Kuliah

Contoh Kalimat Tidak Efektif di Makalah dan Cara Memperbaikinya

Contoh kalimat tidak efektif di makalah mahasiswa beserta alasan dan perbaikannya: subjek hilang, pleonasme, tidak sejajar, di mana, dan kalimat ambigu.

Oleh Diterbitkan 5 Nov 2026 9 menit baca
Di halaman ini

Kalimat tidak efektif di makalah biasanya gagal karena satu dari lima hal: subjeknya hilang, ada kata yang mubazir, bagian-bagian yang sejajar tidak berbentuk sama, kata penghubungnya salah pilih, atau maknanya bisa dibaca dua cara. Contoh paling umum adalah "Dalam penelitian ini menjelaskan pengaruh harga terhadap minat beli". Kalimat itu tidak punya subjek, dan perbaikannya cukup membuang satu kata: "Penelitian ini menjelaskan pengaruh harga terhadap minat beli."

Semua contoh di bawah diambil dari pola kalimat yang berulang di makalah dan laporan mahasiswa. Setiap contoh diberi alasan kenapa dicoret dosen dan versi perbaikannya.

Apa ciri kalimat efektif?

Kalimat efektif adalah kalimat yang menyampaikan maksud penulis dengan tepat dan bisa dipahami pembaca dalam satu kali baca. Buku ajar Bahasa Indonesia untuk perguruan tinggi umumnya menyebut beberapa syarat yang sama:

  1. Kesepadanan: punya subjek dan predikat yang jelas.
  2. Keparalelan: unsur yang sederajat ditulis dalam bentuk yang sama.
  3. Kehematan: tidak ada kata yang mengulang makna.
  4. Kecermatan: pilihan kata tepat, termasuk kata penghubung, sehingga tidak bisa ditafsirkan ganda.
  5. Kelogisan: isinya masuk akal.

Daftar ini berguna untuk menjawab soal teori. Untuk memperbaiki makalahmu sendiri, lebih cepat menghafal polanya, seperti di bagian-bagian berikut.

Subjek hilang karena kalimat dibuka dengan "dalam", "menurut", atau "bagi"

Kata depan seperti "dalam", "menurut", "bagi", dan "kepada" membuat kata sesudahnya menjadi keterangan, bukan subjek. Kalau setelah itu langsung muncul kata kerja aktif, kalimatnya kehilangan pelaku.

Kalimat tidak efektifMasalahnyaPerbaikan
Dalam penelitian ini menjelaskan pengaruh harga terhadap minat beli.Siapa yang menjelaskan? "Penelitian ini" sudah menjadi keterangan karena didahului "dalam".Penelitian ini menjelaskan pengaruh harga terhadap minat beli.
Menurut para ahli mengatakan bahwa motivasi memengaruhi prestasi."Menurut" dan "mengatakan" punya fungsi yang sama, jadi salah satunya berlebih.Menurut para ahli, motivasi memengaruhi prestasi. Atau: Para ahli mengatakan bahwa motivasi memengaruhi prestasi.
Bagi mahasiswa yang belum mengumpulkan tugas harap menghubungi asisten."Mahasiswa" menjadi keterangan, sehingga tidak ada subjek untuk "harap menghubungi".Mahasiswa yang belum mengumpulkan tugas harap menghubungi asisten.

Bagaimana dengan "Dalam penelitian ini dijelaskan bahwa harga memengaruhi minat beli"? Kalimat pasif ini masih bisa diterima, karena anak kalimat "bahwa harga memengaruhi minat beli" berfungsi sebagai subjek. Tetapi kalimatnya berputar. "Penelitian ini menunjukkan bahwa harga memengaruhi minat beli" lebih langsung dan lebih jelas siapa yang menyatakan apa.

Cara mengecek cepat: tutup kata depan di awal kalimat dengan jari, lalu tanyakan "siapa atau apa yang melakukan kata kerjanya?" Kalau jawabannya ada di bagian yang kamu tutup, kalimatnya bermasalah.

Kata mubazir: "adalah merupakan" dan kawan-kawannya

Pleonasme adalah pemakaian kata yang maknanya sudah terkandung di kata lain dalam kalimat yang sama. Di makalah, pleonasme membuat kalimat terasa panjang tanpa menambah isi.

