Pancasila Sistem Filsafat: Ontologis, Epistemologis, Aksiologis
Pancasila sebagai sistem filsafat dari landasan ontologis, epistemologis, aksiologis, dengan tabel inti, dua soal esai UAS, dan kesalahan yang memotong nilai.

Di halaman ini
- Apa maksud "Pancasila sebagai sistem filsafat"?
- Tabel pertanyaan inti tiap landasan
- Landasan ontologis: kenapa jawabannya selalu "manusia"?
- Landasan epistemologis: dari mana pengetahuan Pancasila berasal?
- Landasan aksiologis: nilai apa yang dikandung Pancasila?
- Kesalahan yang paling sering memotong nilai
- Contoh soal esai UAS dan kerangka jawabannya
- Soal 1
- Soal 2
- FAQ seputar Pancasila sebagai sistem filsafat
- Apa perbedaan Pancasila sebagai sistem filsafat dan sebagai ideologi?
- Apa arti monopluralis secara sederhana?
- Apakah hierarkis-piramidal berarti sila pertama paling penting?
- Siapa tokoh yang sering dikutip untuk topik ini?
- Bagaimana cara cepat membedakan soal epistemologis dan aksiologis?
Pancasila sebagai sistem filsafat dikaji dari tiga landasan. Landasan ontologis bertanya apa hakikat Pancasila dan siapa pendukungnya (jawabannya: manusia). Landasan epistemologis bertanya dari mana pengetahuan tentang Pancasila berasal dan bagaimana kebenarannya diuji. Landasan aksiologis bertanya nilai apa yang dikandungnya dan untuk apa nilai itu dipakai. Kalau tiga kalimat ini sudah melekat, kamu sudah punya kerangka untuk hampir semua soal esai tentang topik ini di UAS Pendidikan Pancasila.
Apa maksud "Pancasila sebagai sistem filsafat"?
Ada dua kata yang perlu dipisahkan: sistem dan filsafat.
Disebut sistem karena kelima sila bukan daftar lepas. Sila-sila itu saling berhubungan, saling mengisi, dan punya susunan tertentu, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh. Mengambil satu sila tanpa yang lain berarti sudah tidak membicarakan Pancasila sebagai sistem.
Disebut filsafat karena Pancasila menjawab pertanyaan paling dasar: tentang hakikat manusia, hakikat pengetahuan, dan hakikat nilai. Cabang filsafat yang menjawab ketiga pertanyaan itu berturut-turut adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dari situ muncul tiga landasan yang dibahas di artikel ini.
Susunan kesatuan sila-sila biasanya dijelaskan sebagai hierarkis-piramidal, istilah yang banyak dipakai sejak Notonagoro. Sila pertama mendasari dan menjiwai sila kedua sampai kelima. Sila kedua didasari dan dijiwai sila pertama, lalu mendasari dan menjiwai sila ketiga sampai kelima. Pola yang sama berlanjut sampai sila kelima, yang didasari dan dijiwai oleh keempat sila sebelumnya. Makin ke atas cakupannya makin luas, makin ke bawah isinya makin khusus.
Tabel pertanyaan inti tiap landasan
Tabel ini yang paling berguna dihafal, karena hampir semua soal bisa dikembalikan ke salah satu kolom pertanyaannya.
| Landasan | Cabang filsafat | Pertanyaan inti | Jawaban singkat untuk Pancasila |
|---|---|---|---|
| Ontologis | Ontologi (hakikat ada) | Apa hakikat dasar sila-sila, dan siapa subjek pendukungnya? | Manusia sebagai makhluk monopluralis. Hakikat dasar sila: Tuhan, manusia, satu, rakyat, adil |
| Epistemologis | Epistemologi (hakikat pengetahuan) | Dari mana pengetahuan Pancasila bersumber, bagaimana susunannya, dan bagaimana kebenarannya diuji? | Bersumber dari nilai-nilai bangsa Indonesia sendiri. Tersusun sistematis dan hierarkis-piramidal |
| Aksiologis | Aksiologi (hakikat nilai) | Nilai apa yang terkandung, bagaimana tingkatannya, dan untuk apa dipakai? | Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan, yang menjadi pedoman sikap dan kebijakan |
Satu trik ingatan: ontologis bertanya apa, epistemologis bertanya bagaimana kita tahu, aksiologis bertanya untuk apa.
Landasan ontologis: kenapa jawabannya selalu "manusia"?
Landasan ontologis mencari hakikat terdalam dari sila-sila. Kelima sila punya subjek pendukung yang sama, yaitu manusia. Manusialah yang berketuhanan, yang berkemanusiaan, yang bersatu, yang berkerakyatan, dan yang berkeadilan sosial.
