kuliah#tugas akhir#skripsi#jalur non-skripsi

Skripsi atau Non-Skripsi: Cara Memilih yang Tidak Bikin Lama

Jalur jurnal sering dibaca sebagai jalur cepat, padahal antrean review dan jadwal terbit bisa berbulan-bulan. Kapan jalur itu justru lebih lambat.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 8 menit baca
Di halaman ini

Kalau yang kamu kejar adalah lulus tepat waktu, pertanyaannya bukan jalur mana yang lebih ringan, tapi jalur mana yang garis waktunya masih kamu kendalikan. Skripsi biasa berat tapi hampir seluruh jadwalnya ada di tanganmu dan tangan pembimbing. Jalur artikel jurnal sering terasa lebih ringan karena halamannya lebih sedikit, padahal sebagian besar waktunya ada di tangan orang yang tidak bisa kamu hubungi: editor, reviewer, dan jadwal terbit. Itu perbedaan yang menentukan, dan itu yang biasanya tidak dibahas waktu jalur non-skripsi ditawarkan.

Jalur non-skripsi itu biasanya apa saja

Istilah dan syaratnya berbeda antar kampus, bahkan antar prodi di kampus yang sama. Bentuk yang paling umum ditawarkan:

  • Artikel ilmiah yang disubmit atau diterbitkan di jurnal, kadang disyaratkan pada tingkat akreditasi tertentu.
  • Karya atau proyek akhir, misalnya purwarupa, perangkat lunak, rancangan, atau karya desain, beserta laporannya.
  • Laporan hasil magang, studi independen, atau program pertukaran yang dikonversi, biasanya dengan beban dan laporan tersendiri.
  • Prestasi kompetisi tingkat tertentu yang diakui sebagai pengganti tugas akhir.

Hal pertama yang harus kamu dapatkan bukan rekomendasi orang, tapi dokumen resmi prodimu tentang jalur yang tersedia beserta syarat kelulusannya. Satu kalimat di dokumen itu menentukan segalanya, dan kalimat itu ada di bagian berikut.

Satu kalimat yang menentukan risiko jalur jurnal

Cari tahu apakah syaratnya sudah disubmit, sudah diterima, atau sudah terbit.

  • Kalau syaratnya bukti submit, risikomu kecil. Begitu artikel masuk sistem jurnal, kamu sudah memenuhi syarat.
  • Kalau syaratnya surat keterangan diterima, kamu bergantung pada lamanya proses review, dan itu di luar kendalimu.
  • Kalau syaratnya sudah terbit, kamu bergantung pada review ditambah jadwal penerbitan. Jurnal yang terbit dua atau empat kali setahun bisa membuat artikel yang sudah diterima menunggu satu nomor berikutnya.

Tiga kalimat itu kelihatan mirip di brosur, tapi jarak risikonya berbulan-bulan. Tanyakan juga satu hal lagi: apakah ada batas akreditasi jurnalnya. Semakin tinggi batasnya, semakin panjang antrean dan semakin besar kemungkinan artikel dikembalikan.

Kenapa jalur jurnal terbaca sebagai jalur cepat?

Karena yang terlihat adalah jumlah halamannya. Artikel jurnal biasanya belasan halaman, skripsi bisa puluhan sampai lebih dari seratus. Perbandingan itu benar dan tidak relevan, karena waktu tugas akhir tidak habis untuk mengetik.

Yang juga bikin salah sangka: cerita sukses yang kamu dengar hampir selalu datang dari mahasiswa yang menumpang penelitian dosennya. Datanya sudah ada, kerangkanya sudah jadi, dan dosennya sudah sering submit ke jurnal itu. Jalurnya memang cepat, tapi yang membuat cepat bukan jalurnya, melainkan kondisi awalnya.

TahapSkripsi biasaJalur artikel jurnal
Menyusun proposal dan metodeKamu dan pembimbingKamu dan pembimbing
Pengambilan dataKamu, bisa dipercepatKamu, bisa dipercepat
MenulisKamuKamu, lebih singkat
Pemeriksaan isiPembimbing, bisa dikejarReviewer, tidak bisa dikejar
PenjadwalanSidang mengikuti kalender prodiJadwal terbit mengikuti kalender jurnal
Kalau ditolakRevisi, lalu sidang ulang di periode berikutnyaMulai lagi dari pemilihan jurnal, antreannya dari nol

Baris keempat dan keenam yang menentukan. Pembimbing yang lambat masih bisa kamu kejar, dan cara mengejarnya ada di dosen pembimbing susah ditemui. Reviewer jurnal tidak bisa kamu hubungi sama sekali, dan tidak ada koordinator yang bisa kamu mintai bantuan.

