Kuliah

Kenapa Nilai 78 Bisa Jadi A di Kelas Lain: PAP vs PAN

Sistem penilaian PAP dan PAN dengan contoh angka: kenapa nilai 78 bisa A di satu kelas dan C di kelas lain, plus cara mengenali sistemnya dari RPS.

Oleh Diterbitkan 5 Nov 2026 8 menit baca
Di halaman ini

Sistem penilaian PAP dan PAN berbeda di satu hal: PAP mengubah angka jadi huruf memakai batas tetap, sedangkan PAN memakai posisimu dibanding teman sekelas. Di PAP, nilai 78 selalu menjadi huruf yang sama, siapa pun teman sekelasmu. Di PAN, nilai 78 bisa jadi A di kelas yang rata-ratanya 62 dan hanya C di kelas yang rata-ratanya 76. Karena itu, mengetahui sistem mana yang dipakai dosen mengubah cara kamu membaca nilai, bahkan cara memilih kelas paralel.

Apa itu PAP dan PAN?

PAP adalah Penilaian Acuan Patokan. Dosen menetapkan batas sebelum ujian, misalnya 80 ke atas dapat A. Nilaimu hanya dibandingkan dengan patokan itu. Kalau seluruh kelas mencapai 85, seluruh kelas dapat A.

PAN adalah Penilaian Acuan Norma. Huruf ditentukan dari sebaran nilai kelas, biasanya memakai rata-rata dan simpangan baku (SD). Nilaimu dibandingkan dengan teman sekelas. Kalau seluruh kelas mencapai 85, hanya yang jauh di atas rata-rata yang dapat A.

AspekPAP (acuan patokan)PAN (acuan norma)
PembandingBatas tetapRata-rata dan sebaran kelas
Batas huruf diketahui kapanSebelum ujian, biasanya di RPSSetelah semua nilai masuk
Kalau ujiannya sangat sulitBanyak yang dapat nilai rendahBatas ikut turun
Kalau teman sekelas kuatTidak berpengaruh ke hurufmuHurufmu bisa turun
Yang menentukan nilaimuSeberapa banyak materi yang kamu kuasaiSeberapa jauh kamu di atas atau di bawah rata-rata

Banyak kampus di Indonesia menetapkan skala konversi tetap di peraturan akademiknya, yang pada dasarnya adalah PAP. Tetapi praktik di kelas bisa berbeda. Ada dosen yang memakai PAN murni, ada yang memakai PAP lalu "menggeser" batas kalau hasil ujian jauh di bawah harapan.

Bagaimana nilai dihitung di PAP?

Langkahnya dua. Pertama, nilai akhir angka dihitung dari bobot komponen (tugas, kuis, UTS, UAS). Kedua, angka itu dicocokkan ke tabel konversi. Contoh tabel yang dipakai di artikel ini:

Nilai angkaHuruf
80 sampai 100A
70 sampai di bawah 80B
60 sampai di bawah 70C
50 sampai di bawah 60D
di bawah 50E

Dengan tabel ini, 78 adalah B. Di kelas mana pun, dengan teman sekelas siapa pun. Tabel di kampusmu mungkin punya huruf antara seperti A-, B+, atau batas yang berbeda. Kamu bisa mengecek konversinya dengan konversi nilai huruf kuliah, dan menghitung nilai akhir dari bobot komponen dengan kalkulator nilai akhir mata kuliah.

Bagaimana nilai dihitung di PAN? Contoh dengan angka

Skema PAN yang sering dipakai membagi kelas berdasarkan jarak dari rata-rata dalam satuan SD. Jarak itu disebut skor z:

z=x−xˉsz = \frac{x - \bar{x}}{s}

dengan xx nilaimu, xˉ\bar{x} rata-rata kelas, dan ss simpangan baku kelas. Salah satu pembagian yang umum:

Skor zHuruf
z≥1,5z \ge 1{,}5A
0,5≤z<1,50{,}5 \le z < 1{,}5B
−0,5≤z<0,5-0{,}5 \le z < 0{,}5C
−1,5≤z<−0,5-1{,}5 \le z < -0{,}5D
z<−1,5z < -1{,}5E

Skema ini bukan satu-satunya. Ada dosen yang memakai batas 1 SD, ada yang memakai kuota persentase (misalnya sepuluh persen teratas dapat A). Prinsipnya sama: posisimu di kelas yang menentukan.

