mencari sumber yang layak tetap pekerjaan terpisah, dan cara menilai layak atau tidaknya sebuah jurnal dibahas di cara menilai metode dalam review jurnal.

Saya sudah pakai Mendeley sejak semester lalu dan baru akan menulis skripsi. Perlu pindah?

Kalau kamu menulis di Word dan gaya sitasi prodimu tersedia di daftar, tidak perlu. Waktu dan tenagamu lebih berguna dipakai untuk membaca sepuluh jurnal lagi.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.