TKA

Soal TKA SD Matematika Kelas 6: Materi yang Diuji dan Contoh Soal Bertahap

Materi TKA SD Matematika kelas 6 dari kerangka asesmen resmi, sembilan contoh soal dari mudah ke sulit, dan cara orang tua mendampingi tanpa mengerjakannya.

Oleh Diterbitkan 26 Okt 2026 8 menit baca
Di halaman ini

Soal TKA SD Matematika menguji tiga elemen: bilangan, geometri dan pengukuran, serta data. Soalnya disusun di tiga level, dari menghitung langsung, lalu menerapkan konsep ke soal cerita, sampai menalar soal yang tidak biasa. Di bawah ini, materi tiap elemen dijabarkan dari kerangka asesmen resmi, lalu contoh soalnya diurutkan dari yang paling mudah ke yang paling sulit.

Semua contoh adalah soal buatan dengan pola yang sama seperti contoh resmi. Contoh soal resminya bisa dilihat di lampiran kerangka asesmen SD dan SMP di halaman unduhan Pusmendik, dan di simulasi Ayo Coba TKA.

Materi apa yang diuji di TKA SD Matematika?

Kerangka asesmen resmi (Peraturan Kepala BSKAP Nomor 047/H/AN/2025) menyebut muatan Matematika SD merujuk ke Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, jadi soalnya sama untuk keduanya.

ElemenMateri yang tercantumCatatan
Bilanganpecahan senilai (gambar dan simbol), membandingkan dan mengurutkan pecahan, hubungan pecahan, desimal, dan persen, operasi bilangan cacah, kelipatan, faktor, KPK, FPBoperasi pecahan yang disebut: tambah dan kurang antarpecahan, serta kali dan bagi pecahan dengan bilangan asli
Geometri dan Pengukuranbangun datar (segitiga, segiempat, segi banyak), bangun ruang dan tampak depan, atas, sampingbangun ruang yang disebut: kubus, balok, dan gabungannya
Geometri dan Pengukuransatuan panjang, berat, volume, waktu, kecepatan, keliling dan luas, volume kubus dan balok, besar sudut, menaksir ukurantangga satuan dari mm sampai km, mg sampai kg, ml sampai kl
Datagambar, piktogram, diagram batang, tabel frekuensi, mengambil informasi dari datadiagram lingkaran tidak disebut di jenjang SD

Soalnya diberi konteks keseharian di lingkup pribadi, keluarga, atau lingkungan sekitar. Hasilnya dilaporkan dalam skala 0 sampai 100. Sebagai gambaran, rerata nasional Matematika SD 2026 yang dikutip media dari siaran pers 26 Mei 2026 adalah 43,41, jauh di bawah rerata Bahasa Indonesia (60,14). Dari angka itu, Matematika tampak lebih berat bagi peserta secara rata-rata.

Tahap 1: soal menghitung dan memahami

Level pertama menguji apakah anak bisa menghitung dengan prosedur yang benar dan membaca informasi dasar. Soal di level ini pendek, tetapi kesalahan kecil di sini sering terbawa ke soal yang lebih sulit.

Contoh 1. Berapa hasil 34+16\frac{3}{4} + \frac{1}{6}?

Samakan penyebut dengan KPK dari 4 dan 6, yaitu 12:

34+16=912+212=1112\frac{3}{4} + \frac{1}{6} = \frac{9}{12} + \frac{2}{12} = \frac{11}{12}

Kesalahan yang sering muncul adalah menjumlahkan pembilang dan penyebut langsung, sehingga muncul 410\frac{4}{10}. Minta anak mengecek dengan akal sehat: 34\frac{3}{4} saja sudah lebih besar dari 410\frac{4}{10}, jadi jawaban itu pasti salah.

Contoh 2. Urutkan dari yang terkecil: 25\frac{2}{5}, 0,45, dan 48%.

Ubah semuanya ke bentuk desimal: 25=0,40\frac{2}{5} = 0{,}40, lalu 0,45, dan 48%=0,4848\% = 0{,}48. Urutannya 25\frac{2}{5}, 0,45, 48%. Mengubah ke satu bentuk yang sama adalah kunci semua soal perbandingan pecahan, desimal, dan persen.

Tahap 2: soal cerita yang memakai konsep

Level aplikasi meminta anak mengubah cerita menjadi kalimat matematika. Di level ini, KPK, FPB, satuan, dan volume biasanya muncul sebagai soal cerita.

