kuliah#praktikum#kimia dasar#titrasi#normalitas

Menghitung Normalitas dan Hasil Titrasi Asam Basa

H2SO4 0,1 M sama dengan 0,2 N, dan salah di titik itu membuat seluruh hitungan melenceng dua kali. Plus cara hitung balik dari volume titran tiga pengulangan.

Oleh Oscar Ryanda Putra· Diterbitkan 8 Okt 2026· 8 menit baca
Di halaman ini

Normalitas adalah molaritas dikali faktor ekuivalen, jadi H₂SO₄ 0,1 M sama dengan 0,2 N sedangkan HCl 0,1 M tetap 0,1 N. Satu kesalahan di titik ini membuat seluruh hitungan titrasimu melenceng tepat dua kali, dan hasilnya tetap terlihat wajar sehingga sering lolos sampai laporan dikumpulkan. Di bawah ini faktor ekuivalen dibereskan dulu, lalu dipakai untuk menghitung konsentrasi dari volume titran tiga kali pengulangan.

Apa bedanya molaritas dan normalitas?

Molaritas menghitung jumlah molekul zat per liter larutan. Normalitas menghitung jumlah ekuivalen, yaitu seberapa banyak ion H⁺ atau OH⁻ yang bisa dilepas atau diterima zat itu per liter larutan.

N = M × a

dengan a adalah faktor ekuivalen atau valensi asam basanya. Untuk asam, a adalah jumlah H⁺ yang dilepas. Untuk basa, a adalah jumlah OH⁻ yang dilepas.

Alasan normalitas masih dipakai di titrasi sederhana: pada titik ekuivalen, jumlah ekuivalen asam selalu sama dengan jumlah ekuivalen basa, apa pun perbandingan koefisien reaksinya. Jadi kamu boleh langsung menulis

N₁V₁ = N₂V₂

tanpa menyeimbangkan persamaan reaksi lebih dulu. Kalau memakai molaritas, rumusnya harus membawa perbandingan mol, misalnya dua mol NaOH untuk satu mol H₂SO₄, dan di situlah faktor dua yang hilang itu muncul.

Berapa faktor ekuivalen tiap asam dan basa?

ZataContohNormalitas
HCl10,1 M0,1 N
H₂SO₄20,1 M0,2 N
CH₃COOH10,1 M0,1 N
NaOH10,1 M0,1 N
Ca(OH)₂20,1 M0,2 N
H₂C₂O₄ (asam oksalat)20,1 M0,2 N

Asam asetat punya empat atom hidrogen di rumusnya, tetapi hanya satu yang bersifat asam, yaitu yang menempel di gugus karboksil. Tiga sisanya terikat pada karbon dan tidak pernah lepas sebagai H⁺. Jadi a-nya 1, bukan 4.

Dua zat berikut faktor ekuivalennya tidak tunggal, dan ini sumber kebingungan yang lebih dalam.

Asam fosfat H₃PO₄ bisa punya a sama dengan 1, 2, atau 3 tergantung sampai tahap mana kamu menitrasi. Dengan fenolftalein biasanya berhenti di tahap kedua, sedangkan dengan metil merah berhenti di tahap pertama.

Natrium karbonat Na₂CO₃ yang dititrasi dengan HCl punya a sama dengan 1 kalau indikatornya fenolftalein, dan a sama dengan 2 kalau indikatornya metil oranye. Indikator yang kamu pilih menentukan titik akhir mana yang terbaca, dan titik akhir menentukan faktor ekuivalennya. Jadi untuk zat poliprotik, faktor ekuivalen bukan sifat zat semata, melainkan sifat reaksi yang kamu jalankan.

Berat ekuivalen mengikuti logika yang sama: BE = Mr ÷ a. Asam oksalat dihidrat punya Mr 126,07 dan a sama dengan 2, jadi BE-nya 63,04 g per ekuivalen.

Bagaimana menghitung konsentrasi dari volume titran?

Misalkan 10,00 mL larutan H₂SO₄ yang konsentrasinya belum diketahui dititrasi dengan NaOH 0,1 N memakai indikator fenolftalein, dan hasilnya seperti ini.

PengulanganVolume NaOH
124,55 mL
224,60 mL
324,65 mL
Rata-rata24,60 mL

Hitungannya tiga langkah.