Manusia di sini dipahami sebagai makhluk monopluralis, artinya satu kesatuan yang tersusun dari beberapa unsur. Unsur-unsurnya biasa dijelaskan dalam tiga pasangan:
- Susunan kodrat: raga (jasmani) dan jiwa (rohani).
- Sifat kodrat: makhluk individu dan makhluk sosial.
- Kedudukan kodrat: makhluk pribadi yang berdiri sendiri dan makhluk Tuhan.
Dari sudut ontologis, kata dasar tiap sila juga dibaca sebagai hakikat: Tuhan, manusia, satu, rakyat, dan adil. Urutannya tidak acak. Manusia ada karena Tuhan sebagai sebab pertama. Manusia hidup bersama sehingga perlu bersatu. Persatuan itu membentuk rakyat. Rakyat yang bernegara bertujuan mewujudkan keadilan.
Kalau soal menanyakan "jelaskan dasar ontologis Pancasila", jawaban yang lengkap selalu memuat dua hal ini: manusia sebagai subjek pendukung, dan uraian monopluralis.
Landasan epistemologis: dari mana pengetahuan Pancasila berasal?
Epistemologi membahas pengetahuan. Untuk Pancasila, pembahasannya biasanya dibagi ke tiga persoalan.
- Sumber pengetahuan. Nilai-nilai Pancasila tidak diimpor dari bangsa lain. Sumbernya adalah nilai yang sudah hidup dalam adat istiadat, kebudayaan, dan kehidupan religius bangsa Indonesia. Karena itu Pancasila sering disebut digali dari bangsa Indonesia sendiri, dan bangsa Indonesia disebut sebagai asal bahan (kausa materialis) Pancasila.
- Susunan pengetahuan. Pengetahuan Pancasila tersusun secara sistematis. Isi sila-silanya punya urutan yang logis dan hierarkis-piramidal seperti dijelaskan di atas, sehingga bisa dipelajari sebagai satu bangunan, bukan potongan.
- Kebenaran pengetahuan. Manusia mengetahui lewat akal, rasa, dan kehendak, dan kebenarannya bisa diuji dengan beberapa teori kebenaran, misalnya kesesuaian dengan kenyataan, keruntutan dengan pengetahuan lain, dan kegunaan dalam praktik. Dalam kerangka Pancasila, kebenaran tertinggi diletakkan pada kebenaran yang bersumber dari Tuhan, sejalan dengan sila pertama.
Perhatikan bahwa landasan epistemologis tidak membahas manfaat nilai. Ia membahas cara kita mengetahui dan membenarkan isi Pancasila. Garis batas inilah yang paling sering kabur di lembar jawaban.
Landasan aksiologis: nilai apa yang dikandung Pancasila?
Aksiologi membahas nilai. Landasan aksiologis menjawab dua hal: nilai apa yang terkandung dalam Pancasila, dan bagaimana nilai itu dipakai.
Isi nilainya mengikuti kelima sila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Untuk tingkatan nilai, banyak buku ajar memakai pembagian Notonagoro:
- Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
- Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna agar manusia bisa beraktivitas.
- Nilai kerohanian, yang dirinci lagi menjadi nilai kebenaran (bersumber pada akal), nilai keindahan (bersumber pada rasa), nilai kebaikan atau moral (bersumber pada kehendak), dan nilai religius sebagai nilai kerohanian tertinggi.
Pancasila memuat semua tingkatan itu, dengan nilai religius di puncak. Dari sisi penerapan, nilai Pancasila juga sering dibedakan menjadi nilai dasar (yang tetap, terkandung dalam sila-sila), nilai instrumental (penjabarannya dalam peraturan dan kebijakan), dan nilai praksis (wujudnya dalam perilaku sehari-hari).
Kalau soal menanyakan "apa kegunaan Pancasila bagi kehidupan berbangsa", itu soal aksiologis.
Kesalahan yang paling sering memotong nilai
Kesalahan berikut muncul berulang di jawaban UAS. Masing-masing bisa menghilangkan sebagian besar poin satu soal.
- Menukar epistemologis dengan aksiologis. Contoh jawaban keliru: "Dasar epistemologis Pancasila adalah Pancasila berguna sebagai pedoman hidup bangsa." Kalimat itu membahas kegunaan, jadi masuk aksiologis. Epistemologis harus bicara sumber pengetahuan, susunan, atau kebenaran.
- Mendaftar sila tanpa susunan hierarkis-piramidal. Menuliskan kelima sila beserta penjelasannya satu per satu belum menjawab "sebagai sistem". Dosen mencari kalimat yang menunjukkan hubungan antarsila: sila mana mendasari dan menjiwai sila mana.
- Menulis "subjek Pancasila adalah negara" pada soal ontologis. Negara adalah lembaga yang dibentuk manusia. Subjek pendukung pokok sila-sila adalah manusia.
- Monopluralis hanya disebut, tidak diurai. Satu kata "monopluralis" tanpa tiga pasangan kodratnya dinilai setengah.
- Mencampur tiga landasan dalam satu paragraf. Walaupun isinya benar, jawaban yang tidak memisahkan landasan sulit dinilai. Pakai subjudul atau paragraf terpisah untuk tiap landasan.
Contoh soal esai UAS dan kerangka jawabannya
Soal 1
"Jelaskan Pancasila sebagai sistem filsafat ditinjau dari landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis!"
Kerangka jawaban (sekitar satu halaman):
- Paragraf pembuka: Pancasila adalah sistem karena sila-silanya merupakan kesatuan hierarkis-piramidal. Disebut filsafat karena menjawab pertanyaan tentang hakikat manusia, pengetahuan, dan nilai.
- Ontologis: subjek pendukung sila-sila adalah manusia monopluralis, lalu uraikan susunan, sifat, dan kedudukan kodrat. Sebutkan hakikat dasar Tuhan, manusia, satu, rakyat, adil.
- Epistemologis: sumber dari nilai bangsa Indonesia sendiri, susunan sistematis dan hierarkis-piramidal, kebenaran diuji lewat akal, rasa, kehendak, dengan kebenaran tertinggi bersumber dari Tuhan.
- Aksiologis: nilai kelima sila, tingkatan nilai material, vital, kerohanian dengan religius tertinggi, dan pembagian nilai dasar, instrumental, praksis.
- Penutup satu kalimat: ketiga landasan menunjukkan Pancasila punya dasar yang utuh, dari hakikat sampai penerapan.
Soal 2
"Seorang mahasiswa berkata Pancasila hanya hafalan karena tidak punya dasar pengetahuan yang jelas. Tanggapi pernyataan itu dari sudut epistemologis."
Kerangka jawaban:
- Nyatakan posisi: pernyataan itu keliru karena Pancasila punya dasar epistemologis yang jelas.
- Sumber: nilai-nilainya digali dari adat, budaya, dan kehidupan religius bangsa Indonesia, bukan dirumuskan tanpa dasar.
- Susunan: sila-silanya tersusun sistematis dan hierarkis-piramidal, sehingga bisa dipelajari dengan nalar, bukan sekadar dihafal urutannya.
- Kebenaran: isinya bisa diuji dengan akal dan pengalaman hidup bersama, misalnya musyawarah sebagai cara mengambil keputusan yang benar-benar dipraktikkan.
- Penutup: yang membuat Pancasila terasa seperti hafalan adalah cara mempelajarinya, bukan isinya.
Soal kedua sengaja menguji apakah kamu tetap di jalur epistemologis. Jangan tergoda membahas manfaat Pancasila, karena itu aksiologis.
Kalau kamu sedang menyusun jadwal belajar untuk beberapa ujian sekaligus, lihat strategi belajar UAS dan UTS. Untuk merangkum materi seperti ini menjadi satu halaman, cara membuat catatan kuliah yang efektif bisa membantu.
FAQ seputar Pancasila sebagai sistem filsafat
Apa perbedaan Pancasila sebagai sistem filsafat dan sebagai ideologi?
Sebagai sistem filsafat, Pancasila dikaji secara mendasar: hakikat, pengetahuan, dan nilai. Sebagai ideologi, Pancasila dipakai sebagai cita-cita dan pedoman tindakan bangsa dan negara. Kajian filsafat menjadi dasar, ideologi adalah arah penerapannya.
Apa arti monopluralis secara sederhana?
Manusia adalah satu kesatuan yang tersusun dari beberapa unsur: raga dan jiwa, individu dan sosial, pribadi dan makhluk Tuhan. Unsur-unsur itu tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dalam satu manusia.
Apakah hierarkis-piramidal berarti sila pertama paling penting?
Bukan soal penting atau tidak. Hierarkis-piramidal menjelaskan hubungan: sila di atas punya cakupan lebih luas dan menjiwai sila di bawahnya. Kelimanya tetap satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Siapa tokoh yang sering dikutip untuk topik ini?
Notonagoro sering dikutip untuk susunan hierarkis-piramidal, konsep monopluralis, dan pembagian nilai. Buku-buku Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi, termasuk karya Kaelan, banyak merujuk pemikirannya. Cek daftar pustaka di RPS mata kuliahmu untuk sumber yang dipakai dosen.
Bagaimana cara cepat membedakan soal epistemologis dan aksiologis?
Lihat kata tanyanya. Kalau soal bertanya tentang sumber, asal, cara mengetahui, atau kebenaran, itu epistemologis. Kalau soal bertanya tentang nilai, guna, manfaat, atau penerapan, itu aksiologis.
