Cara Menulis Kesimpulan dan Saran di Bab 5 Skripsi
Tiga rumusan masalah jadi tiga poin kesimpulan, dipetakan satu lawan satu dan ditulis utuh. Saran praktis dan akademis dengan contoh buruk di sebelahnya.
Di halaman ini
- Kesimpulan bukan ringkasan, ini bedanya
- Pemetaan satu lawan satu, ditulis utuh
- Cara mengecek kesimpulanmu sendiri
- Saran praktis: contoh buruk dan baik
- Saran akademis: contoh buruk dan baik
- Kesalahan yang sering terjadi
- Berapa halaman Bab 5 yang wajar?
- Boleh menyebut angka di kesimpulan?
- Kesimpulan ditulis dalam bentuk nomor atau paragraf?
- Saran praktis dan akademis harus dipisah?
- Bagaimana kalau rumusan masalah saya cuma satu?
- Bab 5 ditulis kapan, sebelum atau sesudah abstrak?
Cara membuat kesimpulan dan saran skripsi yang tidak dicoret pembimbing dimulai dari satu aturan: jumlah poin kesimpulanmu sama dengan jumlah rumusan masalahmu, dan poin nomor satu menjawab rumusan nomor satu. Kesimpulan bukan ringkasan skripsi, bukan ulangan Bab 4, dan bukan tempat memperkenalkan angka baru. Saran juga punya aturannya sendiri: setiap saran harus bisa ditunjuk asalnya di temuanmu. Kalimat seperti diharapkan perusahaan dapat menjadi lebih baik muncul di ribuan skripsi justru karena aturan itu dilewati.
Kesimpulan bukan ringkasan, ini bedanya
Banyak mahasiswa menulis Bab 5 dengan cara meringkas Bab 1 sampai 4 secara berurut: latar belakangnya begini, metodenya begitu, hasilnya begini. Bukan itu yang dicari.
| Ringkasan | Kesimpulan | |
|---|---|---|
| Menjawab | Apa isi skripsi ini | Apa jawaban rumusan masalahnya |
| Jumlah bagian | Mengikuti jumlah bab | Mengikuti jumlah rumusan masalah |
| Boleh menyebut metode | Ya | Hanya kalau perlu untuk membatasi klaim |
| Boleh memuat tabel dan nilai p | Ya | Tidak |
| Bisa dibaca terpisah | Tidak | Harus bisa |
Patokan praktisnya: kesimpulanmu akan dibaca orang yang cuma membuka halaman itu, misalnya penguji yang mengecek konsistensi atau mahasiswa lain yang mencari rujukan. Kalau mereka bisa menangkap apa yang kamu temukan tanpa membuka Bab 4, kesimpulanmu bekerja.
Pemetaan satu lawan satu, ditulis utuh
Anggap rumusan masalahmu tiga butir:
- Apakah lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT Sinar Rejeki?
- Apakah kompensasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT Sinar Rejeki?
- Apakah kompetensi berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT Sinar Rejeki?
Maka kesimpulanmu tiga butir juga, dengan urutan yang sama. Begini bentuk utuhnya:
Lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan PT Sinar Rejeki. Di antara tiga faktor yang diuji, lingkungan kerja memberikan pengaruh paling besar, sehingga perbaikan pada kondisi fisik dan hubungan antar rekan kerja paling cepat terasa pada hasil kerja karyawan.
Kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan PT Sinar Rejeki, namun dengan pengaruh yang paling kecil di antara ketiga faktor. Penelitian ini menemukan bahwa karyawan menilai besaran gaji sudah memadai tetapi kurang memahami dasar perhitungan kenaikannya, sehingga kaitan antara imbalan dan hasil kerja belum sepenuhnya dirasakan.
Kompetensi tidak terbukti berpengaruh terhadap kinerja karyawan PT Sinar Rejeki. Arah pengaruhnya positif sesuai dugaan awal, tetapi tidak cukup kuat untuk disimpulkan berbeda dari nol pada jumlah responden penelitian ini, sehingga keterkaitan keduanya belum dapat dipastikan pada konteks satu kantor cabang.
Tiga hal yang perlu diperhatikan dari contoh itu. Tidak ada satu pun nilai p, nilai t, atau nomor tabel, padahal semuanya berasal dari sana. Poin ketiga tidak disembunyikan dan tidak memakai kata gagal. Dan setiap poin memberi satu lapis arti di luar keputusan statistiknya, misalnya paling besar atau paling kecil, yang membuat kesimpulan ini tidak bisa ditukar dengan kesimpulan skripsi lain.
