kuliah#kutipan#apa 7#penulisan akademik

Kutipan dalam Teks APA 7: Format dan Kasus Sulitnya

Bentuk kutipan dalam teks APA 7 plus kasus yang benar-benar muncul di tugas: nama satu kata, penulis lembaga, sumber kedua, terjemahan, dan tanpa halaman.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 9 menit baca
Di halaman ini

Kutipan dalam teks APA 7 punya dua bentuk saja: di dalam kurung, (Putra, 2024), dan naratif, Putra (2024) menyatakan. Yang membuat bagian ini terasa sulit bukan dua bentuk itu, tapi kasus yang tidak ada di contoh standar, misalnya penulis Indonesia yang namanya satu kata, data dari kementerian yang namanya panjang, atau teori yang kamu temukan dari buku orang lain. Halaman berbahasa Indonesia hampir semuanya memilih membahas daftar pustaka dan melewati sisi dalam teks, padahal di sinilah kesalahan paling sering muncul karena jumlah kutipannya puluhan per makalah.

Dua bentuk dasar, dan kapan nomor halaman ikut

Bentuk di dalam kurung menaruh nama dan tahun di akhir kalimat atau klausa. Dipakai ketika yang penting adalah isinya, bukan siapa yang mengatakannya.

Bentuk naratif menaruh nama di dalam kalimat dan tahun di dalam kurung tepat setelah nama. Dipakai ketika kamu membandingkan pendapat, atau ketika nama itu memang tokoh yang sedang dibahas.

Satu aturan kecil yang sering salah: tanda & hanya hidup di dalam kurung. Di dalam kalimat, tulis kata dan.

Benar: (Putra & Sari, 2024). Benar: Putra dan Sari (2024) menemukan. Salah: Putra & Sari (2024) menemukan.

Aturan jumlah penulis sama dengan aturan di daftar pustaka, hanya bentuknya yang memendek. Dua penulis selalu disebut keduanya. Tiga penulis ke atas memakai nama pertama diikuti et al. sejak penyebutan pertama, dan ini salah satu perubahan terbesar dari APA 6. Rinciannya, termasuk kasus dua puluh satu penulis, ada di daftar pustaka APA 7 per jumlah penulis.

Nomor halaman punya aturan sendiri, dan hanya satu kondisi yang membuatnya wajib: ketika kamu menyalin kata persisnya. Tidak wajib ketika kamu meringkas atau memparafrase, meski tetap dianjurkan kalau sumbernya panjang dan kamu merujuk satu bagian tertentu.

Bentuknya untuk kutipan langsung: (Putra, 2024, p. 15) untuk satu halaman, (Putra, 2024, pp. 15 sampai 17) untuk beberapa halaman. Banyak panduan kampus Indonesia memakai hlm. sebagai ganti p. pada tulisan berbahasa Indonesia, dan itu diterima. Pilih satu, lalu jangan berganti di tengah dokumen.

Kutipan langsung di bawah 40 kata tetap berada di dalam paragraf dengan tanda kutip, dan kurungnya diletakkan sebelum titik penutup kalimat. Kutipan 40 kata atau lebih ditulis sebagai blok terpisah tanpa tanda kutip, diindentasi dari kiri, dan di sini kurungnya diletakkan setelah titik penutup. Angka 40 kata ini sering tertukar dengan aturan 4 baris, dan 4 baris adalah aturan MLA.

Tabel kasus yang benar-benar muncul di tugas

KasusBentuk di dalam kurungCatatan
Penulis bernama satu kata(Sukarno, 2019)nama ditulis utuh, tanpa inisial
Dua penulis(Putra & Sari, 2024)keduanya selalu disebut
Tiga penulis atau lebih(Putra et al., 2024)sejak penyebutan pertama
Lembaga, penyebutan pertama(Badan Pusat Statistik [BPS], 2023)singkatan diperkenalkan di dalam kurung siku
Lembaga, penyebutan berikutnya(BPS, 2023)pakai singkatannya saja
Dikutip dari sumber lain(Vygotsky, 1978, as cited in Putra, 2024)hanya Putra yang masuk daftar pustaka
Buku terjemahan(Freud, 1900/1953)tahun asli, garis miring, tahun terbitan yang kamu pegang
Tanpa nomor halaman(Putra, 2024, para. 4)atau sebut nama subbabnya
Tanpa tahun(Putra, n.d.)beberapa panduan memakai t.t.
Dua sumber sekaligus(Putra, 2024; Sari, 2021)urut abjad, dipisah titik koma
Satu penulis dua tahun(Putra, 2020, 2024)tahun urut dari yang lama
Dua penulis nama belakang sama(O. R. Putra, 2024)tambahkan inisial untuk membedakan
Komunikasi pribadi(O. Putra, komunikasi pribadi, 5 Maret 2024)tidak masuk daftar pustaka

Penulis Indonesia bernama satu kata

Tulis namanya utuh, perlakukan sebagai unsur yang dibalik, dan jangan menambahkan inisial yang tidak ada. Jadi (Sukarno, 2019), bukan (S., 2019) dan bukan (Sukarno, S., 2019).