Kapan jalur jurnal justru lebih lambat dari skripsi

Lima kondisi. Kalau dua di antaranya kena, pertimbangkan lagi.

  1. Datanya belum ada dan harus kamu ambil sendiri dari nol. Jalur jurnal tidak memotong waktu pengambilan data, dia cuma memotong waktu mengetik, dan mengetik bukan bagian yang lama.
  2. Syaratnya sudah terbit, bukan diterima atau disubmit. Kamu menambahkan satu antrean yang tidak punya tenggat.
  3. Pembimbingmu belum pernah menjadi penulis pendamping di jurnal sasaran. Tanpa itu kamu belajar format, gaya sitasi, dan selera jurnal dari nol, dan kesalahan format bisa membuat artikel dikembalikan sebelum masuk review.
  4. Jurnal sasarannya belum ditentukan di awal. Memilih jurnal setelah artikel selesai berarti menulis ulang, karena tiap jurnal punya batas jumlah kata, struktur, dan cara sitasi sendiri.
  5. Tenggat kelulusanmu tinggal satu semester. Ini yang paling berat, karena satu penolakan di awal sudah memakan jatah waktumu, dan jalur ini tidak punya mekanisme percepatan.

Satu hal yang sering tidak diperhitungkan: artikel yang dikembalikan di tahap pemeriksaan awal, sebelum masuk ke reviewer, biasanya bukan karena isinya lemah. Penyebab yang paling sering adalah kecocokan topik dengan fokus jurnal, format yang tidak sesuai panduan penulis, dan masalah kemiripan teks. Tiga-tiganya bisa dicegah sebelum submit, dan yang ketiga sering muncul dari parafrase yang buruk di bagian tinjauan pustaka. Cara memeriksanya ada di cara parafrase yang benar.

Prodi dan kondisi seperti apa yang aman memilih jalur jurnal?

Jalur ini kuat di kondisi yang spesifik, dan kalau kondisinya ada, dia memang lebih cepat dan lebih bernilai daripada skripsi biasa.

  • Ada kelompok riset atau laboratorium yang aktif dan kamu bisa masuk ke penelitian yang sedang berjalan. Datanya sudah ada atau sedang diambil bersama, dan pertanyaan penelitianmu jadi satu bagian darinya.
  • Dosenmu punya riwayat publikasi di jurnal yang kamu tuju, dan bersedia jadi penulis pendamping. Ini faktor tunggal yang paling menentukan.
  • Prodimu menerima bukti submit atau surat keterangan diterima, bukan harus terbit.
  • Topikmu bisa dikerjakan dari data yang sudah tersedia, misalnya data sekunder, basis data terbuka, atau data internal yang izinnya sudah ada.
  • Kamu masih punya setidaknya dua semester tersisa, sehingga satu penolakan tidak langsung berarti mundur satu periode.

Kebalikannya: kalau topikmu butuh data primer dari nol, syaratnya harus terbit, dan pembimbingmu baru pertama kali ikut jalur ini, skripsi biasa hampir selalu selesai lebih dulu.

Daftar periksa sebelum memutuskan

Jawab tujuh pertanyaan ini, tertulis, sebelum menandatangani apa pun.

  1. Jalur apa saja yang resmi tersedia di prodiku, dan di dokumen mana syaratnya tertulis?
  2. Syarat jalur jurnalnya submit, diterima, atau terbit?
  3. Ada batas akreditasi jurnalnya atau tidak?
  4. Siapa jurnal sasarannya, dan berapa kali setahun dia terbit?
  5. Pembimbingku sudah pernah terbit di sana atau di jurnal setingkat itu?
  6. Datanya sudah ada, atau aku mengambilnya sendiri dari nol?
  7. Berapa periode yudisium yang masih tersisa untukku, dan kapan berkasnya ditutup?

Kalau nomor 2 jawabannya terbit, nomor 5 jawabannya belum, dan nomor 6 jawabannya dari nol, jalur jurnal akan lebih lambat. Dan kalau jalur mana pun yang kamu pilih, alur kerjanya tetap sama di awal: pertanyaan penelitian, metode, data. Urutannya ada di panduan skripsi dari nol.

