Berapa Jumlah Informan yang Cukup untuk Skripsi Kualitatif
Untuk skripsi S1 biasanya 5 sampai 10 informan. Tapi angka itu baru sah kalau kamu bisa menunjukkan saturasi, dan ini cara menjalankan aturannya.
Di halaman ini
- Angka yang lazim per jenis penelitian kualitatif
- Saturasi sebagai aturan berhenti yang bisa dijalankan
- Cara mencatat saturasi supaya bisa ditunjukkan
- Jumlah informan juga soal ragam, bukan cuma banyak
- Kalau informanmu cuma tiga orang, apakah bisa lolos
- Paragraf Bab III yang siap kamu sesuaikan
- Kesalahan yang sering terjadi
- FAQ
- Apakah jumlah informan harus ditentukan sebelum penelitian dimulai?
- Apakah ada jumlah minimal informan yang resmi?
- Bagaimana kalau ada informan yang membatalkan di tengah jalan?
- Satu wawancara sebaiknya berapa lama?
- Apakah informan boleh diwawancarai lebih dari sekali?
Untuk skripsi S1 kualitatif, jumlah informan yang lazim diterima adalah 5 sampai 10 orang, dan 3 sampai 5 kalau penelitianmu berbentuk studi kasus pada satu organisasi. Angka itu jawaban praktisnya. Tapi angka itu baru sah di sidang kalau kamu bisa menunjukkan alasannya, dan alasan yang diminta bukan jumlahnya, melainkan saturasi. Bedanya besar: jumlah adalah rencana, saturasi adalah bukti bahwa penambahan informan sudah tidak memberi informasi baru.
Angka yang lazim per jenis penelitian kualitatif
| Pendekatan | Jumlah informan yang lazim | Catatan |
|---|---|---|
| Studi kasus satu organisasi | 3 sampai 6 | Pilih lintas jabatan, jangan satu divisi saja |
| Fenomenologi | 5 sampai 12 | Semua informan harus pernah mengalami peristiwanya |
| Deskriptif kualitatif | 5 sampai 10 | Paling umum untuk skripsi S1 |
| Studi kasus beberapa lokasi | 2 sampai 4 lokasi, 3 informan per lokasi | Jumlah lokasinya yang dihitung lebih dulu |
| Grounded theory | 15 ke atas | Jarang realistis untuk satu semester S1 |
Satu pola yang sudah berulang kali ditemukan dalam kajian metode wawancara: mayoritas tema sudah muncul pada enam wawancara pertama, dan tambahan setelah wawancara kedua belas biasanya sangat sedikit. Itu sebabnya rentang 5 sampai 10 bukan angka asal, dan juga sebabnya menambah informan sampai 20 jarang menambah mutu temuan kalau pemilihannya tidak dirancang.
Kampus dan dosen pembimbing punya kebiasaan masing-masing, jadi tanyakan sejak awal. Yang di luar kebiasaan siapa pun adalah menulis angka di Bab 3 tanpa alasan, karena itu yang membuat pertanyaan di sidang jadi tidak bisa dijawab.
Saturasi sebagai aturan berhenti yang bisa dijalankan
Saturasi sering dijelaskan sebagai keadaan ketika data sudah jenuh dan tidak ada informasi baru. Definisi itu benar tapi tidak bisa dikerjakan, karena tidak memberi tahu kapan harus berhenti. Versi yang bisa dijalankan begini.
- Setelah setiap wawancara, transkripkan dan beri kode saat itu juga, jangan ditunda sampai semua wawancara selesai. Ini syarat utamanya. Saturasi tidak mungkin diukur kalau pengodean dikerjakan belakangan.
- Catat jumlah kode baru yang muncul dari wawancara itu. Kode baru artinya gagasan yang belum pernah muncul di wawancara sebelumnya, bukan kalimat baru untuk gagasan yang sama.
- Berhenti ketika dua wawancara berturut-turut tidak memunculkan kode baru sama sekali.
- Kalau wawancara kesembilan masih memunculkan tiga kode baru, kamu belum boleh berhenti meski rencanamu sepuluh orang. Siapkan dua calon informan cadangan sejak awal untuk kemungkinan ini.
- Kalau sudah dua kali berturut-turut tidak ada kode baru pada wawancara keenam, kamu boleh berhenti di situ, dan itu bukan kekurangan. Itu temuan tentang lapangan.
Aturan dua wawancara berturut-turut itu patokan yang praktis, bukan hukum. Kalau informanmu berasal dari dua kelompok yang sangat berbeda, misalnya pengurus dan anggota, saturasi perlu tercapai di masing-masing kelompok, bukan hanya pada gabungannya.
