Cara Menyusun Rumusan Masalah Skripsi yang Lolos Sidang
Rumusan masalah bisa diturunkan dari variabel secara mekanis. Plus tiga bentuk rumusan yang selalu dibantai penguji, dan contoh untuk tiga desain penelitian.
Di halaman ini
- Rumusan masalah itu daftar tagihan untuk bab 5
- Cara menurunkan rumusan masalah dari variabel tanpa menebak
- Contoh rumusan masalah untuk tiga desain yang paling umum
- Tiga bentuk rumusan masalah yang selalu dibantai penguji
- Cara mengecek rumusan masalahmu dalam lima menit
- Kesalahan yang sering terjadi waktu menulis rumusan masalah
- Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa idealnya jumlah rumusan masalah skripsi?
- Apakah rumusan masalah harus berbentuk pertanyaan?
- Apa bedanya rumusan masalah dengan identifikasi masalah?
- Bolehkah rumusan masalah berubah di tengah penelitian?
- Rumusan masalah saya sudah di-ACC tapi ditanya terus di sidang. Kenapa?
Rumusan masalah tidak perlu dikarang. Begitu variabel dan desain penelitianmu sudah pasti, jumlah dan bunyi rumusan masalahnya bisa diturunkan secara mekanis: satu rumusan untuk tiap hubungan antarvariabel, ditambah satu rumusan simultan kalau variabel bebasmu lebih dari satu. Yang membuat mahasiswa kena di sidang bukan rumusan yang kurang keren, tapi tiga bentuk rumusan yang isinya tidak mungkin dijawab oleh data yang dia punya.
Rumusan masalah itu daftar tagihan untuk bab 5
Cara paling aman memandang rumusan masalah: itu daftar pertanyaan yang wajib kamu jawab di kesimpulan, satu per satu, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.
Di sidang, penguji sering melakukan satu hal sederhana. Dia membuka halaman rumusan masalah, lalu membuka kesimpulan, lalu mencocokkan. Tiga rumusan harus bertemu tiga kesimpulan. Kalau ada rumusan nomor dua yang tidak punya pasangan di kesimpulan, pertanyaannya tidak bisa dihindari.
Jadi rantai yang harus utuh bukan cuma rumusan dan kesimpulan, tapi lima titik sekaligus:
| Rumusan masalah | Tujuan penelitian | Hipotesis | Subbab di bab 4 | Poin kesimpulan |
|---|---|---|---|---|
| Apakah X1 berpengaruh terhadap Y | Menguji pengaruh X1 terhadap Y | H1: X1 berpengaruh terhadap Y | Hasil uji t untuk X1 | Poin 1 |
| Apakah X2 berpengaruh terhadap Y | Menguji pengaruh X2 terhadap Y | H2: X2 berpengaruh terhadap Y | Hasil uji t untuk X2 | Poin 2 |
| Apakah X1 dan X2 berpengaruh simultan terhadap Y | Menguji pengaruh simultan | H3: X1 dan X2 berpengaruh simultan | Hasil uji F | Poin 3 |
Satu baris, lima kolom, tidak ada yang kosong. Kalau ada kolom yang tidak bisa kamu isi untuk suatu rumusan, rumusan itu yang salah, bukan kolomnya.
Cara menurunkan rumusan masalah dari variabel tanpa menebak
Hitung dulu struktur variabelmu, lalu jumlah rumusannya mengikuti:
| Struktur variabel | Jumlah rumusan | Rumusan terakhir berbunyi |
|---|---|---|
| 1 bebas, 1 terikat | 1 | tidak perlu simultan |
| 2 bebas, 1 terikat | 3 | apakah keduanya berpengaruh simultan |
| 3 bebas, 1 terikat | 4 | apakah ketiganya berpengaruh simultan |
| 2 bebas, 1 mediasi, 1 terikat | 5 sampai 6 | apakah pengaruhnya lewat variabel mediasi |
| 1 bebas, 1 moderasi, 1 terikat | 3 | apakah moderasi memperkuat atau memperlemah |
Aturannya cuma dua. Satu rumusan untuk satu jalur panah di kerangka penelitianmu, lalu satu rumusan simultan di akhir kalau variabel bebasnya lebih dari satu. Kalau kerangka penelitianmu punya empat panah, rumusan masalahmu lima baris. Tidak perlu lebih kreatif dari itu.
