Kuliah

Kesalahan Ejaan EYD V yang Paling Sering Dicoret Dosen di Makalah

Kesalahan ejaan EYD V yang paling sering di makalah: kapital jabatan, di- dan di, partikel pun, kata ulang, dan koma, dibedah dari satu paragraf contoh.

Oleh Diterbitkan 5 Nov 2026 9 menit baca
Di halaman ini

Kesalahan ejaan EYD V yang paling sering dicoret dosen di makalah hanya ada beberapa jenis, dan semuanya berulang: huruf kapital pada jabatan dan nama bahasa, "di" yang tertukar antara awalan dan kata depan, partikel "pun", bentuk terikat seperti "antar" dan "non", kata ulang, serta koma di sekitar konjungsi. Cara paling cepat membereskannya adalah swasunting dengan urutan tetap, bukan membaca ulang sambil berharap kesalahannya kelihatan sendiri. Di bawah ini ada satu paragraf makalah yang sengaja dibuat penuh kesalahan, lalu dibedah satu per satu memakai kaidah resmi.

Rujukan semua kaidah di artikel ini adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V, yang ditetapkan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pada 2022 sebagai pemutakhiran PUEBI. Versi daringnya bisa dibuka di ejaan.kemendikdasmen.go.id.

Seperti apa paragraf makalah yang penuh kesalahan ejaan?

Baca paragraf ini dan coba tandai sendiri dulu sebelum lanjut. Ada enam belas titik yang bermasalah.

Dalam mata kuliah bahasa inggris, dosen kami Pak Budi menugaskan setiap mahasiswa untuk menganalisa jurnal. Pada makalah ini penulis membahas sistim belajar mahasiswa di kampus, sedangkan di Fakultas lain sistem itu belum di terapkan. Selain itu, rektor universitas Indonesia sudah meminta semua dekan untuk bekerjasama dengan mahasiswa dimana pun berada. Walau pun begitu kami tetap menemukan masalah2 yang belum di pertanggung jawabkan. Apa-pun hasilnya, mahasiswa harus belajar terus menerus dan antar mahasiswa perlu saling membantu.

Paragrafnya rekaan, tetapi setiap kesalahannya adalah jenis yang lazim ditemui di makalah mahasiswa, dan beberapa masih bertahan sampai draf skripsi.

Bagaimana aturan huruf kapital untuk jabatan dan nama bahasa?

Huruf kapital pada jabatan bergantung pada apa yang mengikutinya. EYD V menulis bahwa unsur nama jabatan dan pangkat diberi huruf kapital kalau diikuti nama orang, atau dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh resminya antara lain "Wakil Presiden Adam Malik" dan "Gubernur Papua Barat".

Jadi di paragraf tadi:

  • "rektor universitas Indonesia" harus menjadi Rektor Universitas Indonesia, karena jabatannya diikuti nama instansi, dan nama instansi sendiri ditulis kapital di setiap katanya.
  • "semua dekan" sudah benar dengan huruf kecil. Kata "dekan" di situ tidak diikuti nama orang atau instansi, jadi tidak ada alasan untuk kapital.
  • "di Fakultas lain" salah. "Fakultas" di sini bukan nama lembaga, hanya kata biasa, jadi ditulis "fakultas".

Untuk nama bahasa, kaidahnya tegas: kata "bahasa" ditulis kecil, nama bahasanya kapital. Contoh resmi EYD V adalah "bahasa Tolaki". Maka "bahasa inggris" menjadi "bahasa Inggris".

Bagaimana dengan nama mata kuliah? EYD V tidak memuat kaidah khusus untuk nama mata kuliah. Yang pasti berlaku hanya unsur nama bahasanya, jadi "Inggris" selalu kapital. Apakah "Bahasa" di awal nama mata kuliah ikut kapital, ikuti pedoman penulisan fakultasmu, lalu pakai bentuk yang sama di seluruh makalah. Yang paling sering dicoret dosen justru ketidakkonsistenannya, misalnya halaman 2 menulis "Statistika Dasar" dan halaman 5 menulis "statistika dasar".

Kapan "di" dan "pun" ditulis menyambung, kapan dipisah?

"Di" punya dua identitas. Sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif, ia ditulis serangkai: dijual, ditulis, diterapkan. Sebagai kata depan yang menunjukkan tempat, ia ditulis terpisah: di kampus, di dalam lemari, di mana.

Tes cepatnya: coba ganti "di" dengan "ke" atau "dari". Kalau kalimatnya masih masuk akal ("ke kampus", "dari kampus"), berarti itu kata depan dan harus dipisah. Kalau kata itu punya pasangan aktif berawalan me- (diterapkan dan menerapkan), berarti itu awalan dan harus disambung.

Dari paragraf contoh:

  1. "di terapkan" menjadi "diterapkan".
  2. "dimana pun" menjadi "di mana pun".
  3. "di pertanggung jawabkan" menjadi "dipertanggungjawabkan" (alasannya di bagian gabungan kata di bawah).

Kesalahan sebaliknya juga sering muncul: "diatas", "dirumah", "diantara". Semuanya kata depan, jadi ditulis "di atas", "di rumah", "di antara".

