kuliah#skripsi#analisis data kualitatif#miles huberman

Analisis Data Kualitatif Miles Huberman Beserta Contohnya

Satu kutipan wawancara ditelusuri dari transkrip mentah sampai jadi satu baris temuan di Bab 4, plus format tabel koding yang bisa langsung kamu pakai.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 10 menit baca
Di halaman ini

Analisis data kualitatif model Miles dan Huberman terdiri atas tiga tahap yang berjalan bolak-balik, bukan berurutan sekali jalan: reduksi data, penyajian data, lalu penarikan kesimpulan dan verifikasi. Yang dicari penguji bukan definisi ketiganya, karena definisi itu ada di buku metode mana pun. Yang dicari adalah jejaknya, yaitu tabel koding dan matriks penyajian yang memperlihatkan bagaimana satu kalimat dari mulut informan berubah jadi satu baris temuan di Bab 4. Artikel ini mengerjakan satu kutipan sampai selesai supaya jejak itu kelihatan bentuknya.

Tiga tahap itu, masing-masing satu kalimat

Reduksi data adalah memadatkan dan memfokuskan data mentah menjadi kode dan tema, tanpa menghapus data aslinya. Penyajian data adalah menyusun data yang sudah dipadatkan ke dalam bentuk yang bisa dilihat sekaligus, biasanya matriks, agar pola antar informan tampak. Penarikan kesimpulan dan verifikasi adalah merumuskan temuan lalu mengujinya terhadap data yang ada, termasuk terhadap data yang tidak mendukungnya.

Satu hal yang membuat model ini sering disalahpahami: ketiga tahap itu dikerjakan bersama pengumpulan data, bukan setelahnya. Kamu mengodekan wawancara pertama sebelum wawancara kedua, dan hasil koding itu mengubah pertanyaan yang kamu ajukan berikutnya. Urutan inilah yang memungkinkan saturasi diukur, dan aturan berhentinya dijelaskan di berapa jumlah informan penelitian kualitatif.

Satu kutipan, empat wujud

Misalnya penelitianmu tentang penyebab mahasiswa menunda bimbingan skripsi. Informan ketiga mengatakan ini, dan transkripnya sudah diberi nomor baris.

Wujud pertama, transkrip mentah, baris 112 sampai 118.

"Sebenarnya data saya sudah lengkap dari bulan Februari. Cuma tiap mau kirim draf itu rasanya kurang terus. Saya takut dibilang belum ngapa-ngapain padahal sudah tiga bulan. Jadi saya tunda, saya baca-baca jurnal lagi biar lebih siap, tapi malah makin lama. Teman saya itu kirim aja walaupun masih jelek, dan dia selesai lebih cepat dari saya."

Wujud kedua, setelah dikode. Satu kutipan dipotong menjadi beberapa satuan makna, dan tiap satuan diberi satu kode.

PotonganKode
data saya sudah lengkap dari bulan Februaridata sudah tersedia sejak awal
tiap mau kirim draf rasanya kurang terusstandar diri yang tidak pernah terpenuhi
takut dibilang belum ngapa-ngapaintakut dinilai belum bekerja
saya baca-baca jurnal lagi biar lebih siappenundaan berbalut kegiatan persiapan
malah makin lamapenundaan menumpuk sendiri
teman saya kirim aja walaupun masih jelek, dia selesai lebih cepatsadar ada cara lain yang lebih cepat

Perhatikan bahwa kodenya bukan ringkasan isi kutipan. Kode adalah nama untuk gagasan di balik potongan itu, dan karena itu kode yang sama bisa muncul pada informan lain yang kata-katanya sama sekali berbeda. Di situlah gunanya.

Wujud ketiga, setelah kode dikelompokkan jadi tema. Enam kode di atas tidak masuk ke satu tema, dan itu normal. Satu kutipan memang bisa memasok dua tema sekaligus.