Sekarang contoh kelas kecil berisi 10 mahasiswa dengan nilai akhir:

46, 52, 55, 59, 60, 61, 64, 72, 73, 78

Langkah 1, rata-rata. Jumlahnya 620, jadi xˉ=620/10=62\bar{x} = 620/10 = 62.

Langkah 2, simpangan baku. Selisih tiap nilai dari 62 adalah −16,−10,−7,−3,−2,−1,2,10,11,16-16, -10, -7, -3, -2, -1, 2, 10, 11, 16. Kuadratnya 256, 100, 49, 9, 4, 1, 4, 100, 121, 256, jumlahnya 900. Dengan rumus simpangan baku sampel:

s=90010−1=100=10s = \sqrt{\frac{900}{10 - 1}} = \sqrt{100} = 10

Langkah 3, batas huruf. Batas A adalah 62+1,5×10=7762 + 1{,}5 \times 10 = 77. Batas B adalah 62+0,5×10=6762 + 0{,}5 \times 10 = 67. Batas C adalah 62−0,5×10=5762 - 0{,}5 \times 10 = 57. Batas D adalah 62−1,5×10=4762 - 1{,}5 \times 10 = 47.

Langkah 4, hasilnya. Bandingkan dua sistem untuk kelas yang sama:

NilaiHuruf PAPSkor zHuruf PAN
78B1,6A
73B1,1B
72B1,0B
64C0,2C
61C-0,1C
60C-0,2C
59D-0,3C
55D-0,7D
52D-1,0D
46E-1,6E

Dengan PAP, tidak ada satu pun yang dapat A. Dengan PAN, nilai 78 dapat A dan nilai 59 naik dari D ke C, karena ujiannya ternyata sulit untuk semua orang.

Kenapa 78 bisa jadi C di kelas lain?

Ambil kelas paralel dengan mata kuliah dan dosen yang sama, tetapi isinya mahasiswa kuat: rata-rata 76 dan SD 6. Batasnya menjadi:

  • A: 76+1,5×6=8576 + 1{,}5 \times 6 = 85 ke atas
  • B: 79 sampai di bawah 85
  • C: 73 sampai di bawah 79
  • D: 67 sampai di bawah 73

Nilai 78 di kelas ini punya skor z=(78−76)/6≈0,33z = (78 - 76)/6 \approx 0{,}33, jadi C. Angka yang sama persis dengan mahasiswa di kelas pertama yang dapat A.

Dua kurva sebaran nilai kelas dengan pita huruf A sampai E, nilai 78 jatuh di pita A pada kelas berata-rata 62 dan di pita C pada kelas berata-rata 76

Inilah sisi PAN yang perlu kamu sadari. Kamu bersaing dengan teman sekelas, bukan dengan materi. Satu kelas berisi banyak mahasiswa yang mengulang dan sudah pernah melihat soal serupa bisa menaikkan rata-rata dan menekan huruf semua orang.

Cara mengenali sistem yang dipakai dari RPS

RPS (Rencana Pembelajaran Semester) biasanya dibagikan di pertemuan pertama atau diunggah di LMS. Bagian yang perlu dibaca adalah bagian penilaian atau evaluasi. Tanda-tandanya:

  1. Ada tabel rentang angka ke huruf (misalnya "A: 80 sampai 100"). Ini hampir pasti PAP.
  2. Ada kalimat "nilai akhir ditentukan berdasarkan distribusi kelas", "dinilai relatif", "kurva", atau "PAN". Ini PAN.
  3. Ada tabel rentang tetapi juga kalimat "dosen berhak menyesuaikan batas". Ini PAP dengan kemungkinan penyesuaian, sistem campuran yang cukup sering ditemui.
  4. Tidak ada keterangan sama sekali. Biasanya mengikuti skala di peraturan akademik kampus, tetapi tanyakan langsung.