Kalau rumusan masalahmu lima butir, kesimpulanmu lima butir. Kalau salah satu rumusanmu berbunyi seberapa besar, jawabannya memang perlu menyebut besaran, dan di situ angka boleh masuk sekali, dalam bahasa yang bisa dibaca orang awam.
Cara mengecek kesimpulanmu sendiri
Lakukan ini sebelum kirim draf. Buka Bab 1 dan Bab 5 berdampingan di dua jendela.
- Hitung rumusan masalah, hitung poin kesimpulan. Angkanya harus sama.
- Baca rumusan nomor satu, lalu kesimpulan nomor satu. Harus saling menjawab. Kalau urutannya tertukar, tukar kembali.
- Cari nomor tabel, nilai p, nilai t, dan nama aplikasi di Bab 5. Semua harus hilang.
- Cari kata disarankan atau sebaiknya di bagian kesimpulan. Kalau ada, pindahkan ke bagian saran.
- Cari rujukan pustaka baru di Bab 5. Tidak boleh ada nama penulis yang belum pernah muncul di Bab 2.
- Baca Bab 5 sendirian, bayangkan kamu belum membaca Bab 4. Masih masuk akal atau tidak.
- Cocokkan dengan abstrak. Kesimpulan di abstrak dan kesimpulan di Bab 5 harus mengatakan hal yang sama.
Nomor tujuh paling sering gagal karena abstrak biasanya ditulis sekali di awal lalu tidak pernah diperbarui setelah angka Bab 4 berubah. Kalau pembahasan Bab 4 kamu masih belum rapi, bereskan dulu lewat cara menulis Bab 4 skripsi, karena kesimpulan hanya bisa serapi sumbernya.
Saran praktis: contoh buruk dan baik
Saran praktis ditujukan ke pihak yang kamu teliti. Syaratnya tiga: ada yang melakukannya, ada yang dilakukan, dan asalnya bisa ditunjuk di temuanmu.
Contoh buruk, dan ini kalimat yang muncul di ribuan skripsi:
Diharapkan perusahaan dapat lebih meningkatkan kompensasi agar kinerja karyawan menjadi lebih baik.
Kenapa lemah: tidak jelas siapa yang bertindak, meningkatkan kompensasi bisa berarti apa saja, dan kalimat itu sama persis isinya dengan hipotesis yang sudah kamu uji. Perusahaan mana pun bisa menerimanya tanpa tahu harus mulai dari mana.
Contoh baik:
Manajemen PT Sinar Rejeki disarankan menjelaskan dasar perhitungan kenaikan gaji kepada karyawan, misalnya melalui penjelasan komponen penilaian pada saat evaluasi kerja berkala. Saran ini berangkat dari temuan bahwa transparansi kenaikan gaji adalah indikator kompensasi dengan penilaian terendah (rata-rata 3,12 dari 5), sementara kecukupan gaji pokok justru dinilai tinggi (4,05). Artinya yang perlu dibenahi lebih dulu bukan besaran gajinya, melainkan kejelasan dasar kenaikannya.
Bedanya bukan panjang. Versi kedua menyebut pelakunya, menyebut tindakannya, dan menunjukkan asal datanya. Dan yang penting, versi kedua menyarankan sesuatu yang berbeda dari dugaan awal: bukan menaikkan gaji, tapi menjelaskan dasar kenaikan. Saran yang isinya persis sama dengan hipotesis biasanya tanda temuanmu belum dibaca sampai tingkat indikator.
Dua rambu lagi. Jangan menyarankan hal yang tidak kamu ukur, misalnya menyarankan pelatihan padahal pelatihan bukan variabel penelitianmu. Dan jangan menyarankan hal yang di luar kuasa pembacanya, misalnya menyarankan pemerintah mengubah regulasi dalam skripsi tentang satu kantor cabang.
Saran akademis: contoh buruk dan baik
Saran akademis ditujukan ke peneliti berikutnya, dan isinya harus berpasangan dengan keterbatasan penelitianmu.
Contoh buruk:
Peneliti selanjutnya diharapkan menambah variabel lain agar hasil penelitian menjadi lebih baik.