Tema A, rasa takut dinilai sebagai pemicu utama penundaan, berisi kode takut dinilai belum bekerja dan standar diri yang tidak pernah terpenuhi. Tema B, penundaan yang menyerupai kerja, berisi kode penundaan berbalut kegiatan persiapan, data sudah tersedia sejak awal, dan penundaan menumpuk sendiri. Kode sadar ada cara lain yang lebih cepat belum masuk tema mana pun pada tahap ini, dan kode seperti itu jangan dihapus. Simpan di daftar kode belum berumah, lalu lihat apakah informan lain memunculkannya juga. Kalau akhirnya hanya satu informan, itu jadi kasus tunggal yang tetap pantas dilaporkan.

Wujud keempat, setelah jadi temuan di Bab 4. Begini bentuknya.

Penundaan bimbingan pada informan penelitian ini tidak berangkat dari ketidaksiapan data. Lima dari tujuh informan menyatakan data mereka sudah terkumpul sebelum mereka berhenti berkonsultasi. Yang menahan adalah kekhawatiran dinilai belum bekerja, sebagaimana diungkapkan Informan 3: "Saya takut dibilang belum ngapa-ngapain padahal sudah tiga bulan." Kekhawatiran itu tidak muncul sebagai berhenti bekerja, melainkan sebagai kegiatan yang tampak produktif. Informan yang sama menyebut dirinya membaca jurnal lagi biar lebih siap, dan empat informan lain menyebut kegiatan sejenis seperti memperbaiki format atau menambah referensi. Dengan kata lain, kegiatan persiapan berfungsi sebagai cara menunda yang terasa sah, sehingga penundaan itu sendiri tidak disadari sebagai penundaan.

Yang mengubah kutipan jadi temuan ada tiga hal di paragraf itu. Pertama, hitungan lintas informan, yaitu lima dari tujuh. Kedua, kutipan dipakai sebagai bukti untuk pernyataan yang sudah kamu buat lebih dulu, bukan sebagai pengganti pernyataan. Ketiga, ada satu kalimat tafsiran di akhir yang menjelaskan artinya. Bab 4 yang hanya menumpuk kutipan berurutan kehilangan ketiganya sekaligus.

Format tabel koding yang bisa langsung dipakai

Satu tabel untuk seluruh penelitian, diisi terus sejak wawancara pertama. Letakkan di lampiran, lalu rujuk nomor barisnya dari Bab 4.

KodePotongan kutipanInformanBarisTema
takut dinilai belum bekerjatakut dibilang belum ngapa-ngapainI3114A
takut dinilai belum bekerjamalu kalau cuma bawa satu halamanI567A
penundaan berbalut kegiatan persiapanbaca-baca jurnal lagi biar lebih siapI3116B
penundaan berbalut kegiatan persiapansaya rapiin dulu formatnya semingguI1203B
data sudah tersedia sejak awaldata saya sudah lengkap dari FebruariI3112B

Empat kebiasaan kecil yang membuat tabel ini berguna, bukan cuma pelengkap lampiran. Beri nomor baris pada setiap transkrip sejak awal, karena tanpa nomor baris kamu tidak akan bisa menemukan lagi kutipan yang kamu butuhkan di Bab 4. Pakai kode informan seperti I1 sampai I7, bukan nama, dan simpan daftar penghubung nama dengan kode itu di berkas terpisah yang tidak ikut dilampirkan. Jangan menghaluskan potongan kutipan di kolom kedua, biarkan apa adanya termasuk bahasa sehari-harinya, karena perbaikan bahasa dilakukan nanti hanya saat kutipan dimasukkan ke Bab 4 dan hanya untuk kejelasan. Terakhir, jaga daftar kodemu tetap pendek. Dua puluh sampai empat puluh kode untuk tujuh informan itu wajar. Kalau kodemu mencapai ratusan, artinya kamu memberi nama pada kalimat, bukan pada gagasan.