Buat kamu yang sedang membangun kerangkanya, hubungan antara bagan dan jumlah panah ini dibahas di bedanya kerangka teori, konseptual, dan kerangka berpikir.
Contoh rumusan masalah untuk tiga desain yang paling umum
Bentuknya berbeda per desain, dan inilah yang paling sering tertukar.
Penelitian kuantitatif pengaruh, dua variabel bebas:
- Apakah kompensasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan di PT A?
- Apakah lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja karyawan di PT A?
- Apakah kompensasi dan lingkungan kerja berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan di PT A?
Penelitian kuantitatif deskriptif, tanpa uji hubungan:
- Bagaimana tingkat literasi keuangan mahasiswa S1 di Kota Yogyakarta?
- Bagaimana perbedaan tingkat literasi keuangan antara mahasiswa tahun pertama dan tahun akhir?
Penelitian kualitatif:
- Bagaimana guru di SMP X menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas?
- Apa saja hambatan yang dihadapi guru dalam penerapannya?
- Bagaimana guru mengatasi hambatan tersebut?
Perhatikan kata pembukanya. Pengaruh memakai apakah karena jawabannya ya atau tidak dari uji statistik. Deskriptif dan kualitatif memakai bagaimana atau apa saja karena jawabannya uraian. Mencampur keduanya di satu penelitian adalah penyebab paling umum dari bentuk rumusan yang dibahas di bawah.
Tiga bentuk rumusan masalah yang selalu dibantai penguji
Ketiganya terlihat wajar di proposal dan baru terasa akibatnya di bab 4, waktu sudah terlambat.
Pertama, rumusan yang menanyakan hal yang datanya tidak kamu kumpulkan. Contoh: penelitianmu kuantitatif dengan kuesioner tertutup lima skala, tapi rumusan nomor tiga berbunyi apa saja kendala yang dihadapi karyawan dalam meningkatkan kinerja. Kuesioner skala tidak menghasilkan daftar kendala. Di sidang pertanyaannya cuma satu, di bab empat halaman berapa jawabannya, dan tidak ada jawabannya. Perbaikannya: hapus rumusan itu, atau tambahkan instrumen yang benar-benar mengumpulkan data itu, misalnya pertanyaan terbuka atau wawancara, dan tulis di metode.
Kedua, rumusan deskriptif yang nyelip di penelitian pengaruh. Contoh: rumusan nomor satu bagaimana gambaran motivasi belajar siswa, lalu rumusan nomor dua dan tiga menanyakan pengaruh. Masalahnya, rumusan pertama itu tidak punya hipotesis, tidak punya uji, dan di bab 4 cuma dijawab oleh tabel rata-rata. Penguji akan menanyakan hipotesis keberapa yang menjawabnya, dan rantai lima kolom di atas langsung bolong. Perbaikannya: pindahkan gambaran variabel menjadi analisis deskriptif di bab 4 tanpa menjadikannya rumusan masalah.
Ketiga, rumusan yang jawabannya sudah tertulis di dalamnya. Contoh: apakah terdapat pengaruh positif dan signifikan kompensasi terhadap kinerja karyawan. Kata positif dan signifikan adalah kesimpulan, dan kamu memasukkannya ke pertanyaan sebelum mengujinya. Kalau hasil ujinya negatif, rumusan masalahmu sendiri yang jadi salah. Bentuk netralnya: apakah kompensasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Arah positif atau negatif ditaruh di hipotesis, bukan di rumusan.
Cara mengecek rumusan masalahmu dalam lima menit
Tuliskan rumusan masalahmu di satu kolom, lalu jawab lima pertanyaan ini per baris:
- Instrumen apa yang menghasilkan data untuk menjawabnya? Sebut nama instrumennya, bukan jenis datanya.
- Uji atau teknik analisis apa yang dipakai? Kalau jawabannya tidak ada, rumusan itu berisiko.
- Hipotesisnya nomor berapa? Khusus kuantitatif. Kalau tidak punya pasangan hipotesis, periksa apakah ini rumusan deskriptif yang salah tempat.
- Subbab mana di bab 4 yang menjawabnya? Tulis nomor subbabnya.
- Apakah ada kata yang sudah menyimpulkan, seperti positif, negatif, signifikan, atau meningkat?
Rumusan yang lolos lima pertanyaan ini tidak akan menimbulkan pertanyaan struktural di sidang. Yang tersisa cuma pertanyaan isi, dan itu memang bagian yang wajar diuji.
Kesalahan yang sering terjadi waktu menulis rumusan masalah
- Menulis rumusan masalah sebelum variabelnya pasti. Urutannya variabel dulu, baru rumusan, bukan sebaliknya.
- Jumlah rumusan tidak sama dengan jumlah tujuan penelitian. Ini hal pertama yang dicocokkan penguji, dan paling mudah dihindari.
- Menaruh dua pertanyaan dalam satu nomor dengan kata dan. Satu nomor satu pertanyaan, supaya kesimpulanmu tidak menjawab setengah.
- Memakai bagaimana di penelitian pengaruh. Bagaimana meminta uraian, sedangkan hasilmu berupa angka signifikansi.
- Menambah rumusan simultan padahal variabel bebasnya cuma satu. Uji F dengan satu variabel bebas tidak menambah informasi apa pun.
- Menulis rumusan yang ruang lingkupnya lebih luas dari populasi yang kamu teliti. Kalau respondennya mahasiswa satu kampus, rumusannya tidak boleh berbunyi mahasiswa di Indonesia.
- Mengubah rumusan setelah hasil uji keluar supaya cocok dengan temuan. Yang boleh dibahas di bab 5 adalah temuan yang berbeda dari dugaan, bukan rumusan yang disesuaikan belakangan.
Kalau topik dan variabelmu sendiri masih berubah-ubah, selesaikan dulu tahap sebelumnya di cara memilih topik skripsi supaya di-ACC. Kalau rumusannya sudah siap tapi bab 1 belum, lanjut ke cara menulis latar belakang skripsi, karena rumusan masalah harus terbaca sebagai kesimpulan logis dari latar belakang, bukan muncul tiba-tiba.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
Berapa idealnya jumlah rumusan masalah skripsi?
Tidak ada angka ideal, yang ada angka yang mengikuti struktur variabel. Dua bebas satu terikat menghasilkan tiga, tiga bebas menghasilkan empat. Yang perlu dihindari adalah jumlah yang tidak bisa dijelaskan dari kerangka penelitianmu.
Apakah rumusan masalah harus berbentuk pertanyaan?
Di sebagian besar panduan prodi, ya. Beberapa panduan memperbolehkan bentuk pernyataan masalah. Periksa panduan skripsi prodimu karena bentuk inilah yang paling sering dikoreksi secara teknis.
Apa bedanya rumusan masalah dengan identifikasi masalah?
Identifikasi masalah berisi daftar persoalan yang muncul dari latar belakang, biasanya lebih banyak dan lebih luas. Rumusan masalah adalah bagian dari daftar itu yang kamu pilih untuk diteliti. Jadi rumusan selalu lebih sedikit dari identifikasi.
Bolehkah rumusan masalah berubah di tengah penelitian?
Boleh, selama kamu ikut mengubah tujuan, hipotesis, dan kesimpulan supaya rantainya tetap utuh. Yang berbahaya adalah mengubah satu bagian saja.
Rumusan masalah saya sudah di-ACC tapi ditanya terus di sidang. Kenapa?
Biasanya karena rumusannya benar tapi tidak terjawab di bab 4, misalnya ada rumusan yang jawabannya cuma satu paragraf pembahasan tanpa hasil uji. Cocokkan ulang rumusan dengan subbab bab 4 sebelum sidang, bukan sesudahnya.
Artikel Terkait
Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?
Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.