  1. Pakai N₁V₁ = N₂V₂, dengan indeks 1 untuk asam dan 2 untuk basa.
  2. N asam = (0,1 N × 24,60 mL) ÷ 10,00 mL = 0,246 N.
  3. Ubah ke molaritas dengan membagi faktor ekuivalennya. M = 0,246 ÷ 2 = 0,123 M.

Langkah 3 yang paling sering hilang. Kalau kamu berhenti di langkah 2 lalu menulis hasilnya sebagai 0,246 M, hasilmu dua kali lipat dari yang benar. Tidak ada yang kelihatan aneh, satuannya masuk, angkanya wajar, dan laporanmu salah.

Patokan cepat untuk memeriksa diri sendiri: untuk asam diprotik, molaritas selalu lebih kecil dari normalitas. Kalau hasil akhirmu dalam molaritas ternyata lebih besar dari nilai normalitasnya, pembagiannya terbalik.

Kenapa NaOH harus distandardisasi dulu?

Karena 0,1 N di label botol itu cuma niat, bukan fakta. NaOH menyerap uap air dan karbon dioksida dari udara, jadi massa yang ditimbang bukan seluruhnya NaOH murni. Konsentrasi sebenarnya harus ditentukan lewat titrasi dengan zat yang stabil, biasanya asam oksalat dihidrat atau kalium hidrogen ftalat.

Contohnya begini. Kamu menimbang 0,6304 g asam oksalat dihidrat dan melarutkannya ad 100 mL, sehingga normalitasnya tepat 0,1 N karena 0,6304 dibagi BE 63,04 sama dengan 0,01 ekuivalen dalam 0,1 L. Lalu 10,00 mL larutan itu dititrasi dengan NaOH yang mau kamu standardisasi, dan ternyata butuh 9,85 mL.

N NaOH = (0,1 × 10,00) ÷ 9,85 = 0,1015 N

Nilai 0,1015 inilah yang dipakai di semua titrasi selanjutnya, bukan 0,1. Selisihnya memang cuma satu setengah persen, tapi selisih itu terbawa ke setiap hasil yang kamu laporkan sesudahnya. Cara membuat larutan standarnya dari padatan ada di membuat larutan dari padatan dan pengenceran.

Dari titrasi ke kadar persen, contoh pada cuka dapur

Praktikum yang paling sering keluar di Kimia Dasar adalah menentukan kadar asam asetat dalam cuka. Alurnya seperti ini.

  1. Ambil 5,00 mL cuka, encerkan ad 50 mL. Faktor pengenceran 10 kali.
  2. Pipet 10,00 mL hasil pengenceran, tambahkan dua tetes fenolftalein.
  3. Titrasi dengan NaOH 0,1 N sampai merah muda yang bertahan sekitar tiga puluh detik. Misalnya butuh 8,30 mL.
  4. N aliquot = (0,1 × 8,30) ÷ 10,00 = 0,083 N. Karena a asam asetat sama dengan 1, molaritasnya juga 0,083 M.
  5. Kembalikan ke cuka asal dengan mengali faktor pengenceran: 0,083 × 10 = 0,83 M.
  6. Ubah ke gram per liter: 0,83 × 60,05 = 49,8 g/L.
  7. Dengan massa jenis cuka sekitar 1,01 g/mL, satu liter cuka bermassa 1010 g, jadi kadarnya 49,8 ÷ 1010 = 4,9 persen.

Angka 4,9 persen itu masuk akal karena label cuka dapur umumnya menyebut sekitar 5 persen. Momen mencocokkan hasil hitunganmu dengan label botol adalah cara paling cepat menangkap kesalahan faktor sepuluh di langkah pengenceran.

Kapan data pengulangan ketiga boleh dibuang?

Jawaban pendeknya: kalau kamu tahu penyebabnya, dan kamu menuliskannya.

Alasan yang sah untuk membuang satu data titrasi.

  1. Ada gelembung udara di ujung buret saat pembacaan awal atau akhir.
  2. Titik akhir terlewat, warnanya langsung merah tua, bukan merah muda samar.
  3. Pembacaan skala buret salah baca atau tercatat salah, dan kamu menyadarinya saat itu.
  4. Ada tetesan yang menempel di dinding erlenmeyer dan tidak terbilas masuk.

Alasan yang tidak sah: data itu membuat hasilmu menjauh dari nilai di label atau nilai di modul. Membuang data karena hasilnya tidak enak dilihat adalah memalsukan data, meskipun niatnya cuma ingin tabelnya rapi.

Kalau tidak ada penyebab yang teridentifikasi, uji statistiknya hampir selalu menolak pembuangan. Uji Q Dixon memakai

Q = selisih data tersangka dengan data terdekat, dibagi rentang seluruh data

lalu dibandingkan dengan nilai kritis.

nQ kritis (95 persen)
30,970
40,829
50,710

Dengan tiga data saja, nilai kritisnya 0,970, dan nilai itu hampir tidak mungkin terlampaui kecuali satu datamu benar-benar ekstrem. Artinya pada n sama dengan tiga, jalan keluar yang benar bukan membuang data, melainkan menambah pengulangan sampai lima kali. Banyak modul juga memasang syarat praktis sendiri, misalnya selisih antar pengulangan tidak boleh lebih dari 0,05 mL, dan kalau lebih maka titrasinya diulang, bukan dipilih.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Lupa membagi faktor ekuivalen saat mengubah normalitas ke molaritas, atau justru mengalikannya.
  2. Menganggap asam asetat punya a sama dengan 4 karena ada empat hidrogen di rumusnya.
  3. Memakai 0,1 N di label NaOH tanpa standardisasi.
  4. Faktor pengenceran tidak dikembalikan, sehingga hasilnya sepuluh kali lebih kecil.
  5. Membaca buret dari sudut atas. Mata harus sejajar permukaan, dan patokannya bagian bawah meniskus.
  6. Menerima merah muda pertama yang langsung hilang saat digoyang sebagai titik akhir. Yang dihitung adalah warna yang bertahan.
  7. Buret tidak dibilas dengan larutan titran lebih dulu, jadi air sisa pencucian mengencerkan titran di dalamnya.
  8. Angka berarti hasil akhir ditulis lima desimal mengikuti kalkulator. Dasar pembulatannya diturunkan dari ketidakpastian, seperti dibahas di cara menghitung ketidakpastian praktikum.

FAQ

Kenapa masih diajarkan normalitas kalau jurnal modern pakai molaritas?

Karena untuk titrasi, normalitas memotong satu langkah. Kamu tidak perlu menyeimbangkan reaksi, cukup N₁V₁ = N₂V₂. Begitu masuk kinetika atau kesetimbangan, normalitas ditinggalkan karena konsepnya bergantung pada reaksi, bukan pada zatnya.

Kalau indikatornya salah, hasilnya bergeser berapa?

Bisa sampai setengah atau dua kali lipat untuk asam poliprotik, karena yang bergeser adalah titik akhir yang terbaca sekaligus faktor ekuivalennya. Untuk titrasi asam kuat dengan basa kuat, pengaruhnya kecil karena lonjakan pH di sekitar titik ekuivalen sangat tajam.

Volume titranku beda 0,5 mL antar pengulangan. Wajar?

Tidak. Selisih sebesar itu menandakan titik akhirnya tidak konsisten, biasanya karena penambahan titran terlalu cepat di akhir atau ada gelembung di buret. Ulangi, dan di dekat titik akhir turunkan menjadi setengah tetes sambil dinding erlenmeyer dibilas air suling.

Perlu menghitung ralat untuk hasil titrasi?

Kalau modulnya meminta, gabungkan ralat pembacaan buret dan ralat pipet dengan aturan di propagasi ralat. Biasanya pembacaan buret yang paling dominan karena dibaca dua kali, awal dan akhir.

Apa itu titrasi blanko dan kapan diperlukan?

Titrasi blanko dikerjakan pada pelarut tanpa sampel, untuk mengukur berapa titran yang habis hanya untuk mengubah warna indikator. Volumenya lalu dikurangkan dari hasil titrasi sampel, dan ini berarti pada sampel berkadar sangat rendah.

Normalitas dan molaritas sama persis kapan?

Kalau faktor ekuivalennya satu, seperti HCl, NaOH, KOH, dan asam asetat. Untuk zat ini kamu boleh memakai angkanya langsung tanpa konversi, dan itu justru alasan kebiasaan menyamakan keduanya terbawa ke zat diprotik.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?

Gabung gratis di Pintarly. Ubah catatan kuliahmu jadi rangkuman, flashcards, dan kuis otomatis, plus AI tutor yang siap bantu kapan aja butuh.