Kuliah

Classical vs Operant Conditioning: Cara Membedakan di Soal Kasus

Perbedaan classical dan operant conditioning lewat dua pertanyaan, tabel penguatan dan hukuman, dan sepuluh kasus sehari-hari lengkap dengan US, UR, CS, CR.

Oleh Diterbitkan 5 Nov 2026 9 menit baca
Di halaman ini

Perbedaan classical dan operant conditioning ada pada apa yang dipelajari. Classical conditioning mempelajari hubungan antara dua stimulus, sehingga sebuah respons refleks (air liur, kaget, takut, mual) bisa dipicu oleh stimulus yang tadinya netral. Operant conditioning mempelajari hubungan antara perilaku dan konsekuensinya, sehingga perilaku yang disengaja jadi lebih sering atau lebih jarang. Di soal kasus, kamu cukup bertanya dua hal, lalu mencocokkan jawabannya dengan tabel di bawah.

Alat dua pertanyaan untuk membedakan keduanya

Baca kasusnya, tentukan dulu respons atau perilaku apa yang sedang diamati. Setelah itu ajukan dua pertanyaan ini secara berurutan.

  1. Apakah yang diamati adalah respons otomatis yang dipicu oleh stimulus yang datang sebelumnya? Contohnya jantung berdebar, keluar air liur, mual, rasa takut, kaget. Kalau ya, ini classical conditioning.
  2. Apakah yang diamati adalah perilaku yang dilakukan dengan sengaja, dan frekuensinya berubah karena apa yang terjadi sesudahnya? Contohnya mengecek HP, datang tepat waktu, bertanya di kelas. Kalau ya, ini operant conditioning.

Kunci yang sering terlewat: arah waktunya. Classical melihat ke belakang (stimulus apa yang memicu respons). Operant melihat ke depan (konsekuensi apa yang mengikuti perilaku).

AspekClassical conditioningOperant conditioning
Tokoh yang paling sering dikaitkanIvan PavlovB. F. Skinner (berangkat dari hukum efek Thorndike)
Yang diasosiasikanStimulus dengan stimulusPerilaku dengan konsekuensi
Jenis responsRefleks, tidak disengajaDisengaja, dipilih oleh individu
Urutan kejadianStimulus, lalu responsPerilaku, lalu konsekuensi
Istilah kunciUS, UR, CS, CRPenguatan, hukuman, positif, negatif

Istilah US, UR, CS, CR tanpa salah tempel

Empat istilah ini hanya dipakai untuk classical conditioning.

  • US (unconditioned stimulus): stimulus yang memicu respons tanpa perlu dipelajari. Makanan di mulut, suara sangat keras, rasa sakit.
  • UR (unconditioned response): respons alami terhadap US. Air liur, kaget, meringis.
  • CS (conditioned stimulus): stimulus yang awalnya netral, lalu berulang kali muncul bersama US sampai bisa memicu respons sendiri.
  • CR (conditioned response): respons terhadap CS setelah proses belajar. Jenisnya biasanya sama dengan UR, hanya pemicunya yang berbeda dan sering lebih lemah.

Pada percobaan Pavlov, makanan adalah US, air liur karena makanan adalah UR, bunyi yang dipasangkan dengan makanan adalah CS, dan air liur karena bunyi saja adalah CR. Perhatikan bahwa UR dan CR sama-sama air liur. Yang membedakan hanya pemicunya.

Tabel 2x2 penguatan dan hukuman

Operant conditioning punya empat kemungkinan. Dua kata perlu dipahami secara harfiah:

  • Positif berarti ada stimulus yang ditambahkan. Negatif berarti ada stimulus yang dihilangkan. Ini soal tanda tambah dan kurang, bukan soal baik dan buruk.
  • Penguatan berarti perilaku jadi lebih sering. Hukuman berarti perilaku jadi lebih jarang.
Perilaku jadi lebih sering (penguatan)Perilaku jadi lebih jarang (hukuman)
Stimulus ditambahkan (positif)Penguatan positif: dosen memberi poin tambahan setiap kali kamu bertanya, kamu makin sering bertanyaHukuman positif: kamu ditegur di depan kelas karena main HP, kamu berhenti main HP saat kuliah
Stimulus dihilangkan (negatif)Penguatan negatif: memakai earphone menghilangkan bising tetangga kos, kamu makin sering memakai earphoneHukuman negatif: telat isi KRS membuat uangmu berkurang karena denda, kamu tidak telat lagi

Miskonsepsi paling umum adalah menyamakan penguatan negatif dengan hukuman. Keduanya berbeda di kolom. Penguatan negatif membuat perilaku lebih sering, karena perilaku itu berhasil menghilangkan sesuatu yang tidak enak. Hukuman, apa pun tandanya, membuat perilaku lebih jarang.