Untuk partikel "pun", aturan dasarnya juga dipisah: apa pun, siapa pun, sekali pun (dalam arti "satu kali pun"). Pengecualiannya adalah "pun" yang sudah menjadi bagian kata penghubung. EYD V mendaftar bentuk yang ditulis serangkai: adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, jikapun, kalaupun, kendatipun, maupun, meskipun, sekalipun, sementangpun, sungguhpun, walaupun.

Di paragraf contoh ada dua kesalahan sekaligus:

  • "Walau pun" menjadi "Walaupun", karena masuk daftar kata penghubung.
  • "Apa-pun" menjadi "Apa pun". Tanda hubung di sini tidak punya dasar sama sekali.

Satu jebakan: "sekalipun" dan "sekali pun" sama-sama benar, tetapi maknanya beda. "Sekalipun lelah, ia tetap datang" memakai kata penghubung. "Ia belum pernah datang sekali pun" berarti "satu kali saja belum". EYD V memakai keduanya dalam satu contoh: "Sekalipun teman dekat, dia belum pernah sekali pun datang ke rumahku."

Kapan memakai tanda hubung, dan kapan gabungan kata disambung?

Bentuk terikat seperti antar-, pasca-, multi-, dan non- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya: antarmahasiswa, pascasarjana, multidisiplin, nonformal. Tanda hubung baru dipakai kalau kata berikutnya diawali huruf kapital atau berupa singkatan, misalnya non-Indonesia dan pasca-Orba. Maka "antar mahasiswa" di paragraf contoh menjadi "antarmahasiswa".

Kata ulang selalu memakai tanda hubung di antara unsurnya: masalah-masalah, terus-menerus, langkah-langkah. Angka 2 sebagai pengganti pengulangan ("masalah2") tidak dikenal dalam ejaan baku, begitu juga "terus menerus" tanpa tanda hubung. Untuk gabungan kata yang diulang, cukup ulang unsur pertamanya: rak-rak buku, bukan rak buku-rak buku.

Gabungan kata pada dasarnya ditulis terpisah: kerja sama, tanggung jawab, rumah sakit, orang tua. Yang membuat bingung adalah ketika gabungan kata itu diberi imbuhan. EYD V membedakan dua keadaan:

Imbuhan yang melekatCara menulisContoh
Tanpa imbuhanTerpisahkerja sama, tanggung jawab
Hanya awalanTerpisahbekerja sama, bertanggung jawab
Hanya akhiranTerpisahgaris bawahi, sebar luaskan
Awalan dan akhiran sekaligusSerangkaidipertanggungjawabkan, menyebarluaskan

Dengan tabel ini, "bekerjasama" di paragraf contoh menjadi "bekerja sama" (hanya awalan), sedangkan "di pertanggung jawabkan" menjadi "dipertanggungjawabkan" (awalan di-, per-, dan akhiran -kan sekaligus). Ada juga gabungan yang memang sudah padu dan selalu serangkai, seperti bagaimana, daripada, dan matahari.

Di mana koma wajib dan di mana justru salah?

Tiga kaidah koma yang paling sering terlewat di makalah:

  1. Koma dipakai sebelum "tetapi", "melainkan", dan "sedangkan" dalam kalimat majemuk pertentangan. Paragraf contoh sudah benar di bagian ", sedangkan di fakultas lain".
  2. Koma dipakai setelah ungkapan penghubung antarkalimat seperti "oleh karena itu", "jadi", "dengan demikian", dan "meskipun demikian". Maka "Walaupun begitu kami" menjadi "Walaupun begitu, kami".
  3. Koma mengapit keterangan tambahan atau aposisi. "dosen kami Pak Budi menugaskan" menjadi "dosen kami, Pak Budi, menugaskan".

Satu lagi yang sering terbalik: anak kalimat di depan dipisahkan dengan koma ("Kalau diundang, saya akan datang"), tetapi kalau induk kalimat di depan, komanya hilang ("Saya akan datang kalau diundang"). Soal konjungsi yang tidak boleh membuka kalimat, ada pembahasan terpisah di sehingga dan sedangkan di awal kalimat.

Seperti apa paragraf yang sudah dibetulkan?

Tambahkan juga dua kata tidak baku yang lolos dari pembahasan di atas: "menganalisa" menjadi "menganalisis", dan "sistim" menjadi "sistem". Hasil akhirnya:

Dalam mata kuliah Bahasa Inggris, dosen kami, Pak Budi, menugaskan setiap mahasiswa untuk menganalisis jurnal. Pada makalah ini penulis membahas sistem belajar mahasiswa di kampus, sedangkan di fakultas lain sistem itu belum diterapkan. Selain itu, Rektor Universitas Indonesia sudah meminta semua dekan untuk bekerja sama dengan mahasiswa di mana pun berada. Walaupun begitu, kami tetap menemukan masalah-masalah yang belum dipertanggungjawabkan. Apa pun hasilnya, mahasiswa harus belajar terus-menerus dan antarmahasiswa perlu saling membantu.