Kenapa lemah: variabel lain yang mana, dan lebih baik dalam ukuran apa. Kalimat ini juga bisa ditempel ke skripsi apa pun di bidang apa pun, yang berarti ia tidak mengatakan apa-apa tentang penelitianmu.
Contoh baik:
Penelitian selanjutnya disarankan menguji pengaruh kompetensi terhadap kinerja dengan responden dari beberapa kantor cabang sekaligus. Pada penelitian ini pengaruh kompetensi berarah positif namun tidak signifikan dengan 97 responden pada satu cabang, sehingga jumlah responden yang lebih besar dan lebih beragam akan memberi peluang lebih baik untuk mendeteksi pengaruh berukuran kecil. Selain itu, karena penelitian ini menemukan masalah pada pemahaman dasar kenaikan gaji, keadilan prosedural dapat dipertimbangkan sebagai variabel tambahan karena konsep tersebut menyasar aspek yang belum tercakup oleh pengukuran kompensasi di sini.
Perhatikan bahwa saran itu lahir dari keterbatasan yang nyata, bukan dari kewajiban mengisi subbab. Dua pasangan yang paling sering terpakai: keterbatasan jumlah responden berpasangan dengan saran memperluas cakupan, dan keterbatasan satu lokasi berpasangan dengan saran membandingkan beberapa lokasi. Kalau ada hipotesis yang ditolak, biasanya dari sanalah saran akademis terbaikmu datang, dan cara menyusun keterbatasannya dibahas di panduan hipotesis ditolak.
Kesalahan yang sering terjadi
- Jumlah poin kesimpulan tidak sama dengan jumlah rumusan masalah. Ini yang pertama dihitung penguji.
- Menyalin kalimat pembahasan Bab 4 ke Bab 5 apa adanya, lengkap dengan nilai p dan nomor tabel.
- Menyembunyikan hipotesis yang ditolak dari kesimpulan, lalu jumlah poinnya jadi kurang satu.
- Mencampur saran ke dalam kesimpulan, sehingga kesimpulan jadi berisi kata sebaiknya.
- Menulis saran yang isinya mengulang hipotesis, misalnya menyarankan menaikkan motivasi karena motivasi berpengaruh.
- Menyarankan hal yang tidak diukur dalam penelitian.
- Memasukkan teori atau rujukan baru di Bab 5.
- Menutup dengan kalimat harapan semoga penelitian ini bermanfaat bagi semua pihak. Tidak dilarang, tapi tidak menambah apa pun.
- Lupa memperbarui abstrak setelah kesimpulan berubah.
Berapa halaman Bab 5 yang wajar?
Dua sampai empat halaman untuk skripsi dengan tiga sampai lima rumusan masalah. Bab 5 yang mencapai sepuluh halaman hampir pasti berisi ulangan Bab 4.
Boleh menyebut angka di kesimpulan?
Sebaiknya seminimal mungkin, dan hanya kalau rumusan masalahmu menanyakan besaran. Nilai p, nilai t, dan nomor tabel tidak masuk sama sekali. Pembandingan kualitatif seperti paling besar atau paling kecil lebih mudah dibaca dan tetap akurat.
Kesimpulan ditulis dalam bentuk nomor atau paragraf?
Keduanya diterima, tergantung pedoman kampus. Bentuk bernomor lebih mudah dicocokkan dengan rumusan masalah dan karena itu lebih aman saat sidang. Kalau pedomanmu meminta bentuk paragraf, tetap buat satu paragraf per rumusan masalah.
Saran praktis dan akademis harus dipisah?
Pisahkan kalau pedomanmu tidak melarang, karena pembacanya berbeda. Beri subjudul saran bagi perusahaan dan saran bagi penelitian selanjutnya, lalu isi masing-masing dua sampai empat butir.
Bagaimana kalau rumusan masalah saya cuma satu?
Kesimpulanmu juga satu, dan itu normal untuk skripsi kualitatif atau penelitian pengembangan. Jangan dipecah jadi beberapa poin supaya terlihat banyak, karena pemetaannya jadi tidak bisa dicocokkan dengan Bab 1.
Bab 5 ditulis kapan, sebelum atau sesudah abstrak?
Bab 5 lebih dulu, abstrak setelahnya, karena abstrak merangkum kesimpulan dan bukan sebaliknya. Kalau urutan pengerjaan skripsimu secara keseluruhan masih belum tertata, mulai dari panduan skripsi dari nol.
Artikel Terkait
Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?
Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.
