Kuliah

Cara Menghitung WACC: Biaya Utang, Saham, dan Bobot Modal

Cara menghitung WACC langkah demi langkah: biaya utang setelah pajak, saham preferen, ekuitas Gordon dan CAPM, lalu bobot nilai buku vs nilai pasar.

Oleh Diterbitkan 5 Nov 2026 8 menit baca
Di halaman ini

WACC (weighted average cost of capital) dihitung dengan mengalikan biaya tiap sumber dana, yaitu utang setelah pajak, saham preferen, dan ekuitas biasa, dengan bobotnya di struktur modal, lalu menjumlahkannya. Cara menghitung WACC di soal kuliah selalu melewati empat langkah yang sama: biaya utang, biaya preferen, biaya ekuitas, lalu bobot. Di bawah ini satu soal dikerjakan utuh sampai angka akhir, termasuk perbandingan bobot nilai buku dan nilai pasar yang hasilnya berbeda hampir satu poin persen.

Rumus WACC dan arti tiap komponennya

WACC=wd⋅kd(1−T)+wp⋅kp+we⋅keWACC = w_d \cdot k_d(1-T) + w_p \cdot k_p + w_e \cdot k_e
SimbolArtinyaDari mana angkanya
kdk_dBiaya utang sebelum pajakYield to maturity obligasi, bukan tingkat kupon
TTTarif pajak perusahaanDiberikan di soal
kpk_pBiaya saham preferenDividen preferen dibagi harga bersih
kek_eBiaya ekuitas biasaModel Gordon, CAPM, atau keduanya
wd,wp,wew_d, w_p, w_eBobot tiap sumber danaNilai pasar (utama) atau nilai buku

Hanya utang yang dikalikan (1−T)(1-T). Bunga utang mengurangi laba kena pajak, sedangkan dividen preferen dan dividen biasa dibayar dari laba setelah pajak, jadi tidak ada penghematan pajaknya.

Soal yang dikerjakan di artikel ini: PT Sinar Laju punya struktur modal berikut. Tarif pajak 22%.

  • Obligasi: 4.000 lembar, nilai nominal Rp1.000.000 per lembar, kupon 11% dibayar tahunan, sisa jatuh tempo 10 tahun, harga pasar sekarang Rp960.000 per lembar.
  • Saham preferen: 100.000 lembar, nilai buku Rp10.000 per lembar, dividen tetap Rp1.200 per lembar, harga pasar Rp10.000, biaya emisi 4% untuk penerbitan baru.
  • Saham biasa: 2.000.000 lembar, ekuitas di neraca (modal disetor ditambah laba ditahan) Rp5.000 juta, harga pasar Rp5.300 per lembar. Dividen terakhir Rp400 per lembar, tumbuh konstan 6% per tahun.
  • Untuk CAPM: tingkat bebas risiko 6%, beta saham 1,2, return pasar 13%.

Soal meminta biaya ekuitas dihitung dengan dua metode lalu dirata-rata, dan WACC dihitung dengan bobot nilai buku dan bobot nilai pasar.

Langkah 1: berapa biaya utang setelah pajak?

Biaya utang adalah imbal hasil yang diminta pemegang obligasi sekarang, yaitu yield to maturity (YTM). Kupon 11% bukan jawabannya, karena obligasi dijual di bawah nominal sehingga pembeli mendapat lebih dari 11%.

Rumus pendekatan YTM yang biasa dipakai di soal tanpa kalkulator keuangan:

YTM≈I+F−PnF+P2YTM \approx \frac{I + \dfrac{F - P}{n}}{\dfrac{F + P}{2}}

Masukkan angkanya. Bunga tahunan II = 11% × Rp1.000.000 = Rp110.000.

YTM≈110.000+1.000.000−960.000101.000.000+960.0002=114.000980.000=11,63%YTM \approx \frac{110.000 + \dfrac{1.000.000 - 960.000}{10}}{\dfrac{1.000.000 + 960.000}{2}} = \frac{114.000}{980.000} = 11{,}63\%

YTM persisnya, kalau dihitung iteratif dengan Excel (fungsi RATE), adalah 11,70%. Selisih 0,07 poin ini wajar untuk rumus pendekatan. Pakai yang diminta soal.

Biaya utang setelah pajak:

kd(1−T)=11,63%×(1−0,22)=9,07%k_d(1-T) = 11{,}63\% \times (1 - 0{,}22) = 9{,}07\%

Langkah 2: menghitung biaya saham preferen

Dividen preferen tetap selamanya, jadi biayanya adalah dividen dibagi harga yang benar-benar diterima perusahaan setelah biaya emisi.

kp=DpPp(1−f)=1.20010.000×(1−0,04)=1.2009.600=12,50%k_p = \frac{D_p}{P_p(1-f)} = \frac{1.200}{10.000 \times (1 - 0{,}04)} = \frac{1.200}{9.600} = 12{,}50\%

Kalau soal tidak menyebut biaya emisi, cukup 1.200/10.000=12%1.200/10.000 = 12\%. Tidak ada (1−T)(1-T) di sini.

Langkah 3: biaya ekuitas dengan Gordon dan CAPM

Model Gordon (dividend growth model) memakai dividen tahun depan, bukan dividen terakhir. Ini titik yang paling sering salah.

D1=D0(1+g)=400×1,06=424D_1 = D_0(1+g) = 400 \times 1{,}06 = 424 ke=D1P0+g=4245.300+6%=8%+6%=14,00%k_e = \frac{D_1}{P_0} + g = \frac{424}{5.300} + 6\% = 8\% + 6\% = 14{,}00\%

CAPM memakai risiko sistematis saham:

ke=Rf+β(Rm−Rf)=6%+1,2×(13%−6%)=6%+8,4%=14,40%k_e = R_f + \beta(R_m - R_f) = 6\% + 1{,}2 \times (13\% - 6\%) = 6\% + 8{,}4\% = 14{,}40\%

Dua metode memberi angka yang berdekatan, dan itu tanda data soalnya konsisten. Rata-ratanya:

ke=14,00%+14,40%2=14,20%k_e = \frac{14{,}00\% + 14{,}40\%}{2} = 14{,}20\%

Kalau ekuitas diperoleh dari penerbitan saham baru dengan biaya emisi, misalnya 5%, Gordon disesuaikan menjadi 424/(5.300×0,95)+6%=14,42%424 / (5.300 \times 0{,}95) + 6\% = 14{,}42\%. Ekuitas dari laba ditahan tidak kena biaya emisi, jadi tetap 14,00%.

Langkah 4: bobot nilai buku atau nilai pasar?

Di sinilah dua jawaban mahasiswa bisa berbeda walaupun semua biaya modalnya sama.

Sumber danaNilai buku (juta Rp)Bobot bukuNilai pasar (juta Rp)Bobot pasar
Obligasi4.000 × 1 = 4.00040,00%4.000 × 0,96 = 3.84024,87%
Saham preferen100.000 × 10.000 = 1.00010,00%100.000 × 10.000 = 1.0006,48%
Saham biasa5.00050,00%2.000.000 × 5.300 = 10.60068,65%
Total10.000100%15.440100%

Harga saham biasa di pasar (Rp5.300) jauh di atas nilai bukunya per lembar (Rp2.500), sehingga bobot ekuitas melonjak dari 50% ke hampir 69%. Ekuitas adalah sumber dana paling mahal, jadi WACC ikut naik.

Menggabungkan semuanya menjadi WACC

KomponenBiayaBobot bukuKontribusiBobot pasarKontribusi
Utang setelah pajak9,07%40,00%3,63%24,87%2,26%
Saham preferen12,50%10,00%1,25%6,48%0,81%
Saham biasa14,20%50,00%7,10%68,65%9,75%
WACC11,98%12,81%

Bobot nilai buku memberi WACC 11,98%. Bobot nilai pasar memberi 12,81%. Kalau tiga kontribusi bobot pasar yang sudah dibulatkan (2,26 + 0,81 + 9,75) dijumlah langsung, hasilnya 12,82%. Selisih 0,01 itu murni dari pembulatan tiap baris, dan tanpa pembulatan WACC-nya 12,81%.

Mana yang dipakai? Kalau soal memberi harga pasar, pakai bobot nilai pasar. Investor menuntut imbal hasil atas nilai investasi mereka hari ini, bukan atas angka historis di neraca. Nilai buku dipakai kalau soal hanya memberi data neraca, atau kalau soal memang memintanya secara eksplisit. Yang paling ideal sebenarnya bobot struktur modal target perusahaan, kalau soal menyebutnya.

WACC ini yang kemudian dipakai sebagai tingkat diskonto untuk menilai proyek. Proyek dengan risiko setara rata-rata perusahaan layak kalau NPV-nya positif pada 12,81%. Contoh pemakaiannya ada di cara menghitung NPV dan IRR dengan interpolasi, dan kasus dua proyek yang hasilnya bertentangan ada di NPV dan IRR berbeda, proyek mana yang dipilih.

Kesalahan yang sering terjadi saat menghitung WACC

  1. Lupa mengalikan biaya utang dengan (1−T)(1-T). Dengan bobot pasar di soal ini, WACC jadi 13,45%, lebih tinggi 0,64 poin dari yang benar. Selisih sekecil itu cukup untuk mengubah keputusan proyek yang NPV-nya tipis.
  2. Mengalikan biaya preferen atau biaya ekuitas dengan (1−T)(1-T). Hanya bunga utang yang mengurangi pajak.
  3. Memakai bobot nilai buku padahal soal memberi harga pasar obligasi dan saham. Di soal ini, salah bobot menurunkan WACC dari 12,81% ke 11,98%.
  4. Memakai tingkat kupon (11%) sebagai biaya utang, padahal obligasi diperdagangkan di bawah nominal.
  5. Memakai D0D_0 langsung di rumus Gordon. Dengan Rp400, hasilnya 13,55%, bukan 14,00%.
  6. Di CAPM, mengalikan beta dengan RmR_m saja, bukan dengan premi risiko pasar (Rm−Rf)(R_m - R_f). Kalau soal sudah memberi "premi risiko pasar 7%", angka itu langsung dikali beta tanpa dikurangi RfR_f lagi.
  7. Menjumlahkan bobot yang totalnya tidak 100% karena pembulatan. Cek total bobot sebelum mengalikan.

Kalau soal UAS-nya memuat beberapa topik keuangan sekaligus, urutan belajar per topik ada di strategi belajar UAS dan UTS mahasiswa.

FAQ

Kenapa biaya utang dikali (1 − T) tapi biaya saham tidak?

Bunga utang dicatat sebagai beban sebelum pajak, sehingga mengurangi pajak yang dibayar perusahaan. Dividen dibayar dari laba setelah pajak, jadi tidak ada penghematan pajak yang perlu diperhitungkan.

Biaya ekuitas pakai Gordon atau CAPM?

Ikuti soal. Gordon hanya cocok untuk perusahaan yang membagikan dividen dengan pertumbuhan stabil. CAPM bisa dipakai untuk perusahaan yang tidak membagi dividen. Kalau soal memberi data untuk keduanya tanpa instruksi, hitung keduanya lalu rata-ratakan dan jelaskan alasannya.

Apakah laba ditahan punya biaya modal?

Punya. Laba ditahan adalah milik pemegang saham yang tidak dibagikan, jadi biayanya sama dengan biaya ekuitas biasa. Bedanya hanya tidak ada biaya emisi.

Bagaimana kalau perusahaan punya utang bank, bukan obligasi?

Pakai tingkat bunga pinjaman bank yang berlaku sekarang sebagai kdk_d, lalu kalikan (1−T)(1-T). Bobotnya memakai nilai buku pinjaman, karena utang bank tidak punya harga pasar.

Apakah WACC boleh dipakai untuk semua proyek perusahaan?

Hanya untuk proyek yang risikonya setara rata-rata perusahaan. Proyek yang jauh lebih berisiko, misalnya masuk ke industri baru, seharusnya didiskonto dengan tingkat yang lebih tinggi dari WACC.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?