Kartu Persediaan FIFO dan Rata-Rata Perpetual: Contoh Soal
Contoh soal kartu persediaan FIFO dan rata-rata bergerak perpetual, lengkap dengan retur, aturan pembulatan, dan dampaknya ke HPP serta laba kotor.

Di halaman ini
- Data transaksi satu bulan
- Kartu persediaan metode FIFO
- Kartu persediaan metode rata-rata bergerak
- Kenapa saldo kartu tidak sama dengan unit dikali rata-rata?
- Dibandingkan dengan rata-rata periodik
- Dampak ke HPP dan laba kotor saat harga naik
- Kesalahan yang sering terjadi di kartu persediaan
- FAQ
- Apa beda metode perpetual dan periodik?
- Retur penjualan di kartu persediaan dicatat dengan harga berapa?
- Kenapa FIFO perpetual dan FIFO periodik hasilnya sama?
- Harga rata-rata dibulatkan berapa angka di belakang koma?
- Apakah metode LIFO masih boleh dipakai?
Kartu persediaan metode perpetual mencatat setiap pembelian, penjualan, dan retur saat terjadi, sehingga saldo unit, harga pokok, dan harga pokok penjualan (HPP) selalu diperbarui. Di metode FIFO, barang yang keluar dihargai dengan lapisan harga paling lama. Di metode rata-rata bergerak (moving average), harga rata-rata dihitung ulang setiap ada barang masuk. Contoh soal kartu persediaan FIFO dan rata-rata perpetual di bawah ini memakai satu bulan transaksi yang sama, lengkap dengan retur, supaya selisih HPP dan labanya terlihat jelas.
Data transaksi satu bulan
UD Maju Jaya menjual satu jenis barang dan memakai sistem perpetual. Transaksi bulan Maret:
| Tanggal | Transaksi | Unit | Harga per unit |
|---|---|---|---|
| 1 Maret | Saldo awal | 100 | Rp10.000 (harga pokok) |
| 5 Maret | Pembelian | 200 | Rp11.000 |
| 8 Maret | Retur pembelian (dari pembelian 5 Maret) | 20 | Rp11.000 |
| 12 Maret | Penjualan | 220 | Rp15.000 (harga jual) |
| 18 Maret | Pembelian | 150 | Rp12.000 |
| 22 Maret | Retur penjualan (dari penjualan 12 Maret) | 10 | Rp15.000 (harga jual) |
| 26 Maret | Penjualan | 180 | Rp16.000 (harga jual) |
Cek unit dulu sebelum mengisi kartu: 100 + 200 − 20 − 220 + 150 + 10 − 180 = 40 unit di akhir bulan. Kalau angka akhir kartumu bukan 40 unit, ada baris yang salah.
Harga beli naik dari Rp10.000 ke Rp12.000 sepanjang bulan. Kondisi harga naik inilah yang membuat tiap metode menghasilkan laba berbeda.
Kartu persediaan metode FIFO
FIFO (first in, first out) mengeluarkan barang dari lapisan paling tua. Setiap lapisan harga ditulis terpisah di kolom saldo.
| Tgl | Keterangan | Masuk | Keluar (HPP) | Saldo |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Saldo awal | 100 @ 10.000 = 1.000.000 | ||
| 5 | Pembelian | 200 @ 11.000 = 2.200.000 | 100 @ 10.000 dan 200 @ 11.000 = 3.200.000 | |
| 8 | Retur pembelian | (20 @ 11.000 = 220.000) | 100 @ 10.000 dan 180 @ 11.000 = 2.980.000 | |
| 12 | Penjualan 220 unit | 100 @ 10.000 + 120 @ 11.000 = 2.320.000 | 60 @ 11.000 = 660.000 | |
| 18 | Pembelian | 150 @ 12.000 = 1.800.000 | 60 @ 11.000 dan 150 @ 12.000 = 2.460.000 | |
| 22 | Retur penjualan | 10 @ 11.000 = 110.000 | 70 @ 11.000 dan 150 @ 12.000 = 2.570.000 | |
| 26 | Penjualan 180 unit | 70 @ 11.000 + 110 @ 12.000 = 2.090.000 | 40 @ 12.000 = 480.000 |
Tiga hal yang perlu diperhatikan di kartu ini:
- Retur pembelian mengurangi lapisan yang dibeli tanggal 5, dengan harga belinya sendiri (Rp11.000).
- Penjualan 12 Maret menghabiskan seluruh lapisan Rp10.000 dulu, baru mengambil 120 unit dari lapisan Rp11.000.
