Kuliah

PDB Riil, PDB Nominal, dan Deflator: Menghitung Pertumbuhan

Contoh soal PDB riil dan nominal dua barang tiga tahun: hitung deflator, pertumbuhan ekonomi riil, inflasi, dan dampak mengganti tahun dasar.

Oleh Diterbitkan 5 Nov 2026 8 menit baca
Di halaman ini

PDB nominal dihitung dengan harga tahun berjalan, sedangkan PDB riil dihitung dengan harga tahun dasar, sehingga hanya PDB riil yang mengukur kenaikan jumlah barang dan jasa. Pertumbuhan ekonomi diukur dari PDB riil. Rasio keduanya, dikali 100, adalah deflator PDB, dan perubahan deflator dari tahun ke tahun adalah inflasi versi deflator. Contoh soal di bawah memakai dua barang dan tiga tahun, dikerjakan sampai semua angka keluar.

Data contoh soal PDB riil dan nominal

Sebuah perekonomian rekaan hanya memproduksi beras dan kopi. Harga dalam ribu rupiah per kilogram, jumlah dalam kilogram. Tahun 1 dipakai sebagai tahun dasar.

TahunHarga berasJumlah berasHarga kopiJumlah kopi
1101002050
2121042155
3131102554

Soal ujian hampir selalu memakai bentuk tabel seperti ini. Pertanyaannya biasanya berurutan: hitung PDB nominal, PDB riil, deflator, lalu pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Kerjakan dengan urutan yang sama, karena tiap langkah memakai hasil langkah sebelumnya.

Cara menghitung PDB nominal dan PDB riil

Mulai dari PDB nominal. Nilainya adalah jumlah harga tahun itu dikali jumlah tahun itu:

PDBnominal,t=∑Pt×QtPDB_{nominal,t} = \sum P_t \times Q_t
  • Tahun 1: 10×100+20×50=1.000+1.000=2.00010 \times 100 + 20 \times 50 = 1.000 + 1.000 = 2.000
  • Tahun 2: 12×104+21×55=1.248+1.155=2.40312 \times 104 + 21 \times 55 = 1.248 + 1.155 = 2.403
  • Tahun 3: 13×110+25×54=1.430+1.350=2.78013 \times 110 + 25 \times 54 = 1.430 + 1.350 = 2.780

Dari 2.000 ke 2.780, PDB nominal naik 39 persen dalam dua tahun. Angka ini terlihat mengesankan, tetapi sebagian besar kenaikannya datang dari harga, bukan dari produksi.

Lalu PDB riil. PDB riil memakai jumlah tahun berjalan, tetapi harganya dikunci di tahun dasar:

PDBriil,t=∑Pdasar×QtPDB_{riil,t} = \sum P_{dasar} \times Q_t
  • Tahun 1: 10×100+20×50=2.00010 \times 100 + 20 \times 50 = 2.000
  • Tahun 2: 10×104+20×55=1.040+1.100=2.14010 \times 104 + 20 \times 55 = 1.040 + 1.100 = 2.140
  • Tahun 3: 10×110+20×54=1.100+1.080=2.18010 \times 110 + 20 \times 54 = 1.100 + 1.080 = 2.180

Di tahun dasar, PDB riil selalu sama dengan PDB nominal. Kalau hitunganmu menghasilkan angka berbeda di tahun dasar, ada yang salah ketik.

Grafik batang PDB nominal dan PDB riil tiga tahun: nominal 2.000, 2.403, 2.780; riil 2.000, 2.140, 2.180 dalam ribu rupiah

Jarak antara batang oranye dan biru melebar setiap tahun. Jarak itulah porsi kenaikan yang hanya berasal dari harga.

Menghitung deflator PDB

Deflatort=PDBnominal,tPDBriil,t×100\text{Deflator}_t = \frac{PDB_{nominal,t}}{PDB_{riil,t}} \times 100
TahunPDB nominalPDB riilDeflator
12.0002.000100
22.4032.140112,29
32.7802.180127,52

Deflator 127,52 di tahun 3 artinya tingkat harga rata-rata barang yang diproduksi sudah 27,52 persen di atas tahun dasar. Rumus yang sama bisa dibalik: kalau soal memberi PDB nominal dan deflator, PDB riil didapat dari PDBnominal/Deflator×100PDB_{nominal} / \text{Deflator} \times 100. Misalnya PDB nominal 2.780 dengan deflator 127,52 memberi 2.780/127,52×100≈2.1802.780 / 127{,}52 \times 100 \approx 2.180.

Menghitung pertumbuhan ekonomi riil dan inflasi versi deflator

Pertumbuhan ekonomi memakai PDB riil:

gt=PDBriil,t−PDBriil,t−1PDBriil,t−1×100%g_t = \frac{PDB_{riil,t} - PDB_{riil,t-1}}{PDB_{riil,t-1}} \times 100\%

Inflasi versi deflator memakai rumus yang sama, hanya isinya deflator. Berikut semua hasilnya dalam satu tabel:

UkuranTahun 1 ke 2Tahun 2 ke 3
Pertumbuhan PDB nominal20,15%15,69%
Pertumbuhan PDB riil (pertumbuhan ekonomi)7,00%1,87%
Inflasi versi deflator12,29%13,57%

Langkah tahun 2 ke 3 sebagai contoh lengkap:

g3=2.180−2.1402.140×100%=1,87%g_3 = \frac{2.180 - 2.140}{2.140} \times 100\% = 1{,}87\% π3=127,52−112,29112,29×100%=13,57%\pi_3 = \frac{127{,}52 - 112{,}29}{112{,}29} \times 100\% = 13{,}57\%

Ada cara memeriksa bahwa tiga angka tadi konsisten. Satu ditambah pertumbuhan nominal sama dengan hasil kali satu ditambah pertumbuhan riil dan satu ditambah inflasi: 1,07×1,1229=1,20151{,}07 \times 1{,}1229 = 1{,}2015, cocok dengan 20,15 persen. Untuk tahun 3, 1,0187×1,1357≈1,15691{,}0187 \times 1{,}1357 \approx 1{,}1569, cocok dengan 15,69 persen. Penjumlahan biasa (7 + 12,29 = 19,29) hanya pendekatan, dan selisihnya makin besar kalau inflasinya tinggi.

Kenapa pertumbuhan nominal menyesatkan?

Lihat baris tahun 2 ke 3. PDB nominal masih naik 15,69 persen, kesannya ekonomi tetap melaju. Padahal produksi riil hanya naik 1,87 persen. Hampir seluruh kenaikan nominal tahun itu adalah harga kopi yang melonjak dari 21 ke 25 dan harga beras dari 12 ke 13, sementara jumlah kopi yang diproduksi malah turun dari 55 ke 54 kilogram.

Orang tidak bisa makan kenaikan harga. Kalau gajimu naik 15 persen sementara harga naik 13,57 persen, daya belimu hanya bertambah sedikit. Logika yang sama berlaku untuk satu negara: kesejahteraan bergantung pada jumlah barang dan jasa, bukan pada nilai rupiahnya. Itu sebabnya angka pertumbuhan ekonomi yang diumumkan pemerintah selalu memakai harga konstan.

Kenapa ganti tahun dasar mengubah angka pertumbuhan?

Coba hitung ulang PDB riil dengan harga tahun 2 sebagai dasar (beras 12, kopi 21):

  • Tahun 1: 12×100+21×50=2.25012 \times 100 + 21 \times 50 = 2.250
  • Tahun 2: 12×104+21×55=2.40312 \times 104 + 21 \times 55 = 2.403
  • Tahun 3: 12×110+21×54=2.45412 \times 110 + 21 \times 54 = 2.454

Pertumbuhan riil berubah menjadi 6,80 persen (tahun 1 ke 2) dan 2,12 persen (tahun 2 ke 3), padahal jumlah beras dan kopi yang diproduksi tidak berubah sedikit pun.

Penyebabnya bobot. Harga tahun dasar berfungsi sebagai bobot tiap barang. Dengan harga tahun 1, satu kilogram kopi bernilai dua kali satu kilogram beras (20 banding 10). Dengan harga tahun 2, perbandingannya tinggal 1,75 (21 banding 12), jadi beras mendapat bobot relatif lebih besar. Dari tahun 2 ke 3, beras tumbuh 5,8 persen dan kopi turun 1,8 persen. Bobot beras yang lebih besar membuat pertumbuhan tahun itu naik dari 1,87 menjadi 2,12 persen.

Inilah alasan lembaga statistik memperbarui tahun dasar secara berkala. Harga relatif berubah, struktur ekonomi bergeser, dan bobot lama pelan-pelan tidak lagi mewakili. Sebagian negara bahkan memakai indeks berantai yang bobotnya diperbarui setiap tahun. Untuk tugas kuliah, pakai tahun dasar yang ditentukan soal dan jangan menggantinya di tengah jalan.

Deflator PDB berbeda dari indeks harga konsumen

Deflator dan indeks harga konsumen (IHK) sama-sama mengukur harga, tetapi isinya berbeda. Buktinya bisa dilihat dari data yang sama. Kalau keranjang tahun 1 (100 kg beras dan 50 kg kopi) dihargai ulang setiap tahun, indeks yang didapat 100, 112,5, dan 127,5. Deflator menghasilkan 100, 112,29, dan 127,52. Selisihnya muncul karena IHK memakai keranjang tetap, sedangkan deflator memakai jumlah produksi tahun berjalan.

Bedanya di dunia nyata lebih besar lagi:

  1. Deflator mencakup semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri, termasuk mesin pabrik dan belanja pemerintah. IHK hanya mencakup barang yang dibeli rumah tangga.
  2. Barang impor tidak masuk deflator karena tidak diproduksi di dalam negeri, tetapi ikut masuk IHK kalau dikonsumsi rumah tangga.
  3. Keranjang IHK tetap selama periode tertentu, sedangkan komposisi deflator ikut berubah setiap tahun.

Karena itu, angka inflasi yang biasa diumumkan setiap bulan dan dipakai untuk menilai biaya hidup adalah inflasi IHK, bukan inflasi deflator.

Kesalahan yang sering terjadi

  1. Memakai harga tahun berjalan untuk PDB riil. Hasilnya PDB nominal yang diberi nama lain.
  2. Memakai jumlah tahun dasar, bukan jumlah tahun berjalan, sehingga PDB riil tidak berubah dari tahun ke tahun. Yang dikunci hanya harga.
  3. Menghitung pertumbuhan ekonomi dari PDB nominal. Di soal ini jawabannya meleset dari 1,87 menjadi 15,69 persen.
  4. Membagi terbalik saat menghitung deflator. PDB riil dibagi PDB nominal menghasilkan 78,42 untuk tahun 3, yang akan dibaca seolah harga turun.
  5. Mengambil selisih langsung deflator sebagai inflasi. 127,52 − 112,29 = 15,23 adalah poin indeks, bukan persen. Inflasinya 13,57 persen karena dibagi deflator tahun sebelumnya.
  6. Membulatkan terlalu awal. Kalau deflator dibulatkan menjadi 112 dan 128, inflasi tahun 3 keluar 14,29 persen, padahal jawabannya 13,57.

Angka PDB nominal di contoh ini diperoleh dengan pendekatan pengeluaran sederhana. Untuk soal yang meminta rantai lengkap sampai pendapatan disposabel, lihat menghitung PDB, PNB, sampai pendapatan disposable. Soal lanjutan biasanya membahas bagaimana perubahan investasi atau pajak menggeser PDB riil, dan itu dibahas di angka pengganda investasi, pajak, dan transfer.

FAQ

Kapan PDB riil lebih besar dari PDB nominal?

Saat harga tahun berjalan rata-rata lebih rendah dari harga tahun dasar. Ini terjadi untuk tahun-tahun sebelum tahun dasar dalam ekonomi yang harganya terus naik, atau saat terjadi deflasi. Deflatornya lalu di bawah 100.

Apakah deflator di tahun dasar selalu 100?

Ya. Di tahun dasar, PDB nominal dan PDB riil memakai harga yang sama, jadi rasionya 1 dan deflatornya 100.

Bagaimana menghitung PDB riil kalau soal hanya memberi PDB nominal dan deflator?

Bagi PDB nominal dengan deflator lalu kalikan 100. PDB nominal 2.403 dengan deflator 112,29 memberi PDB riil sekitar 2.140.

Pertumbuhan ekonomi negatif artinya apa?

PDB riil tahun ini lebih kecil dari tahun lalu, artinya jumlah barang dan jasa yang diproduksi turun. PDB nominal bisa saja tetap naik kalau inflasinya cukup tinggi, dan itulah situasi yang paling sering membuat pembaca berita salah tangkap.

Pertumbuhan ekonomi per kapita dihitung bagaimana?

Bagi PDB riil dengan jumlah penduduk tiap tahun, lalu hitung persentase perubahannya. Pendekatan cepatnya: pertumbuhan PDB riil dikurangi pertumbuhan penduduk. Kalau PDB riil tumbuh 5 persen dan penduduk 1 persen, PDB riil per kapita tumbuh sekitar 4 persen.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?