Pertanyaan yang bisa diajukan di pertemuan pertama, cukup satu kalimat: "Pak, untuk konversi nilai akhir ke huruf, apakah memakai rentang tetap atau berdasarkan sebaran kelas?" Ini pertanyaan administratif yang wajar. Tanyakan di forum kelas supaya jawabannya didengar semua orang.

Apakah ini berpengaruh ke pilihan kelas paralel?

Sedikit, dan hanya kalau kamu benar-benar bisa memilih. Kalau mata kuliah memakai PAP, yang lebih menentukan adalah dosen, gaya soal, dan jadwal yang cocok untukmu. Komposisi teman sekelas tidak mengubah hurufmu.

Kalau memakai PAN, komposisi kelas memang berpengaruh, tetapi sulit ditebak sebelum semester mulai. Siapa yang mendaftar di kelas mana baru terlihat setelah masa KRS. Mengejar "kelas lemah" juga sering gagal karena banyak orang punya ide yang sama. Pertimbangan yang lebih bisa diandalkan tetap jadwal dan dosen. Strategi mengisi KRS ada di cara mengisi KRS tanpa bentrok dan kelas penuh.

Kesalahan yang sering terjadi saat membaca nilai

  • Menganggap 78 "pasti A" atau "pasti B" sebelum tahu sistemnya. Di PAN, tidak ada yang tahu batasnya sampai semua nilai masuk.
  • Membandingkan nilai angka dengan teman di kelas paralel. Di PAN, 78 di kelasmu dan 78 di kelas sebelah bisa berbeda huruf, dan itu bukan kesalahan input.
  • Mengira PAN selalu menguntungkan. PAN menolong saat ujian sangat sulit, tetapi merugikan di kelas yang kuat dan saat soalnya mudah, karena rata-rata naik.
  • Menghitung SD dengan rumus yang berbeda dari dosen. Rumus populasi membagi dengan nn, rumus sampel dengan n−1n - 1. Untuk contoh di atas, rumus populasi memberi 90≈9,49\sqrt{90} \approx 9{,}49, sehingga batas A turun menjadi sekitar 76,2. Hasil hitunganmu bisa sedikit berbeda dari dosen.
  • Menyimpulkan dosen "pelit nilai" hanya karena sedikit yang dapat A. Di PAP, sedikitnya A berarti sedikit yang mencapai patokan. Di PAN, jumlah A memang dibatasi oleh skemanya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Mana yang lebih adil, PAP atau PAN?

Keduanya punya alasan. PAP menilai penguasaan materi secara langsung, cocok untuk kompetensi yang punya standar jelas. PAN berguna saat dosen belum yakin tingkat kesulitan soalnya pas, karena batas menyesuaikan dengan hasil kelas. Yang paling penting bagi mahasiswa adalah sistemnya diumumkan sejak awal.

Apakah di PAN pasti ada yang dapat E?

Tidak selalu. Kalau tidak ada nilai yang jatuh lebih dari 1,5 SD di bawah rata-rata, tidak ada E. Sebagian dosen juga memberi batas bawah tambahan, misalnya nilai di atas angka tertentu tidak boleh di bawah C.

Bolehkah meminta dosen menunjukkan perhitungan PAN-nya?

Boleh menanyakan dengan sopan, terutama saat masa sanggah nilai. Yang wajar ditanyakan adalah skema batasnya, bukan nilai teman lain.

Bagaimana menghitung target nilai kalau dosen memakai PAN?

Kamu tidak bisa menghitung targetnya pasti. Cara praktis: kejar nilai yang di PAP sudah aman (misalnya 80). Di banyak kelas angka itu sudah di atas rata-rata, walau di kelas yang kuat belum tentu cukup untuk A. Untuk menghitung target UAS dari komponen yang sudah keluar, pakai kalkulator nilai minimal UAS.

Berapa huruf A yang dibutuhkan untuk IPK tertentu?

Itu bergantung pada SKS dan nilai lainnya, bukan pada sistem PAP atau PAN. Simulasinya ada di berapa nilai A untuk IPK 3,5.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?