Cara mengeceknya: tanyakan dulu apakah perilakunya naik atau turun. Itu menentukan kolom. Baru setelah itu tanyakan apakah ada yang ditambah atau dihilangkan. Itu menentukan baris.

Sepuluh kasus sehari-hari yang sudah diklasifikasikan

Lima kasus pertama adalah classical conditioning. Semuanya punya respons yang tidak bisa kamu putuskan dengan sengaja.

NoKasusUSURCSCR
1Lagu favoritmu dipakai sebagai nada alarm pagi yang sangat keras. Beberapa minggu kemudian, mendengar lagu itu di kafe membuat jantungmu berdebar.Bunyi sangat keras saat tidurKaget, jantung berdebarLagu tersebutJantung berdebar saat mendengar lagu itu
2Setiap malam kamu membuat mi instan. Sekarang bunyi kemasan mi yang dirobek saja sudah membuat air liurmu keluar.Rasa dan aroma mi di mulutAir liur keluarBunyi kemasan dirobekAir liur keluar saat mendengar bunyinya
3Kamu pernah sakit perut hebat setelah makan rendang dari warung tertentu. Sekarang mencium bau rendang membuatmu mual.Zat penyebab sakit perutMualBau dan rasa rendangMual saat mencium bau rendang
4Perawatan gigi yang pernah terasa sakit membuat suara bor dokter gigi dari ruang sebelah saja sudah membuatmu tegang.Rasa sakit pada gigiTegang, takutSuara borTegang saat mendengar suara bor
5Saat hujan badai, kilat selalu diikuti guntur yang sangat keras. Lama-lama melihat kilat saja sudah membuatmu terkesiap sebelum gunturnya terdengar.Bunyi guntur yang sangat kerasKaget, terkesiapKilatTerkesiap saat melihat kilat

Kasus nomor 3 adalah contoh penolakan rasa (taste aversion). Uniknya, asosiasi ini bisa terbentuk hanya dari satu kali kejadian, padahal kebanyakan classical conditioning butuh pemasangan berulang.

Lima kasus berikutnya adalah operant conditioning. Perhatikan bahwa kolomnya berbeda, karena istilah US dan CS tidak berlaku di sini.

NoKasusPerilakuKonsekuensiJenis
6Kamu menekan tombol snooze karena bunyi alarm langsung berhenti.Menekan snoozeBunyi bising hilangPenguatan negatif
7Kamu langsung mengecek HP setiap ada notifikasi, karena kadang isinya pesan yang kamu tunggu.Mengecek HPKadang mendapat pesan menarikPenguatan positif, dengan jadwal yang tidak bisa ditebak
8Semester lalu kamu kena denda karena telat KRS, semester ini kamu mengisi di hari pertama.Telat mengisi KRSUang berkurangHukuman negatif
9Teman sekelompok yang telat setor bagian tugas ditegur keras di grup, lalu ia berhenti telat.Telat setor tugasTeguran ditambahkanHukuman positif
10Kamu menyicil tugas lebih awal karena rasa cemas menjelang tenggat jadi hilang.Menyicil tugas lebih awalRasa cemas hilangPenguatan negatif

Kasus 1 dan 6 sengaja memakai benda yang sama, yaitu alarm. Jenis pengkondisian tidak ditentukan oleh bendanya, tetapi oleh apa yang sedang diamati. Kalau yang diamati jantung berdebar, itu classical. Kalau yang diamati tindakan menekan tombol, itu operant.

Kasus 7 sering salah dijawab sebagai classical karena notifikasi datang sebelum perilaku. Notifikasi di sini berfungsi sebagai stimulus diskriminatif: tanda bahwa perilaku mengecek HP sedang berpeluang diberi penguatan. Perilaku mengecek tetap disengaja dan dipertahankan oleh konsekuensinya, jadi masuk operant. Penguatan yang datang tidak tentu seperti ini justru membuat perilaku sulit hilang.