Contoh 3 (KPK). Rina berenang setiap 4 hari sekali. Dodi berenang setiap 6 hari sekali. Pada 2 Mei mereka berenang bersama. Kapan mereka berenang bersama lagi?

KPK dari 4 dan 6 adalah 12. Jadi mereka bertemu lagi 12 hari kemudian, yaitu 14 Mei. Tanda soal KPK: ada kejadian yang berulang dan pertanyaannya "kapan bersamaan lagi".

Contoh 4 (FPB). Bu Guru punya 24 apel dan 36 jeruk. Semua buah dimasukkan ke kantong dengan isi yang sama, tanpa sisa. Berapa kantong paling banyak?

FPB dari 24 dan 36 adalah 12. Jadi ada 12 kantong, masing-masing berisi 2 apel dan 3 jeruk. Tanda soal FPB: ada benda yang dibagi rata dan pertanyaannya "paling banyak berapa bagian".

Contoh 5 (satuan berat, pilih lebih dari satu jawaban). Tas belanja Ibu berisi 1 kg tepung, 6 hg gula, dan 3 bungkus mentega yang masing-masing 200 g. Pilih semua pernyataan yang benar:

A. Berat seluruh isi tas 2,2 kg. B. Mentega lebih berat daripada gula. C. Tepung beratnya lebih dari separuh isi tas. D. Berat gula sama dengan berat seluruh mentega.

Ubah semua ke gram: tepung 1.000 g, gula 6 hg = 600 g, mentega 3×200=6003 \times 200 = 600 g. Totalnya 2.200 g atau 2,2 kg, jadi A benar. Mentega dan gula sama-sama 600 g, jadi B salah dan D benar. Separuh isi tas adalah 1.100 g, dan tepung hanya 1.000 g, jadi C salah. Jawabannya A dan D.

Contoh 6 (kecepatan). Andi bersepeda ke sekolah dengan kecepatan 12 km per jam. Jarak rumah ke sekolah 3 km. Berapa menit perjalanannya?

waktu=312 jam=14 jam=15 menit\text{waktu} = \frac{3}{12} \text{ jam} = \frac{1}{4} \text{ jam} = 15 \text{ menit}

Contoh 7 (volume). Akuarium berbentuk balok berukuran panjang 50 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 40 cm. Akuarium diisi air 34\frac{3}{4} bagian. Berapa liter airnya?

Volume penuh: 50×30×40=60.00050 \times 30 \times 40 = 60.000 cm³. Karena 1 liter = 1.000 cm³, volume penuh adalah 60 liter. Air yang diisi 34×60=45\frac{3}{4} \times 60 = 45 liter.

Tahap 3: soal yang menuntut penalaran

Level penalaran tidak memakai rumus baru. Bedanya, anak harus melihat hubungan, mengevaluasi pernyataan, atau menyelesaikan bentuk yang tidak biasa.

Contoh 8 (keliling dan luas bangun gabungan). Halaman rumah berbentuk persegi panjang 10 m kali 6 m, tetapi satu pojoknya dipakai untuk gudang berukuran 4 m kali 3 m. Bagian yang tersisa berbentuk huruf L. Berapa luas dan keliling halaman berbentuk L itu?

Luasnya mudah: 10×6−4×3=60−12=4810 \times 6 - 4 \times 3 = 60 - 12 = 48 m².

Kelilingnya yang menarik. Kalau semua sisi bentuk L dijumlahkan, hasilnya 2×(10+6)=322 \times (10 + 6) = 32 m, sama persis dengan keliling persegi panjang utuh. Dua sisi yang "masuk" ke dalam gudang panjangnya sama dengan dua sisi yang hilang dari pojok. Anak yang menalar ini tidak perlu menjumlahkan enam sisi satu per satu. Anak yang tidak, sering mengurangkan keliling gudang dan mendapat angka yang keliru.

Contoh 9 (data, benar atau salah). Penjualan roti di kantin selama lima hari tercatat dalam tabel berikut.

HariSeninSelasaRabuKamisJumat
Roti terjual1520102530

Tentukan benar atau salah:

  1. Total roti terjual selama lima hari adalah 100.
  2. Rata-rata penjualan per hari adalah 20 roti.
  3. Penjualan hari Jumat dua kali penjualan hari Rabu.