Alat bantunya tidak harus perangkat lunak khusus. Spreadsheet sudah cukup untuk skripsi S1, dan kelebihannya kamu bisa menyaring per kode atau per informan dalam sekali klik.

Penyajian data: matriks, bukan tumpukan kutipan

Tahap kedua Miles dan Huberman paling sering dikerjakan setengah, yaitu kutipan disusun berurutan lalu disebut sebagai penyajian data. Padahal maksud tahap ini adalah melihat seluruh data sekaligus dalam satu tampilan agar polanya muncul. Bentuk yang paling berguna untuk skripsi adalah matriks tema dikali informan.

TemaI1I2I3I4I5I6I7
A. Takut dinilai belum bekerjaadaadaadaadaada
B. Penundaan berbalut persiapanadaadaadaadaada
C. Jadwal bimbingan sulit disesuaikanadaadaadaada

Matriks ini memberi dua hal yang tidak bisa diberikan tumpukan kutipan. Ia memberi angka untuk kalimat lima dari tujuh di Bab 4, sehingga klaimmu bisa diperiksa. Dan ia memperlihatkan sel yang kosong, yang justru paling menarik: dua informan yang tidak menyebut tema A sama sekali layak kamu periksa apa bedanya dengan lima lainnya. Dari pemeriksaan itulah pembahasan di Bab 5 biasanya jadi tajam.

Penarikan kesimpulan dan verifikasi

Kesimpulan kualitatif tidak diambil dari tema yang paling banyak muncul. Diambil dari jawaban atas rumusan masalahmu, satu rumusan satu jawaban, dalam urutan yang sama seperti di Bab 1.

Verifikasi berarti kamu mencoba menjatuhkan temuanmu sendiri lewat tiga cara. Bandingkan dengan sumber lain, misalnya catatan bimbingan atau dokumen, dan sebut kalau ada yang tidak cocok. Kembalikan tafsiranmu kepada dua atau tiga informan dan tanyakan apakah mereka merasa itu menggambarkan pengalaman mereka. Lalu cari kasus yang menyimpang, yaitu informan yang pengalamannya melawan temuanmu. Kasus menyimpang itu bukan cacat, dan menyebutnya justru membuat temuanmu lebih dipercaya karena memperlihatkan batas berlakunya.

Reduksi data bukan membuang data

Ini salah kaprah yang paling sering muncul dan paling mahal akibatnya. Kata reduksi membuat banyak orang membaca tahap pertama sebagai menyaring data yang tidak terpakai lalu menghapusnya. Pada edisi yang lebih baru, istilah yang dipakai justru berubah menjadi pemadatan data, dan perubahan istilah itu memang dimaksudkan untuk menutup kesalahpahaman ini. Yang dipadatkan adalah bentuknya, bukan jumlahnya.

Akibat praktisnya ada tiga. Transkrip lengkapmu tetap disimpan utuh sampai sidang selesai, karena satu pertanyaan penguji bisa menuntutmu membuka baris 112 saat itu juga. Kutipan yang tidak cocok dengan tema mana pun tidak dihapus, melainkan masuk daftar kode belum berumah, dan sebagian di antaranya nanti jadi kasus menyimpang yang paling menarik di Bab 5. Dan keputusan untuk tidak memakai satu bagian data adalah keputusan yang kamu catat alasannya, bukan sesuatu yang terjadi diam-diam.

Cara menguji dirimu sendiri: kalau setelah tahap reduksi kamu tidak bisa lagi menunjukkan dari mana satu tema berasal sampai ke nomor baris transkripnya, yang kamu lakukan tadi bukan reduksi, tapi penghapusan.

Kesalahan yang sering terjadi

Bab 4 berisi kutipan panjang berurutan dengan satu kalimat penghubung di antaranya. Ini yang paling umum. Tandanya mudah dikenali: kalau seluruh kutipan di satu subbab kamu hapus, tidak ada pernyataan apa pun yang tersisa.