Kesalahan yang sering terjadi di jawaban ujian

  1. Menyebut penguatan negatif sebagai hukuman. Lihat lagi tabel 2x2. Kalau perilakunya naik, jawabannya pasti penguatan.
  2. Mengira positif berarti menyenangkan. Teguran yang ditambahkan adalah hukuman positif walaupun tidak menyenangkan, karena ada stimulus yang ditambahkan.
  3. Menganggap semua stimulus yang datang lebih dulu sebagai CS. Notifikasi pada kasus 7 datang lebih dulu, tetapi yang diamati adalah perilaku sengaja. CS hanya ada kalau responsnya refleks.
  4. Menukar US dan CS. US adalah stimulus yang memicu respons tanpa belajar. Kalau stimulus itu perlu dipelajari dulu agar memicu respons, ia adalah CS.
  5. Menulis CR yang berbeda jenis dari UR. Pada kasus mi instan, UR dan CR sama-sama air liur. Kalau kamu menulis UR "air liur" dan CR "lapar", kemungkinan besar analisismu tergelincir.
  6. Mengklasifikasikan tanpa menyebut perilaku atau respons yang diamati. Satu kasus bisa memuat dua proses sekaligus, seperti contoh alarm. Tulis dulu apa yang diamati, baru klasifikasinya.

Bagaimana dengan extinction dan generalisasi?

Kedua proses ini ada di classical maupun operant, dengan arti yang mirip.

  • Extinction (pemadaman): di classical, CS terus muncul tanpa US sampai CR melemah. Kalau lagu alarm itu terus kamu dengar di kafe tanpa bunyi keras, debarannya lama-lama hilang. Di operant, perilaku tidak lagi diikuti penguatan sampai frekuensinya turun.
  • Pemulihan spontan: respons yang sudah padam bisa muncul lagi setelah jeda waktu, biasanya lebih lemah.
  • Generalisasi: respons juga muncul untuk stimulus yang mirip. Takut pada suara bor dokter gigi bisa merembet ke suara bor tukang di kos.
  • Diskriminasi: kebalikannya, individu belajar membedakan stimulus yang mirip. Kamu hanya mengecek HP saat nada notifikasi aplikasi tertentu yang berbunyi.

Kalau mata kuliah pengantarmu juga membahas teori dari sudut pandang lain, pola menerapkan teori ke satu kasus seperti ini mirip dengan tiga perspektif sosiologi pada satu fenomena. Untuk persiapan ujiannya, lihat strategi belajar UAS dan UTS.

FAQ seputar classical dan operant conditioning

Apa contoh paling sederhana untuk membedakan keduanya?

Air liur saat mencium aroma makanan favorit adalah classical, karena respons itu terjadi tanpa diputuskan. Membeli makanan itu lagi karena kemarin rasanya enak adalah operant, karena perilaku membeli dipertahankan oleh konsekuensinya.

Apakah penguatan negatif sama dengan hukuman negatif?

Tidak. Keduanya menghilangkan stimulus, tetapi efeknya berlawanan. Penguatan negatif menghilangkan sesuatu yang tidak enak sehingga perilaku makin sering. Hukuman negatif menghilangkan sesuatu yang disukai sehingga perilaku makin jarang.

Apakah satu kejadian bisa mengandung classical dan operant sekaligus?

Bisa, dan dosen suka menguji ini. Rasa takut pada anjing tetangga adalah classical. Mengambil jalan memutar supaya tidak melewati rumah itu adalah operant, karena perilaku menghindar dikuatkan oleh hilangnya rasa takut.

Apakah hukuman efektif untuk mengubah perilaku?

Hukuman bisa menekan perilaku, tetapi tidak mengajarkan perilaku penggantinya, dan efeknya cenderung berkurang kalau pengawasannya hilang. Itu sebabnya banyak buku pengantar menyarankan memadukan hukuman dengan penguatan untuk perilaku yang diinginkan.

Siapa yang menemukan operant conditioning, Skinner atau Thorndike?

Thorndike merumuskan hukum efek lewat percobaan kucing dalam kotak teka-teki. Skinner mengembangkannya secara sistematis dan memperkenalkan istilah operant beserta konsep jadwal penguatan. Di soal ujian, Skinner adalah nama yang biasanya diharapkan.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?