Cara mencatat saturasi supaya bisa ditunjukkan
Tabel di bawah ini yang membedakan skripsi yang menyebut saturasi dari skripsi yang membuktikannya. Letakkan di Bab 3 atau di lampiran, lalu rujuk di Bab 4.
| Wawancara | Informan | Kode baru | Jumlah kode kumulatif |
|---|---|---|---|
| 1 | Ketua unit | 14 | 14 |
| 2 | Anggota senior | 9 | 23 |
| 3 | Anggota baru | 6 | 29 |
| 4 | Bendahara | 4 | 33 |
| 5 | Anggota baru | 1 | 34 |
| 6 | Anggota senior | 0 | 34 |
| 7 | Anggota baru | 0 | 34 |
Angka di tabel itu contoh bentuknya, bukan hasil yang harus kamu tiru. Yang penting polanya: kode baru menurun dan berakhir di nol dua kali berturut-turut. Satu tabel seperti ini membuat kalimat saturasi tercapai pada wawancara ketujuh bisa diperiksa, dan pertanyaan kenapa informannya cuma tujuh langsung terjawab sebelum ditanyakan.
Cara memberi kode pada transkrip, sampai kode itu naik jadi tema dan akhirnya jadi baris temuan di Bab 4, dibahas langkah demi langkah di analisis data kualitatif Miles dan Huberman.
Jumlah informan juga soal ragam, bukan cuma banyak
Tujuh informan dari jabatan yang berbeda lebih kuat daripada dua belas informan dari satu divisi yang sama. Ini sebabnya penguji hampir selalu bertanya bagaimana cara kamu memilih informan, bukan berapa jumlahnya.
Bagi informanmu jadi tiga peran, dan sebut perannya di Bab 3. Informan kunci adalah orang yang paling tahu tentang hal yang kamu teliti, biasanya satu atau dua orang, dan dari dialah peta persoalannya kamu dapat. Informan utama adalah orang yang mengalami langsung peristiwa yang kamu teliti, dan jumlahnya paling banyak. Informan pendukung adalah pihak yang bisa membenarkan atau membantah keterangan dua kelompok pertama, misalnya atasan, mitra, atau pengguna layanan.
Kelompok ketiga itu yang paling sering dilewatkan dan paling banyak menolong. Kalau seluruh informanmu berada di satu sisi persoalan, temuanmu akan terbaca sebagai satu versi cerita, dan penguji akan menanyakan sisi yang lain. Satu informan pendukung bisa mencegah seluruh Bab 4 terdengar sepihak.
Teknik pemilihannya sebut dengan jelas. Purposive kalau kamu memilih berdasarkan kriteria, dan kriterianya harus kamu tulis, misalnya sudah bekerja minimal dua tahun di unit itu. Snowball kalau informan pertama yang menunjukkan informan berikutnya, dan ini wajar untuk kelompok yang sulit dijangkau, tapi tulis juga akibatnya: informanmu cenderung berasal dari satu jaringan pergaulan.
Kalau informanmu cuma tiga orang, apakah bisa lolos
Bisa, dengan dua syarat yang harus dipenuhi sekaligus.
Syarat pertama, ketiga orang itu memang satu-satunya yang memegang informasi tersebut. Kalau yang kamu teliti adalah pengambilan keputusan di satu unit yang pengurusnya tiga orang, maka tiga adalah seluruh populasinya, bukan sampel kecil. Tulis itu secara eksplisit.
Syarat kedua, kamu menambah sumber data lain, bukan menambah orang. Dokumen rapat, laporan kegiatan, pengamatan langsung, atau rekaman kegiatan. Dalam penelitian kualitatif, kekuatan bukti datang dari banyaknya jenis sumber yang saling menguatkan, bukan dari banyaknya responden. Tiga informan ditambah pengamatan selama satu bulan dan sembilan dokumen internal adalah penelitian yang kokoh. Dua belas informan tanpa satu pun dokumen justru lebih rapuh.
Yang tidak bisa diselamatkan adalah tiga informan yang dipilih karena mereka yang paling mudah dihubungi. Itu bukan purposive, itu kemudahan, dan penguji bisa membedakannya dari jawabanmu atas satu pertanyaan: kenapa tiga orang ini.
Paragraf Bab III yang siap kamu sesuaikan
Bagian ini yang paling sering dicari dan paling jarang dituliskan. Susunannya empat unsur: jumlah, cara memilih, pembagian peran, dan aturan berhenti.
Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang, terdiri atas satu informan kunci, empat informan utama, dan dua informan pendukung. Pemilihan informan dilakukan secara purposive dengan kriteria telah menjadi pengurus atau anggota aktif sekurang-kurangnya dua tahun dan terlibat langsung dalam kegiatan yang menjadi fokus penelitian. Jumlah tersebut tidak ditetapkan di awal sebagai angka tetap, melainkan ditentukan berdasarkan tercapainya saturasi data, yaitu keadaan ketika wawancara tambahan tidak lagi memunculkan kode baru. Dalam penelitian ini, saturasi tercapai pada wawancara keenam dan ketujuh yang tidak lagi menghasilkan kode baru, sehingga pengumpulan data dihentikan. Rincian kemunculan kode per wawancara disajikan pada Tabel 3.2.
Ganti angkanya dengan angkamu dan ganti kriterianya dengan kriteriamu. Yang jangan diubah adalah urutan unsurnya, karena urutan itu yang membuat paragrafnya menjawab pertanyaan penguji sebelum ditanyakan.
Kesalahan yang sering terjadi
Menulis jumlah informan 10 orang sebagai rencana tetap lalu memaksa mencapainya meski kode baru sudah berhenti di wawancara keenam. Empat wawancara terakhir jadi pekerjaan tanpa hasil, dan transkripnya tetap harus kamu olah.
Menyebut saturasi tanpa bukti apa pun. Kalimat data telah mencapai titik jenuh tanpa tabel kode adalah klaim kosong, dan ini salah satu yang paling sering ditanyakan di sidang kualitatif.
Mengodekan semua transkrip setelah wawancara terakhir selesai. Dengan urutan ini saturasi tidak mungkin diukur, karena kamu tidak pernah tahu kapan kode baru berhenti muncul.
Semua informan dari satu kelompok yang sama. Hasilnya satu versi cerita, dan penguji akan menanyakan versi lainnya.
Jumlah informan ditambah di tengah jalan tanpa dicatat alasannya. Kalau kamu menambah dua informan karena ada tema baru yang muncul, itu justru praktik yang benar, tapi harus ditulis di Bab 3 beserta alasannya. Penambahan yang tidak dijelaskan terbaca seperti data dikumpulkan sampai hasilnya cocok dengan dugaan.
Memakai istilah responden untuk penelitian kualitatif. Responden dipakai untuk orang yang mengisi kuesioner, informan untuk orang yang diwawancarai mendalam. Istilah kecil, tapi ketahuan.
FAQ
Apakah jumlah informan harus ditentukan sebelum penelitian dimulai?
Tulis jumlah perkiraan di proposal, misalnya 6 sampai 9 orang, lalu sebutkan bahwa jumlah akhirnya ditentukan oleh saturasi. Rumusan itu jujur sekaligus aman: pembimbing punya gambaran beban kerjanya, dan kamu tidak terikat angka yang belum tentu pas dengan lapangan.
Apakah ada jumlah minimal informan yang resmi?
Tidak ada aturan baku yang berlaku untuk semua kampus. Yang ada adalah kebiasaan prodi dan pertimbangan metodologis. Karena itu, jawaban yang kuat di sidang bukan jumlah minimalnya lima, melainkan penjelasan kenapa jumlah informanmu memadai untuk pertanyaan penelitianmu.
Bagaimana kalau ada informan yang membatalkan di tengah jalan?
Hitung sebagai kejadian lapangan dan laporkan. Sebut berapa yang dihubungi, berapa yang bersedia, dan berapa yang membatalkan beserta alasan umumnya. Lalu ganti dengan calon cadangan yang memenuhi kriteria yang sama. Melaporkan hal seperti ini membuat bagian metodemu terbaca benar-benar dikerjakan di lapangan.
Satu wawancara sebaiknya berapa lama?
Antara 30 dan 60 menit untuk wawancara mendalam pada skripsi S1 sudah memadai, dan 90 menit biasanya sudah terlalu melelahkan untuk kedua pihak. Yang lebih berpengaruh daripada durasi adalah kesediaanmu untuk kembali bertanya. Wawancara kedua yang singkat kepada informan yang sama, setelah kamu mengodekan transkrip pertama, biasanya menghasilkan jawaban paling tajam di seluruh skripsimu.
Apakah informan boleh diwawancarai lebih dari sekali?
Boleh, dan dalam penelitian kualitatif justru dianjurkan. Wawancara kedua dipakai untuk memeriksa tafsiranmu kepada orang yang kamu tafsirkan, dan dalam penulisan metode langkah itu disebut pemeriksaan anggota. Catat kedua wawancara itu secara terpisah di tabel saturasimu agar kode baru dari kunjungan kedua tetap terlihat. Gambaran seluruh tahapan skripsinya ada di panduan skripsi dari nol, dan cara menyusun daftar jurnal pendukungnya ada di cara mencari jurnal referensi skripsi.
Artikel Terkait
Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?
Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.