Totalnya 15+20+10+25+30=10015 + 20 + 10 + 25 + 30 = 100, benar. Rata-ratanya 100÷5=20100 \div 5 = 20, benar. Jumat 30 dan Rabu 10, jadi Jumat tiga kali Rabu, bukan dua kali. Pernyataan ketiga salah. Di soal seperti ini, dua pernyataan benar di awal sering membuat anak mencentang benar untuk semuanya.

Bagaimana orang tua mendampingi tanpa mengerjakan untuk anak?

Godaan terbesar saat anak macet adalah menunjukkan caranya langsung. Itu cepat, tetapi anak tidak belajar memulai soal sendiri, padahal di ruang ujian tidak ada yang membantu. Beberapa kebiasaan yang lebih berguna:

  1. Minta anak membacakan soal dengan suara keras. Banyak kesalahan ketahuan di sini, misalnya kata "tanpa sisa" atau "paling banyak" yang terlewat.
  2. Tanyakan "apa yang diketahui, apa yang ditanya". Biarkan anak menulisnya sebelum menghitung.
  3. Minta anak menggambar. Soal bangun gabungan, satuan, dan pembagian benda jauh lebih mudah dengan sketsa.
  4. Kalau jawabannya salah, jangan langsung beri jawaban benar. Tanyakan, "Coba cek, masuk akal tidak kalau jawabannya segini?"
  5. Batasi sesi 20 sampai 30 menit. Lebih baik lima soal yang dibahas tuntas daripada dua puluh soal yang dikerjakan asal selesai.
  6. Catat jenis soal yang salah, bukan nomornya. Setelah dua minggu, polanya akan terlihat, misalnya selalu salah di konversi satuan.

Soal latihan per bab dengan ketiga bentuk soal resmi tersedia di latihan TKA SD di Pintarly, yang juga bisa dibuka dari menu latihan soal. Jadwal, pendaftaran, dan kegunaan nilainya untuk SPMB dibahas di panduan TKA SD 2027 untuk orang tua.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Menjumlahkan pecahan tanpa menyamakan penyebut.
  2. Membandingkan pecahan, desimal, dan persen tanpa mengubahnya ke satu bentuk.
  3. Tertukar antara KPK dan FPB. Ingat tandanya: kejadian berulang untuk KPK, membagi rata untuk FPB.
  4. Lupa mengubah hg, dag, atau cm³ ke satuan yang ditanyakan. Konversi satuan adalah salah satu sumber kesalahan terbesar di soal pengukuran.
  5. Menganggap keliling bangun L lebih kecil dari keliling persegi panjang asalnya.
  6. Di soal benar-salah, menebak pernyataan terakhir dari pola dua pernyataan sebelumnya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah soal TKA SD Matematika memakai pilihan ganda biasa saja?

Tidak. Ada tiga bentuk: pilihan ganda biasa, pilih lebih dari satu jawaban, dan benar-salah untuk tiap pernyataan. Ketiganya muncul di contoh soal resmi kerangka asesmen.

Berapa jumlah soal TKA SD Matematika?

Tidak diumumkan di dokumen resmi. Yang resmi adalah durasinya: 75 menit untuk Matematika dan Numerasi pada hari pertama.

Apakah perlu les tambahan khusus TKA?

Tidak harus. Materinya berasal dari kurikulum SD yang sudah dipelajari di sekolah. Yang perlu dibiasakan adalah membaca soal cerita dengan teliti dan mengenal bentuk soal pilihan ganda kompleks.

Apakah anak boleh memakai kalkulator?

Tidak bisa. Kepmendikdasmen 56/2026 melarang peserta membawa kalkulator ke ruang ujian; yang boleh dibawa hanya alat tulis dan kartu login. Jadi biasakan anak menghitung tanpa kalkulator, termasuk perkalian dan pembagian bersusun.

Apakah ada soal asli TKA SD di Pintarly?

Belum. Paket soal asli TKA di Pintarly saat ini baru jenjang SMA 2025. Untuk SD, rujukan soal resmi adalah lampiran kerangka asesmen dan simulasi Ayo Coba TKA. Latihan membaca untuk mata uji keduanya dibahas di materi TKA Bahasa Indonesia SD kelas 6.

Artikel Terkait

Siap hadapi TKA?