Tema ditentukan lebih dulu dari rumusan masalah, lalu kutipan dicari untuk mengisinya. Hasilnya tema yang rapi tapi tidak ada temuan baru, karena kamu hanya menemukan apa yang sudah kamu tulis di Bab 1.

Kode dan tema dipakai sebagai kata yang sama. Kode itu label pada potongan data, tema itu kelompok kode. Kalau jumlah temamu dua puluh, itu sebenarnya kode.

Menyebut triangulasi tanpa menyebutkan jenisnya dan tanpa hasil. Tulis triangulasi apa yang kamu pakai, sumber atau teknik, lalu sebutkan satu hal konkret yang kamu periksa dan hasilnya cocok atau tidak.

Mengutip nama informan padahal di Bab 3 kamu berjanji menjaga kerahasiaan identitasnya. Periksa seluruh Bab 4 untuk nama orang, nama jabatan yang hanya dipegang satu orang, dan nama unit yang kecil.

Mengolah semua transkrip setelah wawancara terakhir. Selain membuat saturasi tidak terukur, cara ini membuang kesempatan terbaik dalam penelitian kualitatif, yaitu bertanya lagi tentang hal yang baru kamu sadari penting.

FAQ

Apa perbedaan model Miles dan Huberman dengan model Spradley atau Creswell?

Ketiganya menuju hasil yang mirip dengan jalan yang berbeda. Miles dan Huberman menekankan matriks dan tampilan data, sehingga cocok kalau datamu dari beberapa informan atau beberapa lokasi yang perlu dibandingkan. Spradley berlapis dari analisis domain sampai tema budaya, dan lebih pas untuk penelitian etnografis. Pilih satu dan kerjakan sampai habis, karena mencampur istilah dari dua model adalah hal yang paling cepat ditanyakan penguji.

Berapa jumlah tema yang wajar untuk skripsi S1?

Tiga sampai enam tema utama untuk satu rumusan masalah sudah memadai. Kalau temamu dua belas, hampir pasti sebagian di antaranya masih berupa kode yang belum dikelompokkan. Kalau temamu hanya satu, biasanya temanya terlalu luas dan perlu dipecah.

Apakah harus memakai perangkat lunak analisis kualitatif?

Tidak harus. Untuk tujuh informan, spreadsheet dengan kolom seperti tabel koding di atas sudah cukup dan lebih mudah ditunjukkan ke pembimbing. Perangkat lunak khusus mulai terasa manfaatnya ketika transkripmu lebih dari dua puluh atau kamu perlu menghitung kemunculan kode secara otomatis.

Bagaimana cara menulis kutipan wawancara di Bab 4 yang benar?

Sebutkan kode informannya dan kapan wawancaranya, letakkan kutipan dalam tanda kutip untuk kutipan pendek atau sebagai paragraf terpisah untuk kutipan panjang, dan jangan memperbaiki isinya. Perbaikan hanya boleh untuk kejelasan, misalnya menghapus kata sambung yang terulang, dan kalau kamu memotong bagian tengahnya, tandai pemotongan itu. Selalu letakkan pernyataanmu lebih dulu, kutipan sesudahnya sebagai bukti.

Bolehkah menggabungkan hasil wawancara dengan dokumen dalam satu tema?

Boleh, dan itu memang yang diharapkan. Tambahkan kolom jenis sumber pada tabel kodingmu, lalu di matriks penyajian tambahkan satu kolom untuk dokumen. Tema yang didukung wawancara sekaligus dokumen adalah temuan terkuat yang bisa kamu hasilkan, dan tema yang didukung wawancara tapi dibantah dokumen adalah bahan pembahasan yang paling menarik. Urutan seluruh tahapan skripsinya ada di panduan skripsi dari nol, dan cara menautkan temuanmu ke penelitian terdahulu ada di tabel penelitian terdahulu dan research gap.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.