Paragraf ini masih bisa diperbaiki dari sisi gaya (misalnya "masalah-masalah" bisa cukup "berbagai masalah"), tetapi itu urusan kalimat efektif, bukan ejaan. Untuk bagian itu, lihat contoh kalimat tidak efektif di makalah.

Untuk makalahmu sendiri, membaca ulang dari atas ke bawah jarang menangkap semua kesalahan, karena mata cenderung membaca apa yang dimaksud, bukan apa yang tertulis. Lebih efektif mencari satu jenis kesalahan sekaligus memakai Ctrl+F:

  1. Cari "di" diikuti spasi, lalu cek setiap hasil dengan tes "ke/dari".
  2. Cari "dimana", "kemana", "diantara", "diatas". Hampir semuanya salah.
  3. Cari "pun" dan cocokkan dengan daftar kata penghubung serangkai.
  4. Cari "antar ", "non ", "pasca ", "multi " (dengan spasi di belakang). Semuanya harus serangkai kecuali sebelum huruf kapital.
  5. Cari angka "2" yang menempel pada huruf, sisa kebiasaan mengetik di chat.
  6. Cari "sedangkan", "tetapi", "oleh karena itu", lalu cek komanya.
  7. Terakhir, baca semua kata berhuruf kapital di tengah kalimat dan tanyakan: ini nama diri, atau hanya kata biasa?

Penulisan angka juga punya kaidah sendiri yang sering dicoret, terutama angka di awal kalimat dan koma desimal. Bahasannya ada di aturan penulisan angka di karya ilmiah. Kalau format halamannya juga belum beres, cek format margin, spasi, dan font makalah.

Kesalahan yang sering terjadi saat memperbaiki ejaan

Perbaikan ejaan sering melahirkan kesalahan baru karena terlalu bersemangat.

  • Kapital berlebihan. Kata seperti Mahasiswa, Dosen, Penulis, dan Peneliti ditulis kapital di tengah kalimat supaya terlihat penting. Itu tidak ada dasarnya. Kata-kata ini hanya kapital di awal kalimat atau sebagai bagian judul.
  • Memisah semua "pun". Setelah tahu "apa pun" dipisah, sebagian orang ikut menulis "walau pun" dan "meski pun". Kata penghubung dalam daftar tadi tetap serangkai.
  • Menyambung semua bentuk terikat. "Nonformal" benar, tetapi "nonIndonesia" salah. Sebelum huruf kapital, tanda hubung wajib.
  • Menganggap "bertanggungjawab" benar karena "pertanggungjawaban" serangkai. Yang menentukan adalah jumlah imbuhan. Awalan saja tidak cukup untuk menyambung.
  • Mengandalkan pemeriksa ejaan Word. Pemeriksa ejaan bekerja per kata, jadi kesalahan yang bergantung pada konteks tidak tertangkap, misalnya "di" sebagai awalan atau kata depan, dan koma sebelum "sedangkan".

FAQ

Apa beda EYD V dengan PUEBI?

EYD V adalah pemutakhiran PUEBI. Badan Bahasa menambah beberapa kaidah baru dan mengubah sebagian kaidah lama. Kesalahan dasar yang dibahas di artikel ini (kapital jabatan, kata depan, partikel, kata ulang) sudah diatur sejak sebelum EYD V, jadi kebiasaan yang benar di PUEBI tetap benar sekarang.

Apakah "Bapak" dan "Ibu" ditulis kapital di makalah?

Ditulis kapital kalau dipakai sebagai sapaan atau pengacuan langsung, misalnya dalam kata pengantar: "Terima kasih kepada Bapak yang telah membimbing". Kalau diikuti kata kepemilikan, misalnya "menghormati bapak dan ibu kita", ditulis kecil.

Judul makalah ditulis kapital semua atau tiap kata?

Kaidah EYD V untuk judul karya adalah setiap kata diawali huruf kapital, kecuali kata tugas (di, ke, dari, dan, yang, untuk) yang tidak berada di awal. Contoh resminya "Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata". Kalau pedoman kampusmu meminta judul sampul kapital semua, ikuti pedoman itu untuk sampul saja.

Apakah "analisa" salah?

Bentuk baku untuk kata bendanya adalah "analisis", dan kata kerjanya "menganalisis". "Analisa" dan "menganalisa" termasuk bentuk tidak baku yang sangat sering dicoret di makalah dan skripsi.

Di mana cara cepat mengecek ejaan yang benar?

Buka laman EYD V di ejaan.kemendikdasmen.go.id untuk kaidah, dan KBBI daring untuk bentuk baku sebuah kata. Biasakan mengecek di sumber resmi, bukan dari unggahan media sosial, karena banyak ringkasan yang masih memakai contoh lama atau keliru.

Apakah dosen benar-benar memotong nilai karena ejaan?

Itu tergantung dosen dan rubrik tugasnya. Yang jelas, ejaan termasuk hal yang paling mudah terlihat oleh pembaca, sehingga makalah yang isinya bagus pun bisa memberi kesan dikerjakan terburu-buru kalau kesalahannya bertebaran.

Artikel Terkait

Siap taklukkan UTS, UAS, dan skripsi?