Untuk nama dua kata yang bukan nama keluarga, misalnya Dewi Anggraini, yang lazim dipakai adalah menyebut kata terakhir di dalam kutipan: (Anggraini, 2024). Tapi ada penulis yang di artikelnya sendiri konsisten memakai kedua kata sebagai satu kesatuan, dan dalam kasus itu ikuti cara penulis tersebut. Yang paling penting, satu nama ditulis dengan satu cara di seluruh dokumen, dan bentuk di dalam teks harus cocok dengan unsur pertama entri daftar pustakanya. Kalau di daftar pustaka tertulis Anggraini, D., maka di teks harus Anggraini, bukan Dewi.

Gelar akademik tidak pernah masuk, baik di teks maupun di daftar pustaka. Jadi bukan (Dr. Putra, 2024).

Penulis lembaga, penyebutan pertama dan berikutnya

Nama lembaga sering panjang, dan menulisnya utuh di tiga puluh kutipan membuat tulisanmu berat. APA 7 membolehkan singkatan, dengan satu syarat urutan.

Penyebutan pertama menulis nama penuh lalu singkatannya di dalam kurung siku, misalnya (Badan Pusat Statistik [BPS], 2023). Penyebutan berikutnya memakai singkatan saja, (BPS, 2023). Dalam bentuk naratif, urutannya jadi Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) pada penyebutan pertama, lalu BPS (2023) setelahnya.

Dua hal yang membuat ini salah:

  1. Memperkenalkan singkatan tapi kemudian tetap menulis nama penuh di kutipan berikutnya, atau sebaliknya, memakai singkatan lebih dulu lalu memperkenalkannya di tengah tulisan. Urutannya tidak boleh terbalik.
  2. Menyingkat lembaga yang hanya kamu kutip sekali. Kalau cuma muncul satu kali, tulis nama penuhnya dan selesai. Singkatan baru berguna kalau dipakai berulang.

Di daftar pustaka, entri tetap memakai nama penuh lembaga, bukan singkatannya, dan diurutkan berdasarkan nama penuh itu. Kalau halaman yang kamu rujuk ternyata tidak punya penulis sama sekali, bentuknya berbeda lagi dan ada di daftar pustaka dari website tanpa penulis.

Sumber berlapis, dari kutipan orang lain sampai buku terjemahan

Ini kasus yang paling sering diselesaikan dengan cara yang salah. Kamu membaca buku terbitan 2024, di dalamnya ada teori dari tahun 1978 yang penulisnya berbeda, lalu kamu menulis teori itu seolah membaca aslinya.

Yang benar, sebut keduanya dan jelaskan hubungannya:

(Vygotsky, 1978, as cited in Putra, 2024)

Hanya Putra, 2024 yang masuk daftar pustaka, karena itu yang benar-benar kamu baca. Pada tulisan berbahasa Indonesia, banyak panduan memakai kata dalam sebagai ganti as cited in, jadi bentuknya (Vygotsky, 1978, dalam Putra, 2024). Keduanya diterima, pilih satu.

Kalau sumber aslinya masih bisa kamu akses, lebih baik akses dan kutip langsung. Kutipan berantai dipakai ketika aslinya benar-benar sulit dijangkau, misalnya terbitan lama yang tidak terbit ulang atau tulisan dalam bahasa yang tidak kamu kuasai. Dosen pembimbing skripsi biasanya membatasi jumlah kutipan semacam ini, dan alasannya masuk akal: setiap lapisan menambah risiko makna bergeser. Tahapan mengelola rujukan untuk tugas besar dibahas di panduan skripsi dari nol.

Buku terjemahan dan terbitan lama yang dicetak ulang punya persoalan berlapis yang mirip, karena yang ada di tanganmu bukan karya aslinya. Untuk kasus ini, pakai dua tahun dipisah garis miring: tahun karya aslinya, lalu tahun terbitan yang ada di tanganmu. Bentuknya (Freud, 1900/1953).

Urutan ini penting karena menunjukkan karya itu lahir jauh sebelum terbitan yang kamu pegang, dan pembaca bisa menilai konteks waktunya. Kalau kamu hanya menulis tahun terjemahannya, teori dari awal abad kedua puluh akan terlihat seperti temuan baru.

Untuk terbitan ulang dalam bahasa yang sama, berlaku pola yang sama. Untuk kutipan langsung dari terjemahan, nomor halamannya adalah nomor halaman pada terbitan yang kamu pegang, bukan pada aslinya.

Sumber tanpa nomor halaman

Banyak sumber yang kamu pakai memang tidak punya halaman: artikel web, buku digital yang halamannya berubah mengikuti ukuran huruf, video, dan rekaman wawancara. Urutan pilihannya:

  1. Nomor paragraf, dihitung dari awal bagian itu, ditulis (Putra, 2024, para. 4).
  2. Nama subbab atau heading-nya, kalau paragrafnya terlalu banyak untuk dihitung, misalnya (Putra, 2024, bagian Metode).
  3. Nama subbab ditambah nomor paragraf di dalam subbab itu, untuk dokumen panjang.
  4. Penanda waktu untuk video atau audio, misalnya (Putra, 2024, 12:05), dan pakai titik waktu saat kutipannya dimulai.

Untuk buku digital, jangan memakai nomor halaman yang ditampilkan aplikasi bacamu, karena nomor itu berbeda di tiap perangkat. Kalau terbitan digitalnya punya penomoran tetap seperti PDF hasil pindaian, nomor itu boleh dipakai.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Menulis et. al. dengan titik setelah et. Yang benar et al., karena et adalah kata utuh dan al. yang disingkat.
  2. Memakai & di dalam kalimat, bukan hanya di dalam kurung.
  3. Menaruh tahun di tempat yang salah pada bentuk naratif. Tahun selalu menempel langsung setelah nama, jadi Putra (2024) menyatakan, bukan Putra menyatakan (2024).
  4. Mengutip langsung tanpa nomor halaman, lalu menambahkan tanda kutip supaya terlihat jujur. Tanda kutip tanpa halaman justru menandakan kutipan yang tidak bisa ditelusuri.
  5. Memakai nomor urut seperti [1] atau catatan kaki untuk rujukan, lalu tetap menyebut gayanya APA. Nomor kurung siku adalah IEEE, catatan kaki adalah gaya lain lagi.
  6. Satu paragraf penuh berisi parafrase dari satu sumber, tapi kutipannya hanya ditaruh di kalimat terakhir. Sebut sumbernya di awal paragraf supaya jelas batas mana yang pendapatmu dan mana yang pinjaman.
  7. Nama di teks tidak cocok dengan unsur pertama di daftar pustaka, biasanya pada nama Indonesia. Periksa silang keduanya sebelum mengumpulkan.

Kalau tugasmu juga dipresentasikan, angka dan nama sumber yang kamu pakai di slide sebaiknya disebut saat berbicara, bukan hanya ditempel di slide terakhir. Cara menatanya ada di PPT presentasi tugas kuliah.

Pertanyaan yang sering muncul

Kutipan dalam teks ditaruh sebelum atau setelah titik?

Untuk kalimat biasa dan kutipan pendek, kurung diletakkan sebelum titik penutup kalimat. Untuk kutipan blok 40 kata atau lebih, kurung diletakkan setelah titik penutup kutipan.

Apakah setiap kalimat parafrase harus diberi kutipan?

Tidak harus setiap kalimat, tapi harus jelas sampai mana isi pinjaman itu berlaku. Cara yang paling aman adalah menyebut nama penulisnya di kalimat pertama paragraf, lalu memberi kutipan di dalam kurung pada kalimat terakhir bagian yang masih merujuk sumber itu.

Bagaimana kalau satu klaim didukung tiga sumber?

Tulis ketiganya dalam satu kurung, urut abjad, dipisah titik koma: (Putra, 2024; Sari, 2021; Wijaya, 2019). Jangan diurutkan berdasarkan tahun, karena APA mengurutkan di dalam kurung berdasarkan abjad.

Wawancara yang saya lakukan sendiri bagaimana?

Kalau wawancaranya bagian dari penelitianmu, itu data, bukan rujukan, dan dibahas di bagian metode serta hasil, bukan di daftar pustaka. Kalau isinya percakapan pribadi yang tidak bisa diakses pembaca, tulis sebagai komunikasi pribadi di dalam teks saja, lengkap dengan tanggalnya, dan tidak masuk daftar pustaka.

Boleh menulis dkk. daripada et al.?

Boleh pada tulisan berbahasa Indonesia kalau panduan kampusmu memakainya. Yang tidak boleh adalah mencampur keduanya di satu dokumen.

Kutipan dari kutipan boleh dipakai di skripsi?

Boleh, tapi batasi dan jangan untuk teori utama. Untuk landasan teori, pembimbing hampir selalu meminta sumber aslinya, karena rantai kutipan membuat definisi bergeser sedikit demi sedikit di tiap lapisan.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.