Tidak efektifEfektifAlasan
Inflasi adalah merupakan kenaikan harga secara umum.Inflasi adalah kenaikan harga secara umum. Atau: Inflasi merupakan kenaikan harga secara umum."Adalah" dan "merupakan" sama-sama penghubung subjek dengan penjelasannya. Pakai salah satu.
Para mahasiswa-mahasiswa wajib hadir.Para mahasiswa wajib hadir."Para" sudah menyatakan jamak, jadi bentuk ulang tidak perlu.
Banyak responden-responden yang menjawab setuju.Banyak responden menjawab setuju."Banyak" sudah menyatakan jamak.
Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi.Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi. Atau: Hal ini terjadi karena kurangnya sosialisasi."Disebabkan" berpasangan dengan "oleh", bukan "karena".
Agar supaya data valid, kuesioner diuji coba.Agar data valid, kuesioner diuji coba."Agar" dan "supaya" bermakna sama.
Karena sampelnya kecil, maka hasilnya tidak dapat digeneralisasi.Karena sampelnya kecil, hasilnya tidak dapat digeneralisasi.Dua kata penghubung untuk satu hubungan sebab-akibat. Pola yang sama: "meskipun ... tetapi", "walaupun ... namun".

Satu pola lagi khas bab penutup: "Berdasarkan hasil daripada penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ...". Kalimat ini memuat tiga masalah sekaligus: "daripada" yang tidak perlu, keterangan "yang telah dilakukan oleh peneliti" yang sudah jelas dari konteks, dan "maka" setelah keterangan. Versi hematnya: "Hasil penelitian menunjukkan bahwa ...".

Rincian tidak sejajar dan kata penghubung yang salah tempat

Ketidaksejajaran dalam rincian

Unsur yang dirinci dengan koma dan "dan" harus berbentuk sama. Kalau yang pertama kata kerja, yang lain juga kata kerja. Kalau yang pertama kata benda, yang lain juga kata benda.

  1. Tidak efektif: "Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga, menganalisis peran promosi, dan pengujian efek moderasi lokasi." Perbaikan: "Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh harga, menganalisis peran promosi, dan menguji efek moderasi lokasi." Alasan: dua unsur pertama kata kerja berawalan "me-", unsur ketiga kata benda.

  2. Tidak efektif: "Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan menyebarkan kuesioner." Perbaikan: "Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan penyebaran kuesioner."

  3. Tidak efektif: "Responden terdiri atas baik laki-laki ataupun perempuan." Perbaikan: "Responden terdiri atas laki-laki dan perempuan." Kalau ingin memakai pasangan, tulis "baik laki-laki maupun perempuan". Pasangan "baik" adalah "maupun".

Pasangan kata penghubung lain yang sering tertukar: "bukan ... melainkan" dan "tidak ... tetapi". Contohnya, "Masalahnya bukan pada sampel, melainkan pada instrumen", dan "Hasilnya tidak signifikan, tetapi arahnya sesuai hipotesis."

Ketidaksejajaran paling sering muncul di rumusan masalah dan tujuan penelitian, karena keduanya berupa rincian. Kalau sedang menyusun bagian itu, baca juga rumusan masalah makalah yang terjawab.

"Di mana", "yang mana", dan "daripada"

Kata "di mana" adalah kata tanya tempat. Banyak mahasiswa memakainya sebagai penghubung karena terbawa kata "where" dan "which" dalam bahasa Inggris.

Tidak efektifPerbaikan
Penelitian dilakukan di SMA X, di mana jumlah siswanya 300 orang.Penelitian dilakukan di SMA X, yang jumlah siswanya 300 orang.
Persamaan regresinya Y=a+bXY = a + bX, di mana YY adalah minat beli.Persamaan regresinya Y=a+bXY = a + bX, dengan YY adalah minat beli.
Metode ini memiliki kelemahan, yang mana datanya mudah bias.Metode ini memiliki kelemahan, yaitu datanya mudah bias.
Tujuan daripada penelitian ini adalah ...Tujuan penelitian ini adalah ...

"Daripada" hanya dipakai untuk membandingkan, seperti "Sampel kedua lebih besar daripada sampel pertama." Di luar perbandingan, kata itu cukup dihapus.

Kata penghubung yang membuka kalimat, seperti "sehingga" dan "sedangkan", punya masalah tersendiri dan dibahas di sehingga dan sedangkan di awal kalimat.

Kalimat ambigu: bisa dibaca dua cara

Kalimat ambigu secara struktural tidak salah ejaan maupun tata bahasa. Masalahnya, pembaca tidak tahu kata keterangan menempel ke kata yang mana.

  1. "Peneliti mewawancarai guru dan siswa yang mengikuti program literasi." Apakah guru juga ikut program, atau hanya siswa? Kalau hanya siswa: "Peneliti mewawancarai para guru, serta siswa yang mengikuti program literasi." Kalau keduanya: "Peneliti mewawancarai guru dan siswa yang sama-sama mengikuti program literasi."

  2. "Analisis kinerja karyawan bank swasta yang baru." Yang baru karyawannya atau banknya? Pilih salah satu: "Analisis kinerja karyawan baru di bank swasta" atau "Analisis kinerja karyawan di bank swasta yang baru berdiri."