- Retur penjualan masuk kembali dengan harga pokok saat barang itu dikeluarkan, bukan harga jual Rp15.000. Unit terakhir yang keluar tanggal 12 berasal dari lapisan Rp11.000, dan lapisan itu masih ada, jadi 10 unit digabung ke sana menjadi 70 unit.
HPP FIFO bulan Maret = 2.320.000 − 110.000 + 2.090.000 = Rp4.300.000. Persediaan akhir Rp480.000.
Kartu persediaan metode rata-rata bergerak
Di metode rata-rata bergerak, harga rata-rata baru dihitung setiap kali ada barang masuk: saldo total dibagi saldo unit. Barang keluar dihargai dengan rata-rata terakhir. Di contoh ini harga rata-rata dibulatkan ke rupiah penuh.
| Tgl | Keterangan | Masuk | Keluar (HPP) | Unit | Rata-rata | Saldo total |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Saldo awal | 100 | 10.000 | 1.000.000 | ||
| 5 | Beli 200 @ 11.000 | 2.200.000 | 300 | 10.667 | 3.200.000 | |
| 8 | Retur beli 20 @ 11.000 | (220.000) | 280 | 10.643 | 2.980.000 | |
| 12 | Jual 220 unit | 220 × 10.643 = 2.341.460 | 60 | 10.643 | 638.540 | |
| 18 | Beli 150 @ 12.000 | 1.800.000 | 210 | 11.612 | 2.438.540 | |
| 22 | Retur jual 10 @ 10.643 | 106.430 | 220 | 11.568 | 2.544.970 | |
| 26 | Jual 180 unit | 180 × 11.568 = 2.082.240 | 40 | 11.568 | 462.730 |
Contoh hitungan rata-rata tanggal 5: 3.200.000 / 300 = 10.666,67, dibulatkan 10.667. Tanggal 8, retur pembelian keluar dengan harga faktur Rp11.000 (bukan rata-rata), sehingga saldo menjadi 2.980.000 / 280 = 10.642,86, dibulatkan 10.643.
Retur penjualan tanggal 22 dicatat dengan rata-rata yang dipakai saat barang itu dijual (Rp10.643), bukan rata-rata terbaru. Setelah itu rata-rata dihitung ulang: 2.544.970 / 220 = 11.568,05, dibulatkan 11.568.
HPP rata-rata bergerak = 2.341.460 − 106.430 + 2.082.240 = Rp4.317.270. Persediaan akhir Rp462.730.
Kenapa saldo kartu tidak sama dengan unit dikali rata-rata?
Perhatikan baris 12 Maret. Sisa 60 unit kalau dikalikan rata-rata Rp10.643 hasilnya 638.580, padahal kolom saldo total menulis 638.540. Baris 26 Maret juga begitu: 40 × 11.568 = 462.720, sedangkan saldonya 462.730.
Selisih Rp40 dan Rp10 itu berasal dari pembulatan harga rata-rata. Tanggal 12, rata-rata sebenarnya 10.642,857... dibulatkan ke atas, jadi setiap unit yang keluar dihargai sedikit lebih mahal dan saldo jadi lebih kecil. Tanggal 26 kebalikannya: rata-rata 11.568,045... dibulatkan ke bawah, jadi saldo sedikit lebih besar.
Aturan yang aman dipakai di soal:
- Hitung HPP dengan unit keluar dikali rata-rata yang dibulatkan.
- Hitung saldo total dengan saldo total sebelumnya dikurangi HPP, bukan unit dikali rata-rata.
- Dengan cara ini, HPP ditambah persediaan akhir selalu sama dengan total barang tersedia untuk dijual.
Cek di contoh ini. Barang tersedia untuk dijual (bersih dari retur) = 1.000.000 + 2.200.000 − 220.000 + 1.800.000 = Rp4.780.000. HPP bersih ditambah persediaan akhir = 4.317.270 + 462.730 = Rp4.780.000. Cocok.
Kalau dosenmu memakai dua desimal, hasilnya bergeser beberapa rupiah. Tanpa pembulatan sama sekali, HPP rata-rata bergerak adalah Rp4.317.272,73. Yang penting konsisten dan totalnya tetap menutup.
Dibandingkan dengan rata-rata periodik
Di sistem periodik, harga rata-rata dihitung sekali di akhir periode dari semua barang yang tersedia untuk dijual, tanpa melihat urutan transaksi.
Persediaan akhir = 40 × 11.116,28 = Rp444.651. HPP = 4.780.000 − 444.651 = Rp4.335.349 untuk 390 unit terjual bersih (220 − 10 + 180).
Angka periodik lebih tinggi dari rata-rata bergerak karena barang seharga Rp12.000 yang baru dibeli tanggal 18 ikut "dirata-rata" ke penjualan tanggal 12, padahal saat itu barangnya belum ada.
Dampak ke HPP dan laba kotor saat harga naik
Penjualan bersih sama untuk semua metode: (220 × 15.000) − (10 × 15.000) + (180 × 16.000) = 3.300.000 − 150.000 + 2.880.000 = Rp6.030.000.
| Metode | HPP | Persediaan akhir | Laba kotor |
|---|---|---|---|
| FIFO perpetual | 4.300.000 | 480.000 | 1.730.000 |
| Rata-rata bergerak | 4.317.270 | 462.730 | 1.712.730 |
| Rata-rata periodik | 4.335.349 | 444.651 | 1.694.651 |
Saat harga beli naik, FIFO memberi HPP paling rendah dan laba paling tinggi, karena barang murah dari awal periode yang dibebankan lebih dulu. Persediaan akhirnya juga paling dekat dengan harga terbaru (40 unit @ Rp12.000). Kalau harga turun, urutannya berbalik.
Satu catatan untuk soal FIFO: FIFO perpetual dan FIFO periodik selalu memberi HPP yang sama, karena urutan lapisan yang keluar tidak berubah. Perbedaan perpetual dan periodik hanya muncul di metode rata-rata.
Jurnal perpetual untuk transaksi di atas (angka FIFO):
- 8 Maret: Utang Usaha 220.000 (debit), Persediaan 220.000 (kredit).
- 12 Maret: Piutang Usaha 3.300.000 (debit), Penjualan 3.300.000 (kredit); HPP 2.320.000 (debit), Persediaan 2.320.000 (kredit).
- 22 Maret: Retur Penjualan 150.000 (debit), Piutang Usaha 150.000 (kredit); Persediaan 110.000 (debit), HPP 110.000 (kredit).
Kalau masih ragu sisi debit dan kredit tiap akun, baca dulu cara menentukan sisi debit dan kredit akun.
Kesalahan yang sering terjadi di kartu persediaan
- Mencatat retur penjualan dengan harga jual (Rp15.000) di kartu persediaan. Kartu hanya berisi harga pokok.
- Mencatat retur pembelian dengan harga rata-rata di metode rata-rata bergerak, padahal barang dikembalikan sesuai harga fakturnya.
- Di FIFO, menggabungkan semua lapisan menjadi satu harga di kolom saldo. Setelah digabung, kamu tidak bisa tahu lapisan mana yang keluar berikutnya.
- Lupa menghitung ulang rata-rata setelah retur, sehingga penjualan berikutnya memakai rata-rata yang sudah basi.
- Menghitung saldo total dengan unit dikali rata-rata yang dibulatkan, lalu bingung karena HPP ditambah persediaan akhir tidak sama dengan barang tersedia untuk dijual.
- Memakai rata-rata bergerak padahal soal meminta rata-rata tertimbang periodik, atau sebaliknya. Kata kunci "perpetual" berarti kartu persediaan per transaksi.
Persediaan akhir yang kamu hitung di sini masuk ke neraca, dan HPP-nya masuk ke laba rugi. Alurnya sampai laporan keuangan ada di neraca lajur ke laporan keuangan. Untuk perusahaan manufaktur, nilai persediaan juga dipengaruhi cara membebankan BOP tetap, yang dibahas di full costing vs variable costing.
FAQ
Apa beda metode perpetual dan periodik?
Perpetual memperbarui saldo persediaan dan HPP setiap ada transaksi, memakai kartu persediaan. Periodik baru menghitung HPP di akhir periode lewat stock opname: persediaan awal ditambah pembelian bersih dikurangi persediaan akhir.
Retur penjualan di kartu persediaan dicatat dengan harga berapa?
Dengan harga pokok saat barang itu dikeluarkan. Di FIFO, harga lapisan asal barang tersebut. Di rata-rata bergerak, rata-rata pada tanggal penjualan aslinya.
Kenapa FIFO perpetual dan FIFO periodik hasilnya sama?
Karena di kedua sistem barang paling tua tetap keluar lebih dulu. Urutan lapisan yang habis tidak bergantung pada kapan HPP dihitung.
Harga rata-rata dibulatkan berapa angka di belakang koma?
Tidak ada aturan baku. Ikuti instruksi dosen. Kalau tidak ada instruksi, bulatkan ke rupiah penuh dan hitung saldo total dari saldo sebelumnya dikurangi HPP supaya totalnya tetap menutup.
Apakah metode LIFO masih boleh dipakai?
LIFO tidak diizinkan di standar akuntansi keuangan yang berbasis IFRS, termasuk yang dipakai di Indonesia. Di soal kuliah, LIFO kadang masih muncul sebagai pembanding teori.