Kesalahan yang sering terjadi saat memilih

  • Memilih berdasarkan jumlah halaman. Ini satu-satunya ukuran yang kelihatan dari luar, dan satu-satunya yang hampir tidak berpengaruh ke lama kelulusan.
  • Mengambil jalur jurnal karena diajak teman satu angkatan. Kondisi awalnya berbeda, terutama pembimbing dan ketersediaan data.
  • Menulis dulu, memilih jurnal belakangan. Artikel yang ditulis tanpa jurnal sasaran hampir selalu ditulis ulang.
  • Menganggap jalur non-skripsi berarti tidak ada sidang. Banyak prodi tetap mengadakan ujian atau seminar hasil untuk jalur ini, dengan penguji dan catatan revisi seperti biasa. Format catatan revisinya ada di cara mengurus revisi skripsi setelah sidang.
  • Tidak menghitung beban semester berjalan. Tugas akhir jalur apa pun bersaing dengan mata kuliah yang kamu ambil, dan salah menghitung beban itu penyebab mundur yang paling sepele. Hitung ulang bebanmu sebelum semester tugas akhir dimulai, bukan setelah jadwalnya padat.
  • Pindah jalur di tengah jalan tanpa mengecek apakah pekerjaan yang sudah jadi bisa dipakai. Sebagian bisa, sebagian tidak, dan ini harus dipastikan dengan pembimbing sebelum berpindah.
  • Mengabaikan syarat administratif tambahan. Sebagian prodi meminta bukti kepemilikan karya, surat pernyataan penulis, atau bukti korespondensi dengan jurnal, dan berkas itu baru dicari di akhir.

Pertanyaan yang sering muncul

Mana yang nilainya lebih tinggi, skripsi atau non-skripsi?

Keduanya menghasilkan kelulusan yang sama, dan cara penilaiannya ditentukan prodi. Yang berbeda bukan nilainya, tapi jejak yang tertinggal. Artikel yang terbit berguna kalau kamu berniat lanjut studi atau melamar posisi riset. Kalau tujuanmu bekerja di bidang terapan, karya atau proyek akhir sering lebih bisa ditunjukkan.

Kalau artikel saya ditolak, bisa pindah ke skripsi biasa?

Biasanya bisa, tapi prosesnya administratif dan ada tenggat pengajuannya. Yang menentukan apakah kamu kehilangan waktu banyak adalah seberapa jauh bahanmu bisa dipakai. Data dan tinjauan pustaka umumnya masih terpakai, strukturnya yang harus ditulis ulang jadi format skripsi. Tanyakan tenggat pindah jalurnya di awal, bukan setelah ditolak.

Berapa lama proses review jurnal terakreditasi biasanya?

Bervariasi, dan sebagian jurnal mencantumkan perkiraannya di laman mereka sendiri. Yang pasti bisa kamu cek sebelum submit: berapa kali jurnal itu terbit per tahun, dan berapa jarak antara tanggal diterima dan tanggal terbit pada artikel-artikel di nomor terakhirnya. Dua angka itu ada di arsip jurnalnya dan jauh lebih berguna daripada perkiraan umum.

Boleh submit ke beberapa jurnal sekaligus supaya cepat?

Tidak. Mengirim satu artikel ke lebih dari satu jurnal pada waktu yang sama termasuk pelanggaran etika publikasi dan bisa membuat artikelnya ditarik. Yang boleh adalah menyiapkan daftar jurnal cadangan, lalu mengirim ke cadangan setelah ada keputusan dari yang pertama.

Apakah jalur magang atau studi independen lebih aman?

Risiko waktunya memang lebih kecil, karena programnya punya tanggal mulai dan tanggal selesai yang jelas. Yang perlu dipastikan adalah mekanisme konversinya, siapa yang menilai laporannya, dan apakah ada ujian akhir. Satu lagi yang sering terlewat: kesesuaian antara pekerjaan magangmu dengan capaian pembelajaran prodi, karena di situ pengajuan konversi biasanya tertahan.

Saya sudah di semester akhir dan belum memutuskan. Pilih apa?

Pilih jalur yang garis waktunya paling banyak kamu kendalikan, yang pada kondisi itu hampir selalu skripsi biasa, kecuali kamu sudah punya data dan pembimbing yang berpengalaman submit. Lalu segera cari tanggal penutupan berkas yudisium periode ini dan hitung mundur dari situ, bukan dari hari ini.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.