  3. "Mahasiswa semester akhir yang tidak lulus sebanyak 12 orang." Angka 12 bisa berarti jumlah mahasiswa semester akhir, atau jumlah yang tidak lulus. Perbaikan: "Sebanyak 12 mahasiswa semester akhir tidak lulus."

Ambiguitas seperti ini paling berbahaya di judul dan rumusan masalah, karena seluruh isi makalah bergantung pada tafsiran pembaca.

Kesalahan yang sering terjadi saat memperbaiki kalimat

  1. Memotong kalimat panjang secara asal. Kalimat panjang belum tentu tidak efektif. Yang perlu dicek adalah subjek, predikat, dan kata mubazirnya, bukan jumlah katanya.
  2. Mengganti "di mana" dengan "dimana". Masalahnya bukan spasi, melainkan fungsi katanya.
  3. Menghapus "bahwa" di semua tempat. "Hasil uji menunjukkan bahwa ..." tetap benar. Yang mubazir adalah "bahwa" ganda atau "bahwa" setelah "menurut".
  4. Membuang subjek supaya terdengar ilmiah, misalnya mengubah "Peneliti menyebarkan kuesioner" menjadi "Dalam penyebaran kuesioner dilakukan". Kalimat pasif boleh, asal subjeknya tetap ada: "Kuesioner disebarkan kepada 100 responden."
  5. Memakai kalimat hasil parafrase dari mesin penerjemah tanpa dibaca ulang. Pola "di mana" dan "yang mana" sering muncul dari sana. Panduan menulis ulang kalimat sumber ada di cara parafrase yang benar.

Latihan gaya UTS: perbaiki kalimat berikut

Soal Bahasa Indonesia di semester awal sering memberi kalimat lalu meminta jenis kesalahannya dan perbaikannya. Kerjakan dulu sebelum melihat jawaban.

  1. Dalam bab ini membahas teori motivasi.
  2. Kepuasan pelanggan adalah merupakan tujuan utama perusahaan.
  3. Mahasiswa diminta membaca jurnal, merangkum isinya, dan presentasi di depan kelas.
  4. Sampel diambil dari kelas XI, di mana terdapat 32 siswa.
  5. Walaupun hasilnya tidak signifikan, namun arah hubungannya positif.
  6. Buku sejarah baru itu dipakai sebagai referensi utama.

Kunci jawaban:

  1. Subjek hilang. Perbaikan: "Bab ini membahas teori motivasi."
  2. Pleonasme. Perbaikan: "Kepuasan pelanggan merupakan tujuan utama perusahaan."
  3. Tidak sejajar. Perbaikan: "... membaca jurnal, merangkum isinya, dan mempresentasikannya di depan kelas."
  4. Penghubung salah. Perbaikan: "Sampel diambil dari kelas XI, yang terdiri atas 32 siswa."
  5. Konjungsi ganda. Perbaikan: "Walaupun hasilnya tidak signifikan, arah hubungannya positif."
  6. Ambigu, karena yang baru bisa bukunya atau sejarahnya. Perbaikan: "Buku baru tentang sejarah itu dipakai sebagai referensi utama", atau "Buku tentang sejarah baru itu dipakai sebagai referensi utama", sesuai maksudnya.

FAQ

Apakah kalimat pasif termasuk tidak efektif?

Tidak. Kalimat pasif sangat umum di karya ilmiah, misalnya "Data dianalisis dengan regresi linear berganda." Kalimat pasif menjadi tidak efektif kalau subjeknya hilang atau kalau pelakunya justru penting untuk disebutkan.

Bolehkah memakai "kami" atau "saya" di makalah?

Ini lebih ditentukan oleh pedoman dosen atau program studi daripada oleh aturan kalimat efektif. Banyak pedoman meminta penulis menyebut diri sebagai "penulis" atau "peneliti", atau memakai kalimat pasif. Cek pedoman tugasmu.

Apakah "merupakan" sama dengan "adalah"?

Dalam kalimat definisi, keduanya bisa saling menggantikan, tapi tidak boleh dipakai bersamaan. Memakai keduanya bergantian di paragraf yang berbeda justru membantu supaya tulisan tidak monoton.

Kalimat efektif harus pendek?

Tidak harus. Kalimat 30 kata bisa efektif kalau subjek dan predikatnya jelas. Variasi panjang kalimat justru membuat makalah lebih enak dibaca.

Bagaimana dengan kesalahan ejaan seperti "di" dan "ke"?

Itu masalah ejaan, bukan struktur kalimat, tapi sama-sama mengurangi nilai. Daftar kesalahan ejaan yang paling sering ada di kesalahan ejaan EYD V di makalah.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?