Cara Mengurus Revisi Skripsi Setelah Sidang Selesai
Format tabel catatan revisi yang diisi saat sidang masih berlangsung, cara menyelesaikan revisi dua penguji yang bertentangan, dan urutan tanda tangannya.
Di halaman ini
- Kenapa revisi macet, padahal isinya tidak berat
- Tabel catatan revisi yang diisi saat sidang berlangsung
- Urutan mengerjakan revisi setelah tabelnya terisi
- Dua penguji memberi revisi yang bertentangan
- Urutan tanda tangan dan berkas yang diikat tenggat yudisium
- Kesalahan yang sering terjadi
- Pertanyaan yang sering muncul
- Berapa lama batas waktu revisi setelah sidang?
- Apakah harus bertemu penguji lagi untuk minta persetujuan?
- Kalau tidak setuju dengan revisi penguji, boleh menolak?
- Revisi saya meminta pengambilan data tambahan. Masih bisa ikut yudisium periode ini?
- Lembar rekapitulasi revisi itu wajib?
- Apa yang dikerjakan dulu kalau waktu revisi tinggal tiga hari?
Revisi skripsi yang selesai cepat hampir selalu dimulai di dalam ruang sidang, bukan sesudahnya. Yang menahan mahasiswa berminggu-minggu biasanya bukan beratnya perbaikan, tapi catatan yang tidak lengkap: kamu ingat ada empat permintaan, tidak ingat yang keempat, dan harus menebak atau bertanya ulang ke penguji yang sudah sulit dihubungi. Jadi bagian terpenting dari mengurus revisi terjadi saat penguji masih berbicara.
Kenapa revisi macet, padahal isinya tidak berat
Tiga penyebab, dan tidak satu pun soal kemampuan menulis.
- Catatannya tidak lengkap atau tidak jelas pemiliknya. Kamu tahu ada permintaan mengubah definisi operasional, tapi tidak ingat penguji mana yang minta. Padahal yang harus menandatangani persetujuan revisi adalah penguji itu.
- Dua permintaan saling bertentangan, dan kamu mengerjakan salah satu lalu ditolak saat minta tanda tangan.
- Urutan tanda tangannya salah. Kamu minta tanda tangan pembimbing lebih dulu padahal prodimu mengharuskan penguji dulu, jadi harus mengulang.
Ketiganya bisa dicegah dengan satu tabel dan satu pertanyaan yang diajukan sebelum keluar ruangan.
Tabel catatan revisi yang diisi saat sidang berlangsung
Siapkan tabel ini di buku catatan atau di satu berkas yang sudah terbuka di laptop, sebelum sidang dimulai. Lima kolom, tidak lebih, karena tabel yang lebar tidak akan terisi saat penguji berbicara cepat.
| Penguji | Halaman | Permintaannya | Jenis | Status |
|---|---|---|---|---|
| Penguji 1 | 42 | Definisi operasional variabel Y belum cocok dengan indikator di kuesioner | Isi | Belum |
| Penguji 1 | 58 | Kata pengaruh diganti hubungan di bab 4 dan abstrak | Konsistensi | Belum |
| Penguji 2 | 12 | Latar belakang terlalu panjang, dipadatkan jadi tiga paragraf | Isi | Belum |
| Penguji 2 | 42 | Indikator kuesioner yang disesuaikan, bukan definisinya | Isi | Bentrok dengan Penguji 1 |
| Pembimbing | 70 | Tabel hasil dipisah per kelompok responden | Teknis | Belum |
| Penguji 1 | daftar pustaka | Tiga sumber di bab 2 belum masuk daftar pustaka | Teknis | Belum |
Kolom Jenis cuma punya tiga nilai: Isi untuk yang mengubah isi atau argumen, Konsistensi untuk yang harus diubah di beberapa tempat sekaligus, dan Teknis untuk format, tabel, dan daftar pustaka. Pemilahan ini yang nanti menentukan urutan kerja.
Tiga kebiasaan yang membuat tabelnya benar-benar terisi:
- Tulis nomor halaman sebelum menulis permintaannya. Nomor halaman adalah bagian yang paling cepat hilang dari ingatan dan paling mahal untuk dicari ulang.
- Tulis kata-kata penguji apa adanya, jangan dirapikan. Kalimat yang kamu rapikan saat panik sering berubah artinya.
- Isi kolom Status seketika dengan Bentrok kalau kamu mendengar dua permintaan yang berbeda arah untuk halaman yang sama. Jangan menilai dulu siapa yang benar.
Sebelum keluar ruangan, ajukan satu pertanyaan ini: Pak, Bu, apakah persetujuan revisinya nanti ke masing-masing penguji atau cukup lewat pembimbing, dan berapa lama batas waktunya. Jawaban dua kalimat itu menentukan seluruh jadwalmu, dan menanyakannya di ruangan jauh lebih mudah daripada mengejar tiga orang seminggu kemudian.
Kalau kamu belum sampai tahap sidang, pola pertanyaan yang biasanya muncul dan yang menambah revisi ada di pertanyaan sidang skripsi dan contoh cara menjawabnya.
Urutan mengerjakan revisi setelah tabelnya terisi
Jangan mengerjakan dari atas ke bawah. Urutannya begini.
- Selesaikan semua baris berstatus Bentrok lebih dulu, dan selesaikan lewat pembimbing, bukan dengan memilih sendiri. Caranya di bagian berikutnya. Baris bentrok yang dibiarkan akan membatalkan pekerjaan di baris lain.
- Kerjakan yang berjenis Isi. Ini yang mengubah kalimat, argumen, atau tabel hasil, dan biasanya memakan waktu paling lama.
- Kerjakan yang berjenis Konsistensi setelah semua Isi beres. Kalau diurus lebih awal, kamu akan menyapu ulang dokumen dua kali. Permintaan ganti istilah biasanya menyentuh judul, abstrak, bab 1, bab 4, dan simpulan sekaligus.
- Terakhir yang Teknis: daftar pustaka, format tabel, penomoran, kerapian margin.
- Buat satu lembar rekapitulasi revisi sebelum menghadap penguji. Isinya persis tabel di atas, ditambah satu kolom berisi halaman baru tempat perbaikanmu berada. Banyak prodi memang mensyaratkan lembar ini, dan kalaupun tidak, lembar ini memotong waktu pemeriksaan penguji secara drastis karena dia tidak perlu mencari.
Kalau revisimu menyentuh bagian tinjauan pustaka atau menambah sumber baru, cek ulang parafrase dan sitasinya sekalian, karena sebagian kampus mengecek kemiripan lagi pada berkas final. Cara memeriksanya ada di cara parafrase yang benar.
Dua penguji memberi revisi yang bertentangan
Ini kasus yang paling sering membuat revisi berhenti berminggu-minggu, dan hampir tidak ada panduan yang membahasnya. Contoh nyatanya seperti baris keempat di tabel: Penguji 1 minta definisi operasionalnya yang diubah agar cocok dengan kuesioner, Penguji 2 minta kuesionernya yang disesuaikan dengan definisi. Keduanya menunjuk halaman 42, keduanya masuk akal, dan keduanya tidak bisa dikerjakan bersamaan.
Yang tidak boleh kamu lakukan: memilih sendiri lalu diam. Risikonya, penguji yang permintaannya tidak kamu kerjakan menolak menandatangani, dan kamu kehilangan waktu dua kali.
Yang juga sebaiknya tidak kamu lakukan: menyampaikan ke salah satu penguji bahwa rekannya berpendapat lain. Kamu jadi perantara perdebatan antar dosen, dan posisi itu tidak enak untuk semua orang.
Jalur yang berhasil, berurutan.
- Bawa ke pembimbing, bukan ke penguji. Pembimbing adalah pihak yang memang berwenang mengambil keputusan metodologis atas skripsimu, dan secara posisi dia yang paling pantas berbicara dengan penguji kalau perlu.
- Datang dengan dua pilihan, bukan dengan satu pertanyaan. Sajikan berdampingan: permintaan A beserta konsekuensinya, permintaan B beserta konsekuensinya, dan pekerjaan yang muncul dari masing-masing. Contoh kalimatnya: Pak, di halaman 42 ada dua arahan yang berbeda arah. Kalau definisinya yang diubah, bab 2 dan bab 3 ikut berubah tapi datanya tetap terpakai. Kalau kuesionernya yang disesuaikan, berarti data yang sudah terkumpul tidak cocok lagi. Menurut Bapak yang mana yang kita ambil?
- Minta keputusannya tertulis, walau sebaris. Pesan singkat berisi pakai yang definisinya sudah cukup, dan simpan.
- Catat keputusan itu di lembar rekapitulasi, di baris permintaan yang tidak dikerjakan. Tulis apa adanya dan tanpa membela diri: disesuaikan mengikuti arahan pembimbing pada tanggal tertentu karena bertentangan dengan catatan penguji lain. Penguji yang membaca lembar ini biasanya menerima, karena yang dia tolak adalah permintaannya diabaikan tanpa alasan, bukan permintaannya tidak dikerjakan.
- Kalau pembimbing tidak bisa dihubungi dan tenggat mendekat, naikkan ke koordinator skripsi dengan kalimat yang menyebut tanggal dan tenggat, bukan keluhan. Bentuk kalimatnya ada di dosen pembimbing susah ditemui.
Satu jenis pertentangan yang perlu diperlakukan berbeda: kalau salah satu permintaan menyentuh keabsahan data, misalnya meminta kamu mengubah instrumen setelah data terkumpul, sampaikan konsekuensinya sejelas mungkin dan jangan diambil sendiri. Keputusan jenis ini bisa berarti mengambil data lagi, dan itu menentukan apakah kamu masih bisa ikut yudisium periode ini.
Urutan tanda tangan dan berkas yang diikat tenggat yudisium
Urutan di bawah adalah bentuk yang paling umum. Rinciannya berbeda antar kampus dan sering berubah tiap periode, jadi minta daftar resminya dari admin prodi di hari sidang, bukan dari kakak tingkat.
- Revisi selesai, lembar rekapitulasi dicetak.
- Persetujuan penguji. Biasanya ke penguji yang memberi catatan, satu per satu. Ini bagian terlama, karena bergantung pada jadwal orang lain. Mulai dari penguji yang catatannya paling banyak.
- Persetujuan pembimbing, lalu tanda tangan pembimbing di lembar pengesahan.
- Tanda tangan ketua sidang atau ketua program studi, dan di sebagian kampus dekan, yang sering hanya bisa diajukan setelah seluruh tanda tangan sebelumnya lengkap.
- Berkas pelengkap: unggahan ke repositori kampus, surat bebas pustaka dari perpustakaan, surat bebas administrasi atau bebas tanggungan, dan artikel ringkas kalau prodimu mewajibkan.
- Pendaftaran yudisium beserta berkas administratifnya.
Dua hal yang paling sering membuat orang tertinggal satu periode.
- Tanda tangan pejabat di langkah 4 punya jadwal sendiri dan sering dikumpulkan berkelompok, jadi selisih satu hari di langkah 2 bisa berubah jadi selisih dua minggu di langkah 4.
- Surat bebas pustaka biasanya baru bisa diproses setelah unggahan repositori diterima, dan unggahan bisa ditolak karena hal teknis seperti berkas yang salah format atau lembar pengesahan yang belum ditandatangani.
Begitu tabel revisimu terisi di hari sidang, langsung tanya satu hal ke admin prodi: tanggal terakhir berkas yudisium diterima. Hitung mundur dari tanggal itu, sisakan setidaknya satu minggu untuk langkah 4 dan 5, dan sisanya baru jadi tenggat revisimu sendiri.
Kesalahan yang sering terjadi
- Mengandalkan ingatan atau rekaman suara tanpa mencatat. Rekaman memang lengkap, tapi memutar ulang satu jam percakapan untuk mencari empat permintaan jauh lebih lambat daripada membaca tabel.
- Mengerjakan revisi dari halaman awal ke akhir. Permintaan yang bersifat konsistensi akan memaksamu menyapu dokumen dua kali.
- Mengirim berkas revisi tanpa penanda perubahan dan tanpa lembar rekapitulasi. Penguji harus mencari sendiri, dan pemeriksaannya ditunda.
- Mengirim ke semua penguji sekaligus lewat pesan tanpa menyebut halaman barunya. Balasan yang kamu dapat biasanya minta bertemu, yang berarti mengulang dari awal.
- Menunda revisi karena menunggu satu penguji. Kerjakan bagian penguji lain lebih dulu, karena hampir semua catatan bisa dikerjakan terpisah.
- Lupa memperbarui abstrak dan daftar isi. Keduanya hampir selalu berubah kalau ada revisi isi, dan keduanya hal pertama yang dibaca saat pemeriksaan akhir.
- Menganggap tenggat revisi sama dengan tenggat yudisium. Keduanya berbeda, dan jarak di antaranya dipakai untuk tanda tangan serta berkas administratif.
Pertanyaan yang sering muncul
Berapa lama batas waktu revisi setelah sidang?
Ditentukan tiap prodi, dan sering diikat ke tanggal yudisium periode itu, bukan dihitung sejak hari sidangmu. Tanyakan angkanya di hari sidang. Kalau prodimu menyebut dua minggu, anggap tenggat kerjamu lebih pendek, karena tanda tangan juga butuh waktu.
Apakah harus bertemu penguji lagi untuk minta persetujuan?
Bergantung prodinya, dan sebagian penguji bersedia memeriksa lewat surel dan menandatangani setelahnya. Itu sebabnya pertanyaan di akhir sidang tadi penting. Kalau harus bertemu, mulai dari penguji dengan catatan terbanyak karena pemeriksaannya paling lama.
Kalau tidak setuju dengan revisi penguji, boleh menolak?
Boleh mendiskusikan, dan jalannya lewat pembimbing dengan membawa alasan beserta konsekuensinya. Yang tidak berhasil adalah mengabaikan tanpa penjelasan. Catat alasannya di lembar rekapitulasi agar tercatat sebagai keputusan, bukan sebagai permintaan yang terlewat.
Revisi saya meminta pengambilan data tambahan. Masih bisa ikut yudisium periode ini?
Sering tidak, dan ini keputusan yang harus diambil cepat bersama pembimbing. Hitung waktu pengambilan data dan analisisnya, bandingkan dengan tenggat berkas yudisium, lalu tanyakan ke admin prodi kapan periode berikutnya. Mengaku tidak sempat lebih awal jauh lebih baik daripada mengejar lalu berkasnya ditolak di langkah terakhir.
Lembar rekapitulasi revisi itu wajib?
Tidak di semua kampus, tapi buat saja. Satu halaman berisi daftar permintaan, apa yang kamu ubah, dan di halaman berapa perbaikannya. Pemeriksaan penguji jadi jauh lebih cepat karena dia tidak perlu mencari.
Apa yang dikerjakan dulu kalau waktu revisi tinggal tiga hari?
Baris yang bentrok, lalu yang berjenis Isi, lalu Konsistensi. Teknis dikerjakan paling akhir karena paling cepat dan paling kecil risikonya kalau terlambat sedikit. Dan beri tahu pembimbing kondisimu di hari pertama, bukan di hari terakhir.
Artikel Terkait
